Mohon tunggu...
M. Syukri Ismail
M. Syukri Ismail Mohon Tunggu... Dosen

Hidup di dunia hanya sementara, jadikanlah dirimu bermanfaat di dunia yang sementara, agar bahagia di akhirat yang selama-lamanya. msyukriismail@iaiyasnibungo.ac.id

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Sabar dalam Menghadapi Covid-19

26 Mei 2020   13:47 Diperbarui: 26 Mei 2020   13:48 159 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sabar dalam Menghadapi Covid-19
sumber: suaraislam.id

Setelah satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa dan atas karunia-Nya kita dapat berhari raya bersama, maka sudah sepantasnya kita bergembira dan bersuka cita dalam merayakan sebuah momentum kemenangan dan kebahagiaan berkat limpahan rahmat dan ampunan Allah SWT.

Walaupun hari raya tahun ini kita sedang diuji oleh Allah SWT dengan wabah yang bernama Covid-19 atau biasa disebut dengan Corona, mengapa hal ini disebut dengan ujian? Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, Q.S. Al-Baqarah/2: 155: "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar," Artinya bahwa ketakutan kita terhadap wabah ini akan menjangkiti kita, kelaparan karena dampak dari wabah ini, kekurangan harta kita, kekurangan jiwa kita, kekurangan buah-buahan, semua ini merupakan ujian dari Allah SWT.

Namun dibalik semua ujian itu Allah SWT memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, siapakah mereka yang sabar? Allah SWT memberitahukan kita dengan ayat selanjutnya. "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).

Sesungguhnya kita adalah Makhluk Allah SWT, semua makhluk yang hidup di lautan, di dalam tanah, terbang di udara adalah ciptaan Allah SWT, begitu juga Corona adalah makhluk Allah SWT, Allah Khalik, sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah/2: 29. "Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."

Lalu bagaimana sikap kita dalam menghadapi virus Covid-19? Yang harus kita pahami bahwa virus tersebut tidak bisa dilihat dengan mata secara langsung, semua virus tidak bisa dilihat dengan mata secara langsung, hanya bisa dilihat oleh alat di laboratorium, sehingga musuh kita sekarang adalah sesuatu yang tidak terlihat. Apakah kita harus takut?

Takut hanya kepada Allah SWT, namun kita harus berhati-hati dan menjaga diri, bagaimana caranya? Pemerintah telah memberi himbauan kepada kita, salah satunya adalah dengan menjaga kebersihan, sebenarnya bukan pemerintah saja, Islam dari dulu sudah mengajarkan kita untuk menjaga kebersihan, sebagaimana sabda Rasulallah SAW, "Kesucian/bersuci merupakan setengah/sebagian dari Iman"

Selanjutnya menjaga imunitas (kekebalan) tubuh kita, dengan memakan makanan yang Halal dan Toyyib, sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah/2: 168. "Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu."

Maksud dari halal adalah halal cara mendapatkannya, ayam adalah hewan yang halal, namun jika didapatkan dengan mencuri maka ayam tersebut menjadi haram. Toyyib (baik) adalah baik jenis makanannya dan menyehatkan bagi tubuh kita, sayur bayam adalah makanan yang baik untuk dikonsumsi, namun jika seseorang makan sayur bayam bisa alergi dan tubuhnya menjadi sakit, maka sayur bayam tidak baik baginya, maka tinggalkan. Karena sumber segala penyakit adalah jeleknya pencernaan, sebagaimana sabda Rasulallah SAW. "Sumber segala penyakit adalah al-baradah." Al-Baradah: At-Tukhmah (Jeleknya pencernaan makanan.)"

Ada satu hal yang perlu kita lakukan dalam menghadapi Covid-19 adalah selalu melihat kebaikan orang lain, karena bermacam-macam cara yang telah dilakukan oleh pemerintah, Ulama, dan berbagai ormas Islam lainnya dalam menghadapi Covid-19, silahkan anda lakukan mana saja yang menurut anda baik, dan tidak boleh saling menyalahkan, apalagi saling mencaci maki.

Para ulama kita mengajarkan bagaimana bersikap dengan saudara kita adalah dengan selalu melihat kebaikannya, jika kita melihat pada saudara kita ada 99 keburukan dan 1 kebaikan, maka yang kita lihat dan kita bicarakan adalah 1 kebaikannya bukan 99 keburukannya, kenapa?

Karena jika kita membicarakan kebaikan orang lain, InsyaAllah kebaikan tersebut akan masuk dalam hati kita dan kita dapat mengamalkannya. Namun, jika kita selalu membicarakan keburukan orang lain, apa yang terjadi? Keburukan itu akan ada dalam hati kita, karena mulut kita lebih dekat dengan hati kita, bukan dengan hati orang lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN