Felix Tani
Felix Tani profesional

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Media highlight

Mengulas "Ahok dan Jakarta" Secara Etnosentris

2 Agustus 2017   08:55 Diperbarui: 2 Agustus 2017   10:45 1762 20 17
Mengulas "Ahok dan Jakarta" Secara Etnosentris
Buku

Buku yang ditunggu-tunggu akhirnya sampai juga di tangan.

Kemarin siang, Selasa 1 Agustus 2017, seseorang yang ternyata kurir JNE menelepon ke "henpon"ku, memberi tahu ada kiriman dari Elex Media Komputindo, tapi tidak ada orang di rumah untuk menerima.

Aku bilang, "Sudah, lempar saja ke dalam car port." "Baik, Pak, ada anjing gak di dalam, Pak?" tanya Mas Kurir. "Gak ada," jawabku, sambil mikir apa masalahnya kalaupun ada anjing di dalam rumah. Kan, dia ada di luar pagar.

Tapi sudahlah. Mungkin dia punya trauma pada gonggongan anjing. 

Yang penting, sorenya buku sudah di tangan. Judulnya, Ahok dan Jakarta (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2017). Buku hasil editan Tim Kompasiana ini memuat sejumlah artikel terpilih tentang Ahok yang tayang   menjelang Pilkada DKI Jakarta yang lalu.

Langsung eksplor isi buku. Isinya ada 19 judul artikel, termasuk satu artikelku "(ABA) Ahok Cari Lawan, Bukan Musuh!" (h. 111-114). Dan menurut penilaianku, inilah artikel terbaik dalam buku itu. Semata-mata karena aku yang menulisnya, dan aku sendiri yang menilainya.

Dengan sikap etnosentris (tulisanku yang terbaik, lainnya terserah) semacam itu, aku tulis resensi ini. Jelas fokusnya artikelku. Penulis lainnya silahkan melakukan hal serupa. Khususnya Pebrianov yang menyebalkan karena menyumbang jumlah artikel terbanyak di buku itu, empat judul (honornya sekitar Rp 1 juta, mungkin).

"Jakarta Ahok lagi?" Itu judul Kata Pengantar Kang Pepih Nugraha untuk buku ini. Dan jawabannya kita sudah sama tahu, "Jakarta bukan Ahok lagi".  Jakarta sudah Anies, pemenang dalam Pilkada DKI Jakarta kemarin.

Dan "kekalahan" Ahok itu terjadi, menurut hematku, melalui proses yang sudah aku duga lewat artikel itu. Ahok ditumpas, bukan dikalahkan.

Mengapa begitu? Karena dalam proses Pilkada DKI tempo hari, Ahok tidak diposisikan secara terhormat sebagai "lawan politik". Tetapi sebagai "musuh rakyat" (public enemy).

Dan berhasil. Lewat serial unjuk rasa massal dan pembentukan opini lewat media massa dan media sosial, luring dan daring, Ahok sukses dipersepsikan sebagai "musuh rakyat".  

Sementara Anies sukses dipersepsikan sebagai "teman rakyat", dengan sikapnya yang santun dan kata-kata yang selalu memihak rakyat lemah. Terang benar, Anies dipersepsikan sebagai figur "cinta damai". Sedangkan Ahok sebagai figur "dajjal songong" (istilah Amien Rais).

Maka, jika rakyat harus memilih antara Si "Cinta Damai" dan Si "Dajjal Songong" untuk menjadi Gubernur, siapakah yang akan tampil sebagai pemenang? Tak perlu dijawab lagi, karena Si "Dajjal Songong" itu kini sudah mendekam di penjara, menjalani hukuman sebagai "musuh rakyat".

"Jakarta sudah Anies!" Tapi itu tidak berarti buku ini kehilangan relevansinya.  Buku ini tetap relevan untuk membantu memahami sebagian dari proses "penumpasan"  Ahok. Sehingga dia tidak saja gagal menjadi Gubernur DKI lagi tapi, lebih dari itu, juga masuk penjara sebagai "musuh rakyat".

Dan bila warga Jakarta bercengkerama di RPTRA Kalijido, atau lewat melingkar di Jembatan Semanggi Baru, ingatlah bahwa semua itu terwujud berkat niat baik, kejujuran dan keteguhan hati seorang "musuh rakyat" bernama Ahok.***