Mohon tunggu...
M. Syukri Ismail
M. Syukri Ismail Mohon Tunggu... Dosen

Hidup di dunia hanya sementara, jadikanlah dirimu bermanfaat di dunia yang sementara, agar bahagia di akhirat yang selama-lamanya. msyukri_ismail@staiyasnibungo.ac.id

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Tepatkah Opsi "Menikah Muda atau Jomblo"?

16 Oktober 2019   11:05 Diperbarui: 16 Oktober 2019   17:10 0 4 2 Mohon Tunggu...
Tepatkah Opsi "Menikah Muda atau Jomblo"?
Sumber ilustrasi: Shutterstock

"Menikah muda atau jomblo" adalah kalimat yang pada beberapa hari ini menggangu pikiran saya.

Kalimat ini saya dengar di Instagram #IndonesiaTanpaPacaran yang memiliki 1 juta pengikut. Menikah muda atau jomblo.

Itukah opsi solusi yang ditawarkan bagi para pemuda yang sedang menggebu-gebu dalam cintanya agar terhindar dari seks bebas, dan kerusakan-kerusakan lainnya?

Kapan seseorang disebut muda? Jika mengacu pada Pasal 1 ayat 1 UU Nomor 40 Tahun 2019 tentang kepemudaan berbunyi batas usia muda dimulai dari 16-30 tahun. Sementara itu WHO Organisasi Kesehatan Dunia mengelompokkan menjadi 5 kelompok usia. Pertama, usia 0-17 tahun adalah anak-anak di bawah umur. Kedua, 18-65 tahun pemuda. Ketiga, 66-79 tahun setengah baya. Keempat, 80-99 tahun orang tua. Kelima, 100 tahun ke atas orang tua berusia panjang.

Menikah muda apakah solusi? Menikah baru menjadi solusi bagi pemuda saat ini jika dibekali dengan iman dan ilmu yang cukup untuk mengarungi bahtera rumah tangga, karena menikah bukan hanya bersatunya dua manusia dalam ikatan pernikahan, namun juga membina keluarga menjadi sakinah, mawaddah, warahmah yang tentunya akan menghadapi banyak masalah.

Sehingga tidak terjadi seperti hari kemarin di klinik bersalin istriku. Ketika istri mau melahirkan, dengan enteng suaminya berkata kepada bapaknya, "Bapak, istriku mau melahirkan, tolong bawa ke klinik, aku mau tidur". 

Dengan terpaksa bapaknya membawa menantunya ke klinik, alhamdulillah lahir dengan selamat seorang perempuan. Begitulah jadinya jika pemuda menikah tanpa dasar iman dan ilmu yang cukup untuk mengarungi rumah tangga, bukan menyelesaikan masalah tapi membuat masalah.

Betul menikah adalah sunnahnya baginda Rasulallah SAW, berpahala bagi yang melaksanakannya, namun Rasulallah SAW juga memberikan solusi bagi yang belum mampu menikah, yaitu berpuasa, karena puasa mampu menahan hawa nafsu dari pebuatan maksiat. Namun menjadi tidak baik jika sebelum menikah rajin berpuasa, tidak merokok, setelah menikah tidak berpuasa lagi, merokok juga.

Jika suami yang membekali dengan iman yang ilmu pengetahuan akan menjaga kehamilan istrinya sejak hamil, bahkan sebelum kehamilan, karena anak yang dikandung adalah titipan Allah SWT, suami akan menjaga ibadahnya. Jika ingin ganteng seperti nabi Yusuf AS akan rajin membaca surah Yusuf, suami akan menemaninya ketika melahirkan, juga menyiapkan semua kebutuhan istri.

Jomblo tidak berpacaran juga bisa menjadi solusi. Baik jika jomblonya seseorang itu memiliki iman dan ilmu agama yang cukup, mempunyai kegiatan-kegiatan positif yang bisa meningkatkan kreativitas diri. Jangan sampai pemuda jomblo lost in crowded seperti yang digambarkan oleh Thomas L. Friedman dalam bukunya Hot, Flat, and Crowded, sehingga seorang pemuda tidak produktif dan tidak menghasilkan karya apapun.

Gerakan #IndonesiaTanpaPacaran bagus untuk mengingatkan anak muda tentang resiko negatif dari pacaran, namun solusi yang ditawarkan menikah muda atau jomblo mempunyai catatan-catatan yang perlu diperhatikan agar pemuda yang menikah muda dibekali dengan iman dan ilmu pengetahuan untuk menghadapi kehidupan setelah menikah.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x