Muhammad Syukri Ismail
Muhammad Syukri Ismail Dosen

hidup di dunia hanya sementara, jadikanlah dirimu bermanfaat di dunia yang sementara, agar bahagia di akherat yang selamanya.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Semangat Pergi Naik Haji vs Semangat Salat Berjama'ah

13 Agustus 2017   00:00 Diperbarui: 13 Agustus 2017   09:08 358 1 1
Semangat Pergi Naik Haji vs Semangat Salat Berjama'ah
Shalat berjama'ah di salah satu masjid di Indonesia. Dok,Pri

Alhamdulillah musim haji sudah tiba, bahkan sudah ada jama'ah haji asal Indonesia yang sudah sampai ke tanah suci, kita banyak bersyukur kepada Allah atas kelancaran ini. Karena bersyukur adalah perintah Allah. Allah firmankan dalam Al-Qur'an dalam surah Luqman/31 : 12 : "Dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

Haji tahun kemaren diwarnai dengan gagalnya berangkat beberapa jama'ah karena menggunakan jalur illegal, yaitu menggunakan kuota jama'ah haji negara lain yang tidak perlu menunggu lama, karena jika melalui jalur haji legal di Indonesia bisa menunggu sampai 20 tahun bahkan bisa lebih. Tahun ini ada juga yang gagal berangkat karena di diagnosis menderita penyakit, Hamil, atau sebab lainnya.

Haji seperti yang kita ketahui adalah salah satu dari Rukun Islam yang lima setelah mengucapkan dua kalimah syahadat, Sholat, Zakat, Puasa, lalu melaksanan haji bagi yang mampu. Jika kita pahami sebenarnya haji ke Baitullah itu sama dengan rukun islam yang lainnya.

Saya punya pengalaman menarik dengan teman saya yang tidak mau dipanggil 'Haji'. Saya lalu bertanya kepadanya, 'kenapa tidak mau dipanggil Haji?' dengan sungguh-sungguh dia menjawab "Seandainya kamu sudah Mengucapkan dua kalimah syahadat, Sholat, Zakat, Puasa, mau kamu di panggil 'Pak Syahadat?, Pak Sholat?, Pak Zakat?, Pak Puasa?". Jawaban yang sederhana, namun merusak akal sehatku.

Jika kita melihat kejadian dari gagalnya para jama'ah haji untuk berangkat ke tanah suci karena melalui jalur illegal, karena tidak mau menunggu panjangnya antrian untuk dapat melaksanakan ibadah haji. hal ini menunjukkan bahwa begitu semangatnya masyarakat Indonesia untuk melakasanakan ibadah haji, berbagai cara mereka lakukan agar dapat berangkat ke tanah suci.

Saya hanya berpikir, seandainya semangat mereka untuk melaksanakan ibadah haji dialihkan dengan semangat untuk melaksanakan Puasa, Zakat, Salat, menyempurnakan iman (syahadat), Bersedekah, maka hal ini sangat positif sekali.

Sebagai contoh semangat melaksanakan 'salat berjama'ah' seperti semangat 'haji ke baitullah' maka saya yakin masjid akan penuh shafnya, tidak ada masjid yang sepi dari jama'ah. Namun yang kita lihat sekarang, sepulang dari ibadah haji, tidak ada perubahan mendasar yang di dapatkan oleh si fulan bin fulan.

Bahkan ada diantara masyarakat yang sudah berangkat haji, lalu pulang ke kampungnya dan harus dipanggil dengan pak haji, jika tidak dipanggil dengan pak haji tidak mau menoleh bahkan menjawab salam "Assalamu'alaikum pak haji" itu baru menoleh. He..he..

Saya memang belum pernah berangkat haji, dan selalu berdo'a agar bisa berangkat haji. Ada salah satu kisah dalam Fadilah haji yang ditulis oleh Maulana Zakariya Al-Kandahlawi yang menarik untuk kita renungi. Dan saya kira perlu bagi jama'ah yang mau berangkat ke Baitullah untuk banyak lagi membaca kisah-kisah perjalan haji para Salafussalih, agar ibadah haji kita semakin sempurna.

Dikisahkan seorang Wali Allah berkata, "Ketika melakukan thawaf, aku melihat seorang setengah baya yang sangat lemah karena terlampau lama beribadah. Dia menggunakan sebatang tongkat untuk membantunya sewaktu berthawaf."

Dia berkata, "Khurasan". Kemudian dia bertanya kepadaku, "Berapa lamakah waktu yang telah kamu habiskan untuk berjalan dari tempat kamu ke tempat ini?" Aku menjawab, "Dua sampai tiga bulan."

Dia berkata, "Tapi kenapa kamu tidak mengerjakan haji setiap tahun?"

Aku bertanya, "Berapa lama kamu menghabiskan waktu untuk berjalan dari tempatmu ke sini?"

Dia menjawab, "Lima tahun."

Aku berkata kepadanya, "Demi Allah, sesungguhnya itu adalah rahmat Allah dan membuktikan cintamu yang sejati kepada-Nya."

Dia tersenyum kemudian dia membacakan sebuah sya'ir berikut :

Kekasih yang sangat dicintai itu mestilah diziarahi.

Walaupun dipisahkan oleh jarak yang jauh.

Segala penderitaan dan kesedihan,

Janganlah menjadikan halangan untuk berjalan ke rumah-Nya.

Inilah sebabnya mengapa kekasih selalu menziarahi yang dikasihi-nya.


***

Semoga Menjadi Haji Mabrur