Felix Tani
Felix Tani profesional

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Ketika Orang Batak Terlibat USDEK di Solo

8 Agustus 2017   16:55 Diperbarui: 8 Agustus 2017   18:30 275 7 5
Ketika Orang Batak Terlibat USDEK di Solo
Susunan kursi dan meja dalam resepsi USDEK yang saya hadiri (Dokpri)

Tenang, ini bukan soal manifesto politik USDEK-nya Soekarno. Bukan soal UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia yang dicanangkan Soekarno pada 17 Agustus 1959 sebagai haluan negara Republik Indonesia.

Ini cerita tentang yang enak-enak. Tentang cara saji dalam resepsi pernikahan menurut tradisi Solo atau Surakarta. USDEK itu akronim dari urutan proses saji atau resepsi. Mulai dari U(njukan) berupa minuman manis untuk tetamu, biasanya teh manis hangat, dilengkapi kue-kue legit. Dilanjutkan dengan S(up) hangat berisi antara lain potongan sayuran dan daging atau bakso, sebagai penggugah selera.  Lalu D(aharan) atau sajian makanan utama berupa nasi dan lauk-pauknya ditata dalam piring. Ditutup dengan E(s krim) sebagai hidangan penutup atau "cuci mulut". Sebelum diakhiri dengan K(ondur) atau tetamu beranjak pulang sambil menyalami pengantin baru yang berdiri di pintu keluar ruangan resepsi.

Sebagai warga yang besar di Toba, tata-cara USDEK itu sesuatu yang eksotis untuk saya. Sering dengar, tapi belum pernah lihat, apalagi mengalami sendiri. Ditambah sebutan "piring terbang" untuk tata-cara USDEK itu, saya tambah penasaran.

Selain tata-cara prasmanan yang lazim di Jakarta atau Jawa Barat, saya hanya paham tata cara sajian dalam resepsi pernikahan orang Batak di pedesaan tahun 1970-an. Dalam resepsi orang Batak, tetamu duduk di atas tikar di halaman rumah secara berkelompok, satu kelompok 5-6 orang. Dipisahkan antara kelompok perempuan dan anaknya dan kelompok lelaki dewasa.

Dalam tesepsi tradisional, makanan disajikan di atas lembaran daun pisang, yang diletakkan di tengah kelompok tetamu yang duduk melingkar.  Di bagian tengah ada gunungan nasi. Lalu disampingnya ada tumpukan  lauk "saksang" (cincang a'la Batak). Semua itu disajikan oleh "parhobas", semacam "pelayan adat" yang berasal dari keluarga pihak "pengambil isteri". Setelah makanan tersaji semua, dan doa makan didaraskan, maka para tetamu akan berlomba-lomba menyantap makanan yang terhidang di depannya. Semua makan pakai tangan langsung.

Cara makan yang kompetitif  dalam kelompok seperti itu menjadi alasan pemisahan antara lelaki dewasa dan perempuan/anak-anak.  Kalau dicampur, khawatir perempuan dan anak-anak tidak kebagian makanan.  Mengingat   kecepatan telan dan daya raup lelaki dewasa yang lebih unggul. Lelaki dewasa selalu makan lebih cepat dan lebih banyak dibanding perempuan dan anak-anak.

Begitulah ringkasan nostalgia masa kecil di Toba sana.  Sekarang masuk pada pengalaman terlibat USDEK di Solo pada hari Sabtu, 5 Agustus 2017 lalu, malam hari. Ini betul-betul pengalaman baru. Saya sungguh "exciting" mengikutinya.

Bertempat di Wisma Batari Solo, tetamu sudah lengkap hadir sebelum pukul 19.00. Tetamu duduk manis di kursi-kursi yang ditata mengapit  meja-meja. Di atas meja diletakkan gelas-gelas minum, perangkat utama U(njukan).

Tepat pukul 19.00, iring-iringan pengantin bergerak dari ruang belakang gedung ke koridor samping, untuk selanjutnya masuk ke dalam gedung dari pintu depan dan duduk di pelaminan sebagai "raja dan ratu dua jam". Proses itu berjalan khidmad dengan kelambanan yang anggun, tapi membuat kaki saya yang ikut dalam iring-iringan sungguh pegal.

Setelah duduk di kursi, saya sebenarnya sudah tidak sabar menunggu sajian a'la USDEK. Gelas-gelas minum di atas meja sudah terisi penuh.  Tapi masih harus sabar menunggu kata-kata sambutan yang ....blass...aku ra mudheng ... karena semua dalam bahasa Jawa tinggi, krama inggil.

