Mohon tunggu...
Mohammad Rasyid Ridha
Mohammad Rasyid Ridha Mohon Tunggu... Buruh - Bukan siapa-siapa namun ingin berbuat apa-apa

Pekerja di NKRI Pengamat Sosial, pecinta kebenaran...Masih berusaha menjadi orang baik....tak kenal menyerah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Berbisnis Dengan Manusia dan Tuhan

23 September 2022   11:03 Diperbarui: 23 September 2022   11:31 102 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sesungguhnya bisnis itu bukan soal berapa banyak keuntungan yang kita inginkan, namun sejauh mana resiko terburuk yang bisa kita terima. Apakah berarti kita tidak menginginkan untung? Pastilah bisnis pada dasarnya harus memberikan keuntungan, masa ada orang berbisnis nyari rugi.

Biasanya orang yang akan menawarkan sebuah bisnis mulai dengan pembukaan kalau bisnis tersebut mempunyai prospek cerah. Setelah menerangkan dengan semangat empat lima nan berbusa-busa, dia akan menerangkan keuntungan yang akan diperoleh jika kita menjalankan bisnis tersebut. Sepanjang cerita biasanya orang tersebut hanya menceritakan legit dan manisnya bisnis yang ditawarkan, keuntungan besar. Jarang sekali menyinggung resiko dan potensi kegagalan yang mungkin terjadi.

Oleh karenanya jika ada orang menawarkan bisnis dengan cara di atas, biasanya kita anggap itu sebagai hiburan, dengarkan sampai tuntas, namun susah untuk diyakini kebenarannya. Sudah seringkali kita mendengarkan presentasi bisnis oleh banyak orang, dan biasanya yang hanya ngomongin untung saja seringkali bisnisnya tipu-tipu dan banyak pula yang terlalu membual dan mengawang-awang.

Seorang teman berpendapat bahwa bisnis adalah bagaimana kita sanggup menahan resiko jika kita mengalami kegagalan. Berapa besar resiko kerugian yang bisa kita tanggung, apakah sampai sebanyak harta yang kita punya, apakah separuhnya, atau bahkan seperempatnya. Mengapa fokusnya pada resiko kegagalan bukan pada untungnya? Untung dalam sebuah bisnis adalah tujuan, dengan keuntungan rasanya hidup pemilik bisnis tambah enak, bukan sebaliknya tambah susah.

Namun bagaimana halnya jika kemudian bisnis tersebut berantakan, mengalami kerugian sampai berhenti beroperasi. Padahal kita sudah menginvestasikan seluruh harta kita untuk menjalankan bisnis tersebut. Apakah kita siap dengan kondisi tersebut? Apakah kita bisa bangkit jika harta ludes? Berapa persen dari harta yang bisa kita ikhlaskan untuk hilang? Pertanyaan-pertanyaan itu perlu dijawab ketika akan memulai bisnis, karena ketika kerugian yang akhirnya diperoleh, kita sudah siap dengan langkah-langkah ke depannya, tidak menjadi gelap pikiran atau malah kehilangan keimanan.

Dalam dunia bisnis, keuntungan sudah tidak perlu dipertanyakan, kerugianlah yang perlu kita antisipasi dan fokuskan untuk dapat ditanggulangi atau dapat kita serap bilamana terjadi. Manajemen resiko seperti ini sudah biasa dijalankan dalam dunia bisnis, baik yang formal, maupun informal. Sepengetahuan saya hampir semua pebisnis menerapkan manajemen resiko dengan caranya masing-masing.

Kalau dalam dunia bisnis ada manajemen resiko dan kadar resiko yang bisa kita tanggung, bagaimana dengan dunia akhirat? Apakah ada manajemen resiko ketika kita berbisnis dengan Sang Khalik? Apakah siap ketika Yang Maha Pengasih dan Pengampun mendatangkan kerugian dan hukuman bagi kita?

Sesungguhnya di dunia ini manusia sedang berbisnis dengan Tuhannya. Ketika Allah SWT berkata "Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. adz-Dzariyat: 56), maka sesungguhnya transaksi bisnis antara manusia dan Allah SWT dimulai argonya. Ibadah seorang manusia adalah dengan mematuhi dan menjalankan semua perintah serta menjauhi larangan Allah SWT.

Apa konteks manajemen resiko dalam hubungannya dengan berbisnis dengan Allah SWT. Kita sudah mahfum bahwa keuntungan terbesar dari berbisnis dengan sang khalik adalah surga sementara kerugian terbesar adalah masuk ke neraka selama-lamanya. Jadi kalau kita kadang menjalankan perintah Allah, di saat yang lain mengabaikannya, bahkan menjalankan yang dilarang, bisa jadi saat itu bisnis kita dengan Allah sedang mengalami kerugian. Bisa jadi nanti kita menjadi golongan yang harus mampir dulu ke neraka, sebelum diangkat ke surga.

Jadi nasib kita di akhirat kelak tergantung urusan bisnis kita dengan Allah SWT, untung atau rugi. Bagi saya pribadi, bottom line yang harus dijaga agar kerugian yang terjadi di saat berbisnis dengan Allah SWT tidak sampai menghabiskan harta (dalam bentuk pahala) atau keuntungan yang ada adalah menjaga keimanan untuk tetap ada dan tidak menghilang. Dengan masih adanya keimanan kepada Allah SWT, serugi-ruginya kita, selama-lamanya di neraka nanti, masih ada peluang balik ke surga.

MRR, Jkt-23/09/2022

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan