Seniya
Seniya

Tulisan dariku ini mencoba mengabadikan, mungkin akan dilupakan atau untuk dikenang....

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Kisah Hakim Bao dan Para Pendekar Penegak Keadilan (Bagian 18)

8 Juli 2018   16:33 Diperbarui: 8 Juli 2018   18:50 350 0 0

KISAH HAKIM BAO DAN PARA PENDEKAR PENEGAK KEADILAN

BAGIAN 18 –  KAISAR RENZONG BERTEMU IBU KANDUNGNYA DAN DIAM-DIAM MENITAHKAN BAO MENGADILI GUO HUAI

Dengan menunggang kuda Bao Xing mengawal ibu suri sampai ke Istana Nanqing. Hari ini berbeda dengan kemarin; kebanyakan dipenuhi oleh tandu dengan pengawalan ketat. Mereka semua adalah para selir, putri kerajaan, dan para istri pejabat tinggi yang berdatangan tiada hentinya. Bao Xing yang mengetahui tata krama terlebih dahulu menuju pintu depan kediaman pangeran lalu turun dari kudanya, mengikat kuda tersebut, dan berjalan menuju pintu gerbang. Kebetulan ia melihat si botak Wang San di sana. Segera ia melambaikan tangannya dan maju ke depan sambil berkata, "Tuan Ketiga, Nyonya Besar kami telah tiba."

Wang segera masuk ke dalam. Tak lama kemudian tampak dari dalam keluarlah dua orang pengurus istana yang kemudian berkata kepada semua orang, "Memberitahukan kepada Tuan-Tuan semua: Yang Mulia Putri Di memerintahkan bahwa semua pengawal yang lelah karena perjalanan boleh pulang dan hanya mempersilakan Nyonya Besar Bao dari kantor prefektur Kaifeng untuk bertemu dengan beliau." Semua orang berulang kali mengiyakan. Bao Xing pun segera menyuruh para pengangkut tandu mengangkat tandu menuju pintu istana dan meminta dua orang pengurus tersebut masuk ke dalam memberitahukan hal ini kepada Putri Di. Setelah itu Wang keluar mengundang Bao Xing menuju ruang baca untuk minum teh. Hari ini Wang tampak lebih ramah daripada kemarin.

Tandu ibu suri dibawa sampai ke pintu kedua. Tampak empat orang kasim istana keluar, mengangkat tandu itu menggantikan para pengangkut tandu, dan membawanya menuju pintu ketiga. Setelah melewati pintu samping, barulah mereka meninggalkan tandu tersebut. Kemudian Pengurus Ning datang ke depan tandu, mengangkat tirai tandu, dan berkata, "Semoga Nyonya Besar sehat selalu." Ia segera melepaskan sandaran lengan lalu menyuruh pelayan wanita datang membantu ibu suri turun dari tandu. Ketika melihat Ning, ibu suri menyapanya, "Apa kabar, Paman?" Ning di depan menuntun jalan ke dalam istana.

Putri Di telah berada di luar pintu untuk menyambut ibu suri. Ketika ia melihat Nyonya Besar Bao dari jauh, ia merasa sangat terkejut karena wajah sang nyonya terlihat familiar, tetapi ia tidak dapat mengingatnya. Ibu suri datang ke hadapan Putri Di dan bermaksud memberikan penghormatan, tetapi sang putri mencegahnya dan berkata, "Anda tidak perlu memberikan penghormatan." Ibu suri juga tidak dengan rendah hati menolakya. Mereka berpegangan tangan satu sama lain dan bersama-sama mengambil tempat duduk.

Ibu suri melihat wajah Putri Di yang sudah banyak menua dibandingkan waktu itu. Ketika Putri Di duduk berhadapan dengan ibu suri dan melihat wajahnya, tiba-tiba ia teringat wajah ibu suri mirip dengan Selir Li yang telah diperintahkan kaisar terdahulu untuk bunuh diri. Sama sekali tidak terpikirkan olehnya bahwa Nyonya Besar Bao adalah ibu kandung kaisar yang sekarang, walaupun dalam hati ia merasa tidak tenang.

Setelah teh disajikan, mereka berdua berbincang-bincang. Pembicaraan mereka mengalir lancar bagaikan air; pembawaan ibu suri yang mudah bergaul benar-benar membuat semua orang menyukainya, termasuk Putri Di yang merasa cocok dengan ibu suri. Ia pun meminta ibu suri untuk tinggal di istana beberapa hari. Permintaan ini sesuai dengan keinginan ibu suri yang kemudian langsung menyetujuinya. Kemudian Putri Di memanggil pengurus rumahnya dan memerintahkan, "Beritahukan para pengangkut tandu dan yang lainnya tidak perlu menunggu; aku mengundang Nyonya Besar Bao untuk tinggal di sini beberapa hari. Berikan hadiah kepada para petugas itu sesuai dengan kebiasaan."