Tiba-tiba dari pintu samping masuk para "sinom" atau "pelayan" menatang tampah berisi piring-piring kecil drngan potongan kue cokelat dan sosis solo di atasnya. Nah, tahap U(njukan) telah dimulai. Teh manis hangat langsung saya sruput, kue cokelat saya gigit, kunyah, dan telan penuh khidmad. Sata tak mau melewatkan kenikmatan Unjukan. Dasarnya perut sudah rada keroncongan pula.

Tak berapa lama, setelah sedikit jeda ngobrol, datanglah sajuan S(op). Memang benar hangat, nikmat di kerongkongan, mengalir ke lambung. Sebenarnya hanya berisi potongan sayur dan bakso. Entah kenapa kok ya...nikmat rasanya. Sekali lagi, karena lapar?

Tandas sop, haha hehe kiri kanan, salaman dan fotoan dengan mempelai, datanglah D(aharan), sajian utama, sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayurannya. Piring dialirkan berantai dari ujung ke ujung kursi. Itu sebabnya, agaknya, sehingga disebut "piring terbang".  Yang mengesankan dari daharan ini adalah  bola-bola daging yang lembut, enak di mulut.  Sebenarnya porsinya sedang, tapi ternyata bikin perut penuh.

Seusai makan besar, ada jeda agak lama, sambil mendengarkan lantunan lagu-lagu dari grup organ tunggal. Nikmat makan dihibur lagu, tapu akan lebih nikmat lagi kalau lagu-lagunya bukan lagu-lagu pop nasional, tapi keroncong atau langgam atau sekurangnya campursarilah. Weh, gratiisan tapi nuntut.

Tiba-tiba para "sinom" datang membawa tampa berisi E(s krim) dan puding dingin. Tiba saatnya makanan penutup, "cuci mulut" dengan "yang dingin-dingin legit".  Memang nikmat di mulut, kerongkongan, sampai lambung. Hawa gerah karena mesin pendingin yang kedodoran serasa terusir.

Seusai es krim ludes, pasangan manten diarahkan perias maju ke pintu depan. Daat K(ondur) sudah tiba rupanya. Tetamu berdiri lalu berbaris keluar menyalami pengantin, untuk kemudian pulang ke rumah dengan perut kenyang hati senang.

Disiplin, itu kesan pertama saya tentang USDEK ini. Mulai tepat pukul 19.00, berakhir tepat pukul 21.00, tepat 2 jam. Tetamu sudah hadir sebelum pukul 19.00. Sebagai penghormatan pada tuan rumah dan pengantin. Selain, kalau terlambat datang, pasti akan kehilangan U,  US, USD, atau USDE, sehingga hanya dapat K untuk keterlambatan terparah.

Adil, itu kesan kedua. Semua tamu dapat jenis dan porsi sajian yang sama. Lelaki dewasa, perempuan, dan anak-anak mendapat porsi yang persis sama. Bedakan dengan cara makan resepsi Batak dulu, yang memungkinkan Si Rakus mendapat porsi terbesar.

Egaliter, ini kesan ketiga. Tidak ada tamu VIP atau VVIP. Semua tamu duduk sama rendah di kursi yang sama, makan makanan yang sama, tanpa membedakan status sosial. Tidak seperti di resepsi prasmanan Jakarta yang diskriminatif, karena ada ruang VIP atau VVIP.

Efisien, kesan keempat. Nyaris tidak ada makanan yang berlebih, apalagi terbuang. Jumlah makanan sudah dihitung persis, sesuai jumlah undangan. Bedakan dengan prasmanan yang sampai turah-turah.

Sehat, itu kesan kelima. Pola USDEK itu mengikuti aturan urutan makan yang sehat a'la Eropah. Dimulai dari minuman hangat dan kue-kue kecil dan kemudian sop hangat sebagai pengondisian lambung sekaligus penggugah selera. Baru kemudian datang makanan utama, lalu ditutup dengan es krim untuk menyamankan lambung. Semua dalam jumlah dan jarak waktu makan yang terukur. Sungguh sehat.

Jika ada yang terasa kurang, itulah kealpaan sosialisasi. Sebab semua tamu hanya duduk sebagai "penonton" yang diberi makan enak. Interaksi hanya dengan tetangga kiri, kanan, depan, belakang, yang biasanya adalah pasangan, kerabat,atau tetangga kita juga. Memang selalu ada kekurangan di samping banyak kelebihan.

Mungkin ada yang nyeletuk, acara makan saja kok ya dianalisis segala. Ya, karena untuk menikmati makanan, bukan saja nilai rasa dan gizinya yang perlu dipertimbangkan, tetapi juga kandungan nilai-nilai sosial-budaya makanan. Sebab tidak ada makanan yang hampa budaya.

Bagi saya yang besar dengan nilai budaya Batak Toba, adalah sebuah kesempatan mewah menikmati sajian USDEK dengan muatan nilai budaya Jawa Surakartanya.***