Felix Tani
Felix Tani profesional

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

KAward for AAA^NhusQ

18 September 2017   14:07 Diperbarui: 18 September 2017   14:08 499 11 9

Jika ada yang menyangka artikel ini olok-olok, atau bullying pada rekan Kompasianer AAN^huzQ, maka dia keliru besar.

Ini artikel serius, tentang golongan "mayoritas pinggiran" yang cenderung dilupakan setiap kali perhelatan Kompasianival.

Tiap kali Kompasianival dihelat, maka energi dipusatkan pada pencarian dan penemuan Kompasianer Terbaik. Terbaik dalam opini, jurnalisme kewargaan, fiksi, dan minat khusus. Ditambah kategori pilihan warga (terpopuler), lifetime, dan Kompasianer of the Year sebagai "best of the best".

Jadi, boleh dibilang, sejatinya Kompasianival itu difokuskan pada pencarian "The Seven Magnificent". Klimaks acaranya ada di pengumuman nama-nama mereka nanti.

Sebenarnya sah-sah dan lazim saja mencari dan menemukan Kompasianer terbaik. Sisi positifnya, ada pengakuan terhadap capaian, dan ada teladan bagus bagi Kompasianer lainnya.  Nilai sosialnya lebih sarat, ketimbang nilai ekonominya, saya kira.

Nilai negatifnya, karena fokus pada "The Seven Magnificent" itu, maka mayoritas Kompasianer "pinggiran" cenderung terlupakan.

Pertanyaannya, setiap kali Kompasianival dihelat, apa bentuk apresiasi Manajemen Kompasiana bagi mayoritas "pinggiran" itu? Mungkin akan dijawab, ya, Kompasianival itu apresiasi manajemen untuk seluruh warga Kompasiana. Betul, tapi tidak spesifik, karena "Tujuh Terbaik" itu termasuk juga di antaranya.

Mungkin lebih mudah dipahami maksudnya jika ditanya, "Apa wujud KAward yang sepantasnya untuk AAA^NhusQ?" Dalam hal ini, AAA^NhusQ mewakili mayoritas Kompasianer yang "setia" terlibat di "pinggiran".  Cirinya, rajin baca, rajin komentar, jarang nulis, dan artikelnya jarang masuk Highlight apa lagi Head Line. Tapi artikelnya bisa nongol di Nilai Tertinggi, karena banyak "penggemar"-nya.

Yang mau dikatakan di sini, Kompasiana ini hidup karena kesetiaan dua kelompok Kompasianer. Pertama, kelompok minoritas  elit "penulis hebat", yang rajin menulis artikel bagus.  Kedua, kelompok mayoritad pinggiran "pembaca hebat", yang tidak rajin menulis tapi sungguh rajin membaca dan berkomentar.

Benar, tanpa kelompok penulis hebat, Kompasiana mungkin tak lebih dari kumpulan blog pribadi yang tak menarik. Tapi juga harus diakui, tanpa kehadiran kelompok mayoritas "pinggiran", pembaca hebat itu, Kompasiana pasti akan sepi. Seperti kuburan, penuh dengan tulisan di nisan, tapi jarang yang datang membacanya.

Maka terpikirlah usulan sedikit "sableng", mengapa kita tidak memberi juga penghargaan KAward bagi para golongan pinggiran "pembaca hebat" itu? Golongan yang setia membaca dan berkomentar itu? Sebab mereka juga punya andil meniupkan nafas hidup pada Kompasiana.

Mekanisme pemilihannya sama saja dengan "The Seven Magnificent". Admin tinggal menentukan kategorinya, misalnya Best Reader dan Best in Commentary, atau apalah. Bisa tanya Kompasianer apa saja kategori yang pantas bagi golongan "pinggiran" ini. Penulis hebat di Kompasiana mungkin bisa membantu bikin kategori, karena kerap mereka terinspirasi oleh para pembaca setia itu.

Sekali lagi, tulisan ini serius, bukan guyonan. Sebab saya masih trenyuh, mengapa dulu Jati Kumoro, Kompasiner yang memberi warna ceria dengan humor habulnya  pada Kompasiana dari "pinggiran", tidak pernah dihargai sedikitpun.  AAA^NhuzQ itu adalah "Jati Kumoro" yang lain, dan masih banyak yang lain.***