Saat ini perjamuan telah disediakan. Putri Di bermaksud untuk duduk di sebelah ibu suri agar lebih mudah berbincang-bincang dengannya. Ibu suri juga hanya menyetujui, sehingga tampak lugas dan santun. Putri Di sangat senang dengan pembawaan ibu suri ini. Ketika mereka minum arak, Putri Di sangat memuji kesetiaan, kejujuran, dan keluhuran Bao dengan berkata, "Ini semua berkat didikan moral Nyonya Besar." Ibu suri sedikit merendahkan dirinya menolak pujian itu. Putri Di juga menanyakan usia ibu suri; ibu suri menjawab, "Empat puluh dua tahun." "Berapakah usia putra anda Tuan Bao?" tanya Putri Di lagi.

Pertanyaan ini membuat ibu suri terdiam; seketika wajahnya tampak memerah dan ia tampak gugup serta tidak dapat menjawabnya. Melihat situasi ini, Putri Di tidak berani bertanya lebih lanjut, melainkan berpura-pura pergi memanaskan arak yang sudah dingin. Namun ibu suri juga tidak ingin minum arak lagi. Setelah selesai makan, mereka berdua duduk santai sambil berbincang-bincang. Kemudian Putri Di menemani ibu suri berkeliling ke setiap tempat di istana tersebut untuk menikmati pemandangan. Semakin Putri Di mengamati ibu suri semakin ia merasa Nyonya Besar Bao tersebut mirip dengan Selir Li yang telah meninggal; dalam hati ia merasa curiga.

"Baru saja aku bertanya kepadanya usia putranya, bagaimana mungkin ia tidak bisa menjawabnya? Seketika wajahnya memerah dan ia menjadi gugup! Di dunia ini bagaimana mungkin ada seorang ibu yang tidak mengingat usia putranya sendiri? Ini benar-benar mencurigakan. Mungkinkah ia ingin menipuku? Baiklah, aku sendiri telah memintanya tinggal di sini. Malam ini aku akan memintanya tidur bersamaku untuk menjalin keakraban, tetapi diam-diam aku akan menyelidiki tentang hal ini," pikir Putri Di. Setelah berpikir demikian, ia terus mengamati ibu suri. Ia melihat perilaku dan gerak-gerik Nyonya Besar Bao semakin lama semakin tak diragukan lagi adalah Selir Li. Namun dalam hati ia sama sekali tidak dapat memutuskan hal ini.

Pada malam harinya setelah selesai makan malam, mereka berdua masih berbincang-bincang dengan santai. Kemudian Putri Di memerintahkan, "Bersihkanlah dan rapikan kamar hening, dan juga bawakan bantal dan selimut serta letakkan di dalam kamar yang telah dibersihkan. Aku akan berbincang-bincang dengan Nyonya Besar Bao untuk menghabiskan waktu sambil menanti malam yang panjang." Ibu suri melihat hal ini sesuai dengan maksud hatinya. Tiba waktunya untuk tidur, semua pelayan termasuk para dayang diperintahkan untuk mengundurkan diri dan tidak diperbolehkan masuk ke kamar kecuali dipanggil.

Karena terus-menerus memikirkan mengapa Nyonya Besar Bao tidak mengetahui usia putranya sendiri, Putri Di pun bertanya dengan sengit, "Mengapa Nyonya Besar ingin menipuku?" Ibu suri tanpa sadar berseru sambil menangis, "Kakak, apakah engkau tidak mengenaliku lagi?" Ia tidak dapat menahan kesedihannya lagi. "Apakah Nyonya Besar adalah Yang Mulia Ibu Suri Li?" kata Putri Di dengan sangat terkejut. Mata ibu suri berlinang air mata sehingga ia tidak dapat berkata sepatah kata pun.

Putri Di merasa curiga dan mendesaknya, "Saat ini di sini tidak ada orang, mengapa Nyonya tidak menceritakannya kepadaku secara perlahan-lahan?" Setelah dapat mengendalikan dirinya, ibu suri menceritakan bagaimana kesengsaraan yang ia alami saat itu, bagaimana Yu Zhong mengobankan diri untuk menggantikannya, bagaimana ia kemudian dibawa keluar menuju Chenzhou, bagaimana ia bertemu dengan Bao yang berpura-pura mengakuinya sebagai ibu kandung, bagaimana ia tinggal di kamar suci dalam kediaman Kaifeng, berkat doa Nyonya Li memohon kesembuhan matanya sehingga ia dapat melihat lagi, dan akhirnya hari ini dapat pergi ke istana memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Putri Di demi mengungkapkan kejadian yang sebenarnya.

