Mohon tunggu...
M. Ridwan Umar
M. Ridwan Umar Mohon Tunggu... Dosen - Belajar Merenung

Warga Negara Biasa

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Mampukah Startup Edu-Tech Mengalahkan Institusi Pendidikan Konvensional?

11 Oktober 2019   20:00 Diperbarui: 12 Oktober 2019   12:16 1186
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
iStock via gotomeeting.com

Untuk menarik minat, mereka memasang iklan secara masif pula. Puluhan miliar angkanya. Memang sih, salah satu kekuatan startup digital adalah modal besar yang dimiliki termasuk edu-tech. Investor startup rela mengeluarkan uang banyak. Adu kapital, ceritanya.

Mereka tidak "sayang" mengelontorkan puluhan bahkan ratusan miliar menggenjot startup. Uniknya, uang itu banyak hanya "dibakar". Misal memberi promo dan diskon besar-besaran.  

Secara cash flow, startup itu belum untung di awal. Namun, inilah rahasianya. Bagi investor dan pengelola bisnis startup, yang dicari adalah nilai valuasi atau potensi uang yang akan digarap dan dihasilkan, setelah pelanggan bergabung, baru profit. Jadi, siapa yang kuat menahan modal.

Di atas kertas mungkin terlihat rugi, namun dalam jangka panjang, untung besar menanti. Hebat ya.

Terkait edu-tech tadi, Menteri Kominfo mengatakan bahwa mereka ini adalah "The Next Unicorn". Oh ya, Unicorn adalah sebutan untuk startup yang telah memiliki valuasi 1 miliar dollar atau 14 triliun. Artinya, edu-tech itu telah dianggap sejajar dengan marketplace ala Lazada, Tokopedia, Bukalapak yang sudah terkenal itu.

Startup edu-tech tentu akan menjadi lawan tangguh lembaga pendidikan "konvensional". Kalau dirangkum, beberapa faktor yang membuat edu-tech ini diminati dan pantas dikhawatirkan pemain lain, yaitu:

1. Edu-Tech menawarkan model pendidikan praktis dan memberi nilai tambah. Dikemas dengan menarik dan menjangkau lebih banyak orang. Pengunaan gadget yang praktis adalah kunci utama.

2. Edu-tech didukung pendanaan yang besar dan dikelola dengan manajemen efisien. Mereka tidak ragu mengeluarkan dana puluhan milyar.
Tak heran, promosinya juga "gila-gilaan". Sangat berbeda dengan promosi yang dilakukan lembaga pendidikan konvensional yang biasanya kecil dan menjadi pelengkap saja. Mereka takut promosi jika tak tergambar keuntungannya.

3. SDM yang dimiliki startup edu-tech didominasi kalangan profesional. Sewaktu-waktu mereka bisa diganti dengan fresh employer. Maklum, mereka mampu membayar tinggi.

4. Dana yang besar untuk melakukan riset tersedia. Riset yang dilakukan adalah riset pengrmbangan produk, bukan riset dasar seperti yang dilakukan banyak perguruan tinggi.

5. Mereka mudah berkolaborasi dengan lembaga keuangan. Lalu, dengan point-point di atas, apakah lembaga pendidikan konvensional akan kalah dan tutup? Ini memerlukan riset dan analisis mendalam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun