Humaniora

Jadilah Ahli di Bidangmu

15 November 2017   07:36 Diperbarui: 15 November 2017   08:22 104 0 0
Jadilah Ahli di Bidangmu
Sumber: https://www.oreilly.com

Perbincangan pagi ini dengan rekan saya berkenaan dengan topik yang cukup menarik, berkaitan dengan kompetensi yang harus dimiliki seorang karyawan mengacu kepada tugas pokok dan posisi jabatannya di perusahaan. Untuk membangun kompetensi tersebut ada dua jalur yang bisa ditempuh yaitu diklat dan sertifikasi, kedua-duanya dapat dilakukan bersamaan atau hanya salah satu tergantung kebutuhan. Rekan saya mengatakan "diklat berarti memberikan dan transfer pengetahuan, teori, knowledge kepada si karyawan, tidak dengan pengujian dan monitoring dengan kriteria tertentu seperti sertifikasi.

Sementara sertifikasi tidak lagi berbicara soal teori dan transfer knowledge, melainkan pengujian terhadap keahlian yang dimiliki seseorang dengan parameter dan kriteria kelulusan yang telah ditentukan." Kebetulan di ruangan itu ada senior kami yang biasa kami panggil dengan sebutan "Master Yu", sehingga rekan saya juga kemudian mengatakan kalau levelnya sudah mastery seperti Master Yu ya sudah tidak butuh lagi sertifikasi untuk peningkatan kompetensinya, karena sudah mencapai level keahlian tertinggi melalui puluhan tahun pengalamannya.

Iseng-iseng saya cari apa arti mastery dan ada 2 rujukan yang saya kutip akan arti mastery : (i) https://en.oxforddictionaries.com/definition/mastery : Comprehensive knowledge or skill in a particular subject or activity; Control or superiority over someone or something. (ii) 

https://www.dictionary.com/browse/mastery:  

1. full command or understanding of a subject;  
2. outstanding skill; expertise
3. the power of command; control
4. victory or superiority

Secara terjemahan bebas adalah orang yang punya pengetahuan/skill komprehensif dalam suatu bidang atau aktivitas tertentu, dimana keahlian ini luar biasa dan diatas rata-rata.

Semakin penasaran akan tingkat pembagian keahlian, maka saya pun berusaha mencari tahu ada berapa level sih tingkat kompetensi. Ketemulah dengan teori the four stages of competence yang dikembangkan oleh Gordon Training International dimana kompetensi dibagi menjadi empat:
1. Unconscious incompetence
Seseorang tidak tahu bagaimana mengerjakan sesuatu dan tidak menyadari bahwa dia tidak kompeten.
2. Conscious incompetence
Seseorang tidak tahu bagaimana mengerjakan sesuatu namun dia tahu dan menyadari bahwa dia mempunyai kekurangan keahlian atau tidak punya kompetensi untuk hal tersebut.
3. Conscious competence
Seseorang tahu bagaimana mengerjakan sesuatu dan punya keahlian untuk mengerjakannya dimana memerlukan konsentrasi untuk menunjukan keahliannya.
4. Unconscious competence
Seseorang telah memiliki begitu banyak latihan dengan keterampilan yang telah menjadi keahlian dan dapat dilakukan dengan mudah sambil menjalankan tugas lain.

Ternyata empat level kompetensi tersebut tidak mendefinisikan apa itu mastery. Sampai akhirnya  di dalam teori the Dreyfus model of skill acquisition saya menemukan kategori mastery untuk level kompetensi. Dreyfus model dikembangkan oleh dua bersaudara Stuart E. Dreyfus dan Hubert L. Dreyfus dari University of California, Berkeley pada tahun 1980.

Menurut Dreyfus, ada lima level penguasaan seseorang terhadap sebuah keahlian:
* Pertama, level Novice (pemula). Di level ini, seorang praktisi akan mengikuti teknik-teknik yang mereka kuasai secara kaku. Mereka masih harus berpikir untuk mengeksekusi keterampilannya dengan baik.
* Kedua, level Competent (mampu). Di level ini, seorang praktisi mulai memahami konteks, kapan sebuah teknik efektif dilakukan dan kapan sebuah teknik tidak efektif dilakukan. Mereka secara sadar mampu menganalisis teknik yang mereka gunakan.
* Ketiga, level Proficient (cakap). Di level ini, seorang praktisi mulai memahami prinsip-prinsip (kaidah) di balik teknik yang mereka gunakan. Sehingga mereka lebih fleksibel dalam menggunakan teknik-teknik yang mereka kuasai.
* Keempat, level Expert (ahli). Di level ini, intuisi seorang praktisi mulai terbentuk. Mereka mulai memahami pola-pola yang terkait dengan keterampilan mereka.
* Kelima, level Master. Inilah level tertinggi. Level ketika intuisi seorang praktisi sudah sangat tajam. Sehingga mereka mampu mengeksekusi skill-nya tanpa harus berpikir. Mereka sudah masuk dalam tahap unconscious competence.

(Sumber: https://www.darmawanaji.com/5-level-penguasaan-skill/)

Pertanyaan selanjutnya adalah berapa lama waktu yang diperlukan sesorang untuk menjadi seorang Ahli. Sebelum menjawab itu maka harus kita sadari bahwa untuk mendapatkan keahlian dalam bidang atau aktifitas tertentu, maka sesorang harus berlatih dan praktek, dan secara teratur mengalokasikan sejumlah waktu tertentu untuk mengasah dan membentuk keahliannya. Tanpa fokus dalam berlatih dan praktek maka mustahil keahlian bisa dicapai oleh seseorang.

Dalam bukunya yang berjudul "Outliers -- The Story of Succes", Malcom Gladwell mengatakan "Seseorang akan menjadi ahli dalam suatu bidang tertentu yang diinginkan setelah dia melakukan atau mempelajarinya dalam waktu 10.000 jam" yang dikenal dengan teori 10.000 jam. Jadi misalkan anda ingin menjadi ahli sebagai pesepakbola profesional, maka apabila anda berlatih 5 hari dalam seminggu dan tiap hari mengalokasikan sehari 8 jam untuk berlatih dan bermain sepakbola, setelah 5,2 tahun anda akan menjadi pesebakbola yang ahli, begitu kira-kira penjelasannya. Semakin sedikit waktu yang dialokasikan untuk fokus mengasah keahlian, maka semakin lama kita menjadi ahli.

Menjadi ahli dalam suatu bidang atau banyak bidang perlu kita kejar dan wujudkan. Dalam membangun rumah tentu kita menginginkan bahwa perancangnya adalah arsitek yang sudah ahli dalam perancangan rumah, bukan jembatan, bukan pula anak kuliah yang baru lulus. Hati kita akan tenang apabila menyerahkan pekerjaan dan urusan kepada ahlinya. Demikian juga orang akan tenang apabila menyerahkan urusan kepada kita karena memang kita ahli di bidang tersebut. Karena itu marilah sama-sama menjadi ahli dalam bidang pekerjaan dan kegiatan yang kita tekuni sehingga bisa memberi kemanfaatan yang lebih luas.

Terakhir, simaklah Hadits Rasulullah Muhammad SAW berikut:

"Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Sinan] telah menceritakan kepada kami [Fulaih bin Sulaiman] telah menceritakan kepada kami [Hilal bin Ali] dari ['Atho' bin yasar] dari [Abu Hurairah] radhilayyahu'anhu mengatakan; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya; 'bagaimana maksud amanat disia-siakan? ' Nabi menjawab; "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu." (Hadits Bukhari Nomor 6015)