Humaniora

Krisis Toleransi Menggerogoti NKRI

14 Februari 2018   20:36 Diperbarui: 14 Februari 2018   20:48 390 1 0
Krisis Toleransi Menggerogoti NKRI
Sumber : kicaunews.com

Keberagaman masyarakat Indonesia seharusnya dapat menjadi pemersatu negara, bukan penghancur bangsa.

Baru-baru ini, masyarakat Indonesia digemparkan oleh berita penyerangan yang dialami seorang Romo dan jemaat di Gereja St. Lidwina, Jambon Trihanggo, Gamping, Sleman, D.I Yogyakarta saat ibadah misa sedang berlangsung. 

Kasus ini tentu menyita begitu banyak perhatian masyarakat Indonesia, mengingat kasus "berbau" intoleransi salah satunya seperti perbedaan agama, seolah  tidak ada obat penyembuhnya .  Koordinator Desk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) Komnas HAM, Jayadi Damanik sangat menyesali terjadinya kasus intoleransi di Indonesia ini. Diungkapkan oleh KBB Komnas HAM, terdapat 100 kasus pada tahun 2016 terkait intoleransi beragama di Indonesia. Fenomena ini tentu sangat disayangkan. Presiden Indonesia, Joko Widodo juga turut mengecam perbuatan intoleransi yang terjadi di Indonesia.  

"Konstitusi kita menjamin kebebasan beragama. Oleh sebab itu, kita tidak memberikan tempat secuil pun pada orang-orang yang melakukan, mengembangkan, dan menyebarkan intoleransi di negara kita," ujar Jokowi di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Senin, 12 Februari 2018.

Pernyataan Presiden Jokowi ini memang sudah sejalan dengan beberapa kegiatan yang sudah pernah dilakukukan oleh pemerintah Indonesia, guna memberantas kegiatan intoleransi seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya . Salah satu tindakan tegas pemerintah Indonesia yang memang sudah jelas wujudnya adalah perancangan perundang-undangan yang mengatur Hak Asasi Manusia dan pembentukan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Salah satu isi dari perundang-undangan tersebut adalah  hak untuk memilih agama dan menjalankannya. Hal ini sekaligus menjadi  satu dari beberapa fokus dari Komnas HAM. Hak untuk memilih agama dan menjalankannya sudah diatur dengan baik dalam perundang-undangan Indonesia. Namun, mengapa kejadian intoleransi ini tetap saja bisa terjadi? 

Bagi saya, faktor utama yang menyebabkan munculnya rasa intoleransi ini adalah lingkungan tempat kita tinggal. Cakupan  lingkungan dalam hal ini tidak hanya  seputar keluarga yang menjadi tempat kita belajar pertama kali saja. Tetapi juga  meliputi lingkungan sekolah, organisasi, teman bermain, teman belajar,  dan lain-lain.

Di lingkungan lah kita saling bertukar rasa, pikiran, pandangan, sampai tindakan. Maka ketika kita membicarakan buruknya suatu hal di lingkungan, pembicaraan tersebut akan berkembang secara masif karena dibicarakan oleh banyak orang. Hal tersebut juga berlaku bagi penilaian akan suatu agama. Ketika lingkungan tempat kita tinggal dan bergaul memiliki pandangan buruk akan suatu agama tertentu, pandangan tersebut secara sadar ,maupun tidak, akan masuk dan diserap oleh pikiran kita.

Hal ini menjadi alasan utama dibutuhkannya kebijaksanaan dari setiap orang dalam menyaring segala informasi yang didengar setiap saat. Bagi saya, kebijaksanaan adalah satu-satunya obat yang dapat digunakan untuk menyembuhkan "kesakitan" Indonesia ini. Lalu bagaimana cara untuk menumbuhkan kebijaksanaan ini?

Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kebijaksanaan tersebut. Hal tersebut tidak harus  dimulai dengan tindakan yang besar. Tindakan kecil pun dapat  berdampak besar jika kita melakukannya dengan niat dan kesadaran yang tinggi. Salah satu hal kecil yang bisa kita lakukan adalah dengan menghargai keberagaman itu sendiri. Menghargai keberagaman berarti kita menerima segala perbedaan yang ada. 

Sifat saling menghargai ini akan sangat berguna bagi persatuan  masyarakat Indonesia. Hal ini mengingat, perbedaan di Indonesia adalah  hal yang tidak dapat dihindari. Akan selalu ada perbedaan yang tumbuh  dan berkembang di setiap lapisan masyarakat Indonesia itu sendiri.  Perbedaan kebudayaan, agama, hingga pandangan akan selalu kita jumpai  setiap harinya. Mari menerima perbedaan, mari mensyukuri keberagaman.


Editor : Tieni Feranica Kairupan