Mendengar kisah ini, Putri Di tak disangka juga ikut menangis. Setelah beberapa lama, ia bertanya, "Apakah Nyonya memiliki buktinya?" Ibu suri segera mengeluarkan bola emas miliknya lalu memberikannya kepada Putri Di. Setelah menerimanya, ia memeriksanya di bawah cahaya lentera. Lalu seketika dengan gemetar, ia menyerahkan kembali bola itu dan segera ia berlutut sambil berkata, "Hamba tidak mengetahui Yang Mulia telah tiba; hamba melakukan banyak kesalahan. Mohon Yang Mulia Ibu Suri mengampuni hamba!"

Ibu Suri Li segera membalas sopan santun itu dengan membantu Putri Di berdiri dan berkata, "Kakak tidak perlu seperti ini. Sekarang bagaimana caranya kita dapat memberitahukan kaisar tentang hal ini?" Putri Di berterima kasih kepada ibu suri lalu berkata, "Yang Mulia tenang saja. Saya memiliki suatu rencana." Kemudian ia bercerita, "Pada hari itu Selir Liu berkomplot dengan Guo Huai untuk menukar putra mahkota dengan kucing, tetapi untungnya pelayan Kou Zhu menyerahkan putra mahkota kepada Chen Lin yang kemudian membawanya dalam kotak buah menuju Istana Nanqing untuk dibesarkan. Setelah itu putra Selir Liu meninggal karena sakit dan putra Yang Mulia Ibu Suri yang dibesarkan di Istana Nanqing dipilih untuk mengisi kekosongan posisi putra mahkota. Ketika putra mahkota berkeliling istana, ia melihat Yang Mulia di Istana Dingin; karena merasakan ikatan emosional antara ibu dan anak, putra mahkota berlinang air mata. Selir Liu menjadi curiga dan menanyai Kou Zhu dengan siksaan, namun Kou Zhu yang berhati setia bunuh diri dengan membenturkan kepalanya ke anak tangga. Kemudian Selir Liu memfitnah Yang Mulia di hadapan kaisar terdahulu sehingga menyebabkan Yang Mulia diperintahkan bunuh diri oleh kaisar terdahulu."

Mendengar kisah ini, ibu suri seakan-akan terbangun dari mimpi dan tidak dapat menahan kesedihannya. Putri Di berusaha menghiburnya hingga akhirnya ibu suri dapat mengendalikan dirinya dan berkata, "Kakak, bagaimanakah caranya agar putraku mengetahui hal ini sehingga kami ibu dan anak dapat bertemu kembali?" "Saya akan berpura-pura jatuh sakit dan menyuruh Pengurus Ning melaporkannya kepada Yang Mulia Kaisar. Beliau pasti akan datang menjenguk orang tuanya sendiri. Pada waktu itu saya akan memberitahukan beliau kejadian yang sebenarnya." Ibu suri pun menganggap ini rencana yang bagus.

Keesokan harinya pagi-pagi sekali Putri Di mengutus Pengurus Ning menuju istana untuk melaporkan kepada kaisar: "Yang Mulia Putri Di semalam tiba-tiba jatuh sakit dan penyakitnya sangat parah." Pengurus Ning yang tidak mengetahui latar belakang masalahnya tidak berani menolak perintah dan segera menuju ke istana. Putri Di juga memberitahukan hal ini kepada Pangeran Liuhe.

Pada waktu jaga kelima Kaisar Renzong baru saja akan membuka pertemuan ketika ia melihat pengurus Istana Renshou (Berbelas Kasih dan Panjang Umur) datang melaporkan, "Tadi malam Yang Mulia Ibu Suri Liu jatuh sakit, sepanjang malam tidak bisa tidur." Mendengar hal ini, kaisar terlebih dahulu pergi ke Istana Renshou menjenguk Ibu Suri Liu dan diam-diam memerintahkan agar kedatangannya tidak diberitahukan sehingga tidak mengejutkan ibu suri. Dengan langkah yang pelan-pelan kaisar memasuki kamar ibu suri. Terdengar suara erangan lalu tiba-tiba terdengar suara ibu suri berteriak, "Pelayan Kou, kamu berani-beraninya melakukan hal yang keterlaluan ini!" dan seruan "Aiya!"

Pada saat itu seorang pelayan wanita mengangkat tirai bersulam kamar tidur ibu suri. Kaisar masuk ke dalam dan duduk pada sisi tempat tidur. Ibu suri Liu tiba-tiba terbangun dan melihat kaisar di sampingnya. "Terima kasih Yang Mulia telah memperhatikanku. Saya hanya tiba-tiba terkena demam, bukan penyakit yang parah. Yang Mulia tidak perlu khawatir," kata ibu suri. Setelah memberikan penghormatan, kaisar segera memerintahkan tabib kerajaan memeriksa kondisi ibu suri. Kaisar juga memberikan beberapa kata penghiburan agar ibu suri lebih bersemangat lalu ia pergi meninggalkan tempat itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2