Mohon tunggu...
Momon Sudarma
Momon Sudarma Mohon Tunggu... Penggiat Geografi Manusia

Tenaga Pendidik

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Belajar Mengajar Lagi di Masa Pandemi!

29 Januari 2021   06:18 Diperbarui: 29 Januari 2021   06:41 59 6 1 Mohon Tunggu...

Konsep belajar mengajar sudah sering dituturkan dalam lisan kita. Tetapi, tidak semua sadar dan siap untuk melaksanakan aktivitas yang satu ini, termasuk didalamnya adalah para guru, para orangtua, dan juga pemerintah. Cukup banyak anggota masyarakat kita, yang kerap menuturkan kalimat ini, namun gagal memahami makna didalamnya.

Dalam pemahaman penulis, selama ini, hubungan antara belajar dan mengajar ini, ada empat kategori, dua diantaranya adalah belajar mengajar dan mengajar belajar. Dua konsep itu, memiliki kosa kata yang sama, namun mengandung makna yang berbeda, bahkan berbeda sekali lagi.

Seseorang dikatakan sedang mengajar (i) belajar, adalah proses dari orangtua atau orang dewasa untuk menciptkan lingkungan dan kondisi, sehingga bisa belajar. Prakteknya, seperti seorang guru di depan kelas, menghadapi para siswanya, dan atau orangtua yang sedang mendamping anak selama pandemi. Praktek itu, disebutnya adalah mengajar belajar kepada siswa atau anak-anak kita.

Ada satu fenomena lagi, yang kerap banyak dilupakan orang, yakni untuk meningkatkan kualitas diri kita, baik sebagai orangtua maupun tenaga pendidik, yakni harusnya belajar mengajar. Terlebih lagi, di era pandemi seperti sekarang ini.

Bukankah semua menyadari bahwa di era pandemi ini, ada sebagian diantara kita yang gagal fokus dengan layanan pendidikan. Alih-alih memberikan pembelajaran kepada peserta didik, yang ada adalah memberikan pembebanan hidup. Alih-alih sedang mengajar, yang terjadi malah sedang melanggar hak-belajar, karena yang ada lebih sekedar suruhan atau titahan yang tidak ada maksud dan tujuan yang jelas.

Dalam konteks inilah, rasa-rasanya, sudah sepantasnya, bila kemudian kita, khusus para guru atau calon guru, untuk belajar mengajar lagi. Kita harus belajar mengajari yang benar kepada peserta didik. Kita harus belajar mengajar yang kontekstual, yang sesuai dengan situasi dan kondisi, jangan samapia cara mengajar daring disamakan dengan cara memgajar luring, atau lain sebaliknya.

Berbagai kasus kekerasan orangtua kepada anak, dan atau kekerasan anak kepada orangtua, akibat dari kekecewaan perlakuan orangtua kepadanya, merupakan contoh lain, dari bentuk kegagalan mengajar orangtua di rumah. DI rumah kita, cukup ada orangtua, tetapi tidak dewasa dalam mengajar. Di rumah kita ada orang yang dianggap tua, tetapi tidak matang dalam mengajar, akibatnya gagal praktek pembelajaran di rumah kepada anggota keluarganya. 

Di sinilah, kita melighat, bahwa kita semua, baik guru, orangtua, instruktur, politisi, elit agama dan elit negara, perlu lagi belajar mengajar kepada warga negaranya.

VIDEO PILIHAN