Mohon tunggu...
M. Syukri Ismail
M. Syukri Ismail Mohon Tunggu... Dosen

Hidup di dunia hanya sementara, jadikanlah dirimu bermanfaat di dunia yang sementara, agar bahagia di akhirat yang selama-lamanya. msyukri_ismail@staiyasnibungo.ac.id

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Menampilkan Keislaman, Apakah Penting?

11 Desember 2018   11:13 Diperbarui: 11 Desember 2018   11:15 0 2 1 Mohon Tunggu...
Menampilkan Keislaman, Apakah Penting?
https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Nabawi

Protes banyak bermunculan kepada orang yang menampilkan keislamannya, atau bisa dibilang menunjukkan ciri-ciri seorang muslim, sebagaimana yang digambarkan Rasulallah saw. Mengikuti Rasuallah saw dan sunnahnya, meliputi sunnah suroh (Penampilan), sirah (Perjalanan hidup), sarirah (Pikir/kerisauan beliau terhadap ummatnya), yaitu ingin semua ummatnya masuk surga Allah swt, dan terhindar dari siksa neraka-Nya.

Cerita ini dari kisah nyata sahabat saya, kisah ini menarik untuk saya bagikan karena melihat komentar-komentar yang mengatakan, tidak perlu kita menampilkan keislaman dan jati diri seorang muslim di hadapan publik. Justru ini sebaliknya, sahabat saya tertarik untuk mendalami Islam lebih dalam lagi setelah melihat seseorang yang menunjukkan keislamannya di publik.

Beliau bercerita, ketika itu masih menjadi tukang ojek Pangkalan di sebuah kota kecil daerah Jambi sekitar tahun 90an, karena memang belum ada ojek online yang menjamur seperti sekarang ini. Suatu hari beliau melihat seseorang yang memakai jubah putih dan bersorban berbelanja di pasar tradisional, beliau sangat tertarik dengan penampilan lelaki tersebut.

Menurutnya, penampilan lelaki tersebut merupakan gambaran penampilan Rasulallah saw yang pernah beliau dengar dari ceramah para ustadz di pengajian-pengajian yang rutin beliau ikuti ketika masih di jawa tengah, salatiga. Dengan rasa penasaran yang mendalam, beliau ingin menanyakan mengenai pakaian yang dipakai lelaki tersebut dengan berusaha mendapat order ojek dari lelaki tersebut.

Dengan perjuangan yang luar biasa, pada akhirnya beliau mendapatkan order untuk mengantarkan lelaki berjubah ke rumahnya. Dalam perjalanan banyak pertanyaan yang beliau sampaikan kepada lelaki berjubah yang ternyata memang seorang ustadz alumni pesantren ternama di Medan, dan juga pernah mondok di Thailand beberapa tahun.  

Dengan santunnya ustadz menjelaskan mengapa beliau memakai jubah dan sorban. Jubah dan sorban merupakan Sunnah, berpenampilan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulallah saw luar biasa pahalanya, Rasulallah saw bersabda "Barangsiapa yang mengamalkan sunnahku, maka dia telah mencintaiku, barangsiapa yang mencintaiku, akan bersamaku di surga." (Sunan Tirmidzi, Juz 10, 197. Maktabah Syamilah).

Pertemuan beliau dan ustadz berjubah telah mengubah kehidupannya menjadi lebih baik, yang sebelumnya sholat hanya sekedarnya, sekarang shalat berjama'ah di masjid. Sebelumnya mengamalkan agama semaunya, sekarang berusaha agar dapat mengamalkan agama secara sempurna. Anak-anak disekolahkan di pesantren, bahkan sudah hafal beberapa juz Al-Qur'an. Semoga tetap istikomah dalam mengamalkan Islam sampai akhir hayatnya.

Beliau berpesan, "Jangan malu berpenampilan sebagai muslim, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulallah saw, karena penampilan bisa menjadikan seseorang mengenal dan mendalami Islam," sebagaimana yang terjadi padanya. Namun, pastinya penampilan harus diikuti dengan akhlak yang baik, karena "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada penampilanmu dan hartamu, tetapi melihat kepada hatimu dan amal perbuatanmu." (Sahih Muslim, Juz 8, 11, Maktabah Syamilah).

***

Di Balik Sunnah Ada Kejayaan