Mohon tunggu...
Mohammad Rasyid Ridha
Mohammad Rasyid Ridha Mohon Tunggu... Buruh - Bukan siapa-siapa namun ingin berbuat apa-apa

Pekerja di NKRI Pengamat Sosial, pecinta kebenaran...Masih berusaha menjadi orang baik....tak kenal menyerah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Stasiun Pompa Bensin, Antara "Self Service", Premium, dan Toilet Gratis

6 April 2018   13:00 Diperbarui: 6 April 2018   13:27 1474
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Beberapa hari yang lalu saya transit di stasiun pompa bensin (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum / SPBU) km 57 jalan tol Jakarta -- Cikampek ketika dalam perjalanan menuju Bandung untuk urusan dinas. Saat itu tujuan saya mau top up kartu e-money di Atm yang terdapat di area pom bensin tersebut sekaligus mengisi bahan bakar kendaraan. Walhasil saat itu ATM yang beroperasi tidak bisa digunakan untuk melakukan top-up dan gagal lah tujuan pertama saya.

Keluar dari ATM, saya pun kemudian berjalan menuju toilet, mumpung lagi di pom bensin biasanya toiletnya bersih dan gratis. Sambil berjalan terlihat oleh saya bangunan toilet dan tertulis besar di temboknya "TOILET GRATIS".

Saat memasuki bangunan toilet, saya melihat dua orang wanita muda, satu orang berdiri di depan pintu toilet wanita sementara satunya di depan pintu toilet pria. Pintu masuk dan keluar untuk masing-masing toilet adalah sama. Kedua orang tersebut menggenggam beberapa uang dua ribuan rupiah di tangannya, persis kayak petugas toilet umum yang menarik ongkos. 

Saat itu pula saya melihat seorang pria paruh baya keluar dari toilet pria dan memberikan uang sepuluh ribu rupiah kepada si wanita yang berada di depan toilet. Si Wanita kemudian berkata pada pria paruh baya tersebut "Ini Pak kembaliannya". Saya tidak memperhatikan berapa kembaliannya, karena di pintu toilet ataupun di seluruh sisi bangunan toilet tersebut tidak ditemukan tulisan tarif penggunaan toilet.

Selesai menunaikan hajat buang air kecil di toilet tersebut, saya pun keluar melalui pintu toilet pria dan melewati si Wanita "penjaga toilet" dengan santai. Dalam hati saya sudah menyiapkan jurus apabila nanti si Wanita tadi meminta ongkos toilet. Namun ternyata saya tidak diminta ongkos oleh si wanita tersebut (barangkali dikira preman).

Rupanya para wanita "penjaga toilet" tersebut memanfaatkan persepsi orang yang mengira bahwa toilet di pom bensin tersebut tidak gratis alias bertarif. Tidak semua orang menyadari dan membaca bahwa toilet tersebut sesungguhnya gratis. Saat orang tidak mengetahui bahwa sebenarnya toilet tersebut gratis, pun tidak menemukan tulisan tarif toilet layaknya toilet umum di pasar, namun saat mereka melihat ada wanita berdiri di depan tolilet dan menggenggam uang kertas dua ribuan rupiah di tangan maka secara otomatis pikiran mereka mempersepsikan (baca : terhipnotis) bahwa toilet tersebut berbayar. 

Mengapa si Wanita menggenggam beberapa lembar uang dua ribuan dan tidak memasukannya kedalam saku celana atau dompetnya? Jawabannya adalah karena pada umumnya ongkos masuk toilet berbayar untuk buang air kecil atau besar adalah dua ribu rupiah, sehingga dengan menggunakan uang dua ribuan rupiah di tangan semakin menggiring pikiran orang untuk berpersepsi bahwa ongkos masuk toilet (yang seharusnya gratis) adalah dua ribu rupiah.

img-20180404-104544-5ac70b07bde5756c5f445f32.jpg
img-20180404-104544-5ac70b07bde5756c5f445f32.jpg
Beberapa kali istri saya pernah terperangkap dan terpedaya kondisi seperti di atas  ketika berpergian ke luar kota dan mampir ke toilet di pom bensin sepanjang jalan tol, padahal jelas-jelas ada tulisan bahwa toilet gratis. Begitulah kekuatan sugesti yang digunakan orang untuk memperdaya orang lain. Khusus kondisi lebaran, toilet-toilet yang bertuliskan gratis di beberapa pom bensin sepengalaman saya menjadi berbayar karena ada penjaga dadakan di depan toilet.

Kembali ke laptop, setelah keluar dari toilet, saya pun mengambil hanphone dan memotret bangunan toilet untuk membuktikan bahwa ada tulisan "TOILET GRATIS". Puas dengan foto memfoto bangunan toilet, sayapun masuk mobil dan melanjutkan untuk mengisi BBM. Saya mengarahkan mobil ke slot dispenser yang bertuliskan Pertalite. Setelah membuka tutup saluran BBM di mobil, sayapun mengambil sendiri alat pengisi dari dispensernya dan mengisi BBM sendiri. Memang di pom bensin km 57 ini baru dimulai cara mengisi BBM self service pagi pengendara kendaraan.

Setelah selesai mengisi dan menutup saluran bensin, saya pun membayar menggunakan kartu debit. Petugas pom bensin yang biasanya mengisikan BBM ke kendaraan sekarang hanya membantu memberitahukan cara menggunakan peralatan untuk mengisi BBM ke kendaraan, serta hanya membantu menerima pembayaran baik cash maupun non cash. Petugas pom bensin kemudian menggesekan kartu debit saya ke mesin EDC sesuai rupiah yang tertera di mesin dispenser. 

Sembari menunggu proses selesai, saya pun bertaya pada si petugas, seorang wanita muda, "Kayaknya minggu kemarin mesin ini masih premium, kok sekarang jadi pertalite?" Kebetulan pekan sebelumnya saya mengisi premium di pom bensin km 57 tersebut, di tempat yang sama. "Sudah nggak ada premium pak, semuanya diganti pertalite sekarang" kata si Petugas. Lalu saya lanjut bertanya, " Kalau sekarang sudah self service begini, nanti para pegawainya di PHK dong". Tanpa disangka si Petugas menjawab "Iya pak, kami sudah menulis pengunduran diri". Kemudian obrolan berhenti dan sayapun melanjutkan perjalanan.

Kalau sekarang di media massa lagi ramai isu premium langka, maka sudah sangat telat isu tersebut menjadi hit. Lha wong sudah sejak satu-dua tahun ini Pertamina memasarkan pertalite. Akibat dari pertalite, hampir semua pom bensin yang pernah saya singgahi mengganti dispensernya dari premium ke pertalite, dan hanya menyisakan satu dispenser buat premium atau malah di banyak tempat tidak menyisakan satupun dispenser buat premium. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun