Mohon tunggu...
mommy fox
mommy fox Mohon Tunggu... Freelancer - Penulis Desa

Bismillah, everythng is okay

Selanjutnya

Tutup

Worklife

PNS, Tetap jadi Profesi Idaman di Tengah Cacian

19 September 2022   11:07 Diperbarui: 19 September 2022   11:21 69 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Beberapa tahun belakangan, profesi PNS atau Pegawai Negeri Sipil sering menjadi bulan-bulanan masyarakat. Berbagai kritik dan cacian sering muncul di internet, baik karena kinerja atau masalah individual.Padahal, setiap tahun lowongan CPNS tidak pernah sepi peminat. Ribuan orang siap melamar, walaupun dalam prosesnya terkesan cukup rumit dengan berbagai berkas dan prosedur yang lumayan panjang hingga tes yang tidak hanya satu kali saja. Tidak jarang yang menyiapkan diri matang-matang untuk mengikuti tes ujian CPNS, ada yang membuka les khususnya, tutorial di youtube juga mudah dicari, hingga masih ada juga yang terjebak oleh penipuan berkedok akan meloloskan ujian CPNS tanpa tes. Hal itu mengindikasikan profesi PNS memang masih menjadi idaman di mata masyarakat.
Apa yang membuat PNS istimewa? Identitas khusus berupa adanya Nomor Induk Pegawai atau NIP, gaji yang disertai tunjangan, adanya uang pensiun jika sudah purna, hingga jam kerja yang dikatakan sangat ideal. Sayangnya, di sisi lain masyarakat memandang PNS sebelah mata sebagai pegawai yang pekerjaannya mudah dan tidak butuh isi kepala. Komentar dan stigma tersebut muncul karena label PNS sebagai abdi negara dan abdi masyarakat namun masyarakat sering menemui PNS khususnya di daerah yang sulit ditemui (jam kerjanya hanya pukul 10 pagi hingga pukul 2 siang), pelayanan yang tidak maksimal (tidak tersenyum dan tidak sopan), dan hal-hal serupa lainnya.
Uniknya, penilaian tersebut tidak mengubah mindset masyarakat untuk tetap menjadikan PNS sebagai profesi idaman walaupun di tengah-tengah cacian. PNS masih menjadi profesi yang disarankan dan pilihan.
Jika mau dilihat lebih dalam, PNS yang bekerja dengan sungguh-sungguh jauh lebih banyak daripada oknum yang menjadi bahan stigma negatif masyarakat. Apalagi sekarang, untuk menjadi PNS harus melewati berbagai tes. Tentu bukan hal mudah, dan yang bisa menjadi PNS tentunya orang dengan akademik yang baik. Tidak ada lagi suap-menyuap dan KKN dalam prosesnya karena semua dilakukan secara transparan.

Mengapa di Indonesia menjadi pegawai negeri sipil masih begitu menjanjikan? Karena perusahaan swasta (kebanyakan) tidak memberikan tunjangan untuk hari tua atau pensiun. PNS juga dianggap sebagai profesi yang aman, dalam arti walau keadaan negara inflasi atau deflasi, krisis atau tidak, PNS akan tetap mendapat gaji yang tetap. Indonesia sebagai negara berkembang, memiliki opsi pekerjaan yang tidak seluas negara maju yang biasanya identik dengan negara industri. Selain itu, persebaran perusahaan swasta yang bagus (tentunya juga menjanjikan) masih terpusat di Jabodetabek, sehingga untuk di luar Jawa, lapangan pekerjaan