Mohon tunggu...
Dr. Moses Simanjuntak
Dr. Moses Simanjuntak Mohon Tunggu... Konsultan - An Economist and A Statistician

Manage +/- inside me, always try to do the best, don't forget to take time to refresh (watching movies, listening to music, always making jokes as well)

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Perbaikan Sisi Supply Merupakan Prioritas Utama untuk Peningkatan Perekonomian Indonesia

23 Februari 2020   13:38 Diperbarui: 25 Februari 2020   12:05 625
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Bangladesh dan Vietnam merupakan negara yang memiliki kemajuan yang sangat pesat dalam membangun perekonomiannya. Menurut laporan World Economic Forum (2019), pertumbuhan ekonomi Bangladesh pada tahun 2020 akan mencapai 8%. Bangladesh menjadi sebuah negara pada tahun 1971, dimana perekonomannya sangat miskin, dengan pertumbuhan ekonomi minus 14%. Iklim politik Bangladesh pada saat itu berada di tingkat ketidakstabilan, dengan kondisi negara yang hancur oleh banjir dan kelaparan.

The Global Competitiveness Report (2019) menempatkan Bangladesh berada pada urutan ke-105 dunia. Semakin kompetitif suatu negara, maka semakin besar kemungkinan negara itu dapat meningkatkan standar hidup masyarakatnya. Sejak tahun 1970, Bangladesh sudah memiliki perdagangan garmen dan sampai sekarang sudah menjadi industri bernilai USD 30 miliar. Ekonomi Bangladesh sedang mengalami diversifikasi, dengan sektor jasa, termasuk keuangan mikro dan komputasi yang sudah mencapai 53% dari PDB negara.  

Bangladesh memiliki pusat transformasi digital yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonominya secara berkelanjutan.  Bangladesh berhasil mengekspor hampir USD 1 miliar produk berteknologi setiap tahun, dimana pada tahun 2021 diharapkan akan meningkat menjadi USD 5 miliar. Bangladesh juga memiliki 600.000 freelancer IT. Kedepannya, Bangladesh akan terus memperbaiki tingkat kesehatan, pendidikan, kematian bayi, dan harapan hidup masyarakatnya.  

Pada tahun 1986, Vietnam melakukan reformasi ekonomi dan politik, Doi Moi, socialist-oriented market economy, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang cepat. Dari tahun 2002 sd 2018, lebih dari 45 juta orang diangkat dari tingkat kemiskinan, menurun tajam lebih dari 70% menjadi di bawah 6% (USD 3,2 perhari, PPP), dengan PDB per kapita meningkat 2,5 kali lipat, lebih dari USD 2.500 (World Bank, 2019). 

Ada tiga faktor utama sebagai pendorong ekonomi Vietnam, yaitu "Pertama, ekonomi yang menganut sistem perdagangan liberal dengan penuh semangat. Kedua, ekonomi yang melengkapi sistem liberal dengan reformasi domestik melalui deregulasi dan menurunkan biaya dalam berbisnis. Terakhir, ekonomi yang sudah banyak berinvestasi pada sumber daya manusia dan infrastruktur, terutama melalui investasi publik" (World Economic Forum, 2018).  

Pada tahun 2006, The Global Competitiveness Vietnam menempati peringkat ke-77, dan pada tahun 2017 menempati peringkat ke-55. Di tahun 2007, ease of doing business Vietnam menempati peringkat ke-104, dan di tahun 2017 sudah mencapai peringkat ke-68. Vietnam berhasil menegakkan sistem kontrak proyek, meningkatkan akses ke kredit perbankan, listrik, pajak, dan perdagangan lintas batas. Melalui Revolusi Industri 4.0, Vietnam banyak berinvestasi pada infrastruktur yang memastikan akses murah ke internet.

Vietnam membangun infrastruktur yang diperlukan dunia bisnis dan menyediakan market-friendly policies in place, sehingga menjadikan Vietnam sebagai pusat investasi dan manufaktur asing di Asia Tenggara. Jepang dan Korea membangun perusahaan elektroniknya seperti Samsung, LG, Olympus dan Pioneer, begitu juga pembuat pakaian Eropah dan Amerika yang tak terhitung banyaknya sudah mendirikan tokonya di Vietnam. 

Financial Times (2017) melaporkan bahwa Vietnam sebagai pengeksport pakaian terbesar di kawasan ini dan pengeksport elektronik terbesar kedua setelah Singapura. Di saat perang dagang sekarang ini, Vietnam juga mengandalkan pertumbuhan ekonominya dari konsumsi kelas menengahnya sendiri yang sedang berkembang dan banyak perusahaan Tiongkok melakukan relokasi ke Vietnam.

Untuk memperoleh pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan, dibutuhkan adanya integritas inovasi/teknologi dan perbaikan dari dampak buruk perubahan iklim (Romer dan Nordhaus) [1]. Joseph Stiglitz (2020) meyatakan bahwa untuk memperbaiki dampak buruk perubahan iklim serta adanya perlindungan akan kesehatan dan keselamatan pekerja, maka diharapkan adanya dukungan penuh dari perusahaan untuk membayar pajak dan upah yang layak, serta adanya dukungan dari peraturan pemerintah.        

Menurut data Bank Indonesia dari tahun 2016 sd 2019, Prompt Manufacturing Index (PMI) yang mengindikasikan kinerja industri pengolahan Indonesia, mengalami ekspansi maupun kontraksi, dengan indeks pembatasnya 50%. Terjadi kontraksi sebanyak 4 kuartal dan sisanya 12 kuartal sebagai ekspansi, dimana selalu terjadi ekspansi sejak tahun 2018 sd 2019. PMI menyebar dari 46.69% (minimum) sd 52.66% (maximum), dengan rataan 50,85% dan simpangan baku 1,89%. Pada tahun 2020, PMI kuartal pertama diharapkan mencapai 52,73%.

Untuk memperbaiki sisi supply, ada baiknya bahwa arah perekonomian Indonesia memperbaiki peringkat The Global Competitiveness Report yang pada tahun 2019 menempati peringkat ke-50 dunia, sehingga kedepannya diharapkan dapat meningkatkan standar hidup masyarakatnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun