Mohon tunggu...
Momon Sudarma
Momon Sudarma Mohon Tunggu... Penggiat Geografi Manusia

Tenaga Pendidik

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Di Era Pandemic, Banyak Anak PAUD Mengundurkan Diri

17 Juni 2020   05:22 Diperbarui: 17 Juni 2020   05:33 80 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Di Era Pandemic, Banyak Anak PAUD Mengundurkan Diri
paud-anakbermainbelajar.blogspot.com

Sesuai dengan imbauan Pemerintah.  Di duga, puluhan juta, atau hampir 28 jutaan anak bangsa di Indonesia ini, terganggu pelaksanaan proses pembelajarannya. Mulai dari jenjang pendidikan anak usia Dini (PAUD), pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Proses pelaksanaan pembelajarannya terganggu. Orang mengatakan itulah yang disebut disrupsi terpaksa, karena pandemic dipaksa harus mengubah pola layanan pendidikan dan pembelajaran di dunia pendidikan.

Di luar pro kontra mengenai kapan masuknya anak sekolah ke persekolahan, fenomena di awal tahun ini, ada gejala yang unik. Keunikan ini, bisa jadi merupakan sebuah indikasi, mengenai "kurang efektifnya layanan pendidikan daring" sebagaimana dilaksanakan selama pandemic kali ini.

Ya. pelaksanaan Daring di era pandemic tidak efektif, bila melihat gejala seperti yang terungkap saat ini.

Pertama, pembelajaran daring mensaratkan ada peran nyata dari orang tua, untuk membantu melaksanakan pengkondisian anak di rumah. Tanpa ada peran orangtua, pembelajaran dari akan sulit dilakukan.  Terkait hal ini, khusus di lembaga pendidikan PAUD, alih-alih, merasa terbantu, sejumlah orangtua karir, dengan kewajiban tambahan seperti ini, maka pembelajaran daring, menjadi satu hal yang menyulitkan bagi dirinya.

Mereka bukan hanya harus melaksanakan work from home (WFH), tetapi juga harus membantu tugas guru dalam memberikan layanan pendidikan kepada anak-anaknya di rumah.

"Lha... kok begini sih ?"

Kedua, dalam wacana ini, salah satu fungsi laten dunia pendidikan, adalah membantu orangtua karir dalam meningkatkan efektivitas kerja. Disaat orangtuanya  harus bekerja di luar rumah, maka anak-anak dibawah umurnya, kemudian "dititipkan" ke sekolah untuk dibina, dilatih, dan didik, sembari mengasuhnya sampai sang orangtua pulang dari tempat kerja.

Sekali lagi, tidak aneh, dan jangan heran, di sejumlah lembaga PAUD di perkotaan, tempat belajar ini, menyediakan pula layanan purna belajar dengan model layanan day-care. Anak-anaknya di urus, diasuh, diajari, sampai menjelang sore, hingga orangtuanya menjemput sambil pulang dari kantor.

lha, gimana bisa begitu \, jika kemudian kini harus memberikan bantuan belajar kepada anak PAUD suruhan guru dari Daring, selama pandemic ini, bukankah dirinya pun, harus menjalankan tugas WFH pula ?

Pada konteks itulah, tidak mengherankan, pengalaman  para penyelenggara layanan pendidikan day care atau PAUD merasa dirugikan dengan sistem daring. Mereka memandang, bukan Daring yang menyebabkan lemahnya kualitas layanan pendidikan, tetapi karena sistem daring era pandemic ini, belum membantu kesuksesan kinerja orangtua karir.

sejumlah orangtua karir dari calon peserta didik PAUD, memandang penyelenggaraan daring di era pandemic, bagi anak PAUD, bukan saja tidak membantu proses kelancaran karirnya di dunia kerja, malah menambah beban dan kerepotan hidupnya di rumah. Disampaing harus melaksanbkana tugas WFH sebagaimana kewajiban dirinya dari tempat kerja, pun, harus memperhatikan anak-anaknya belajar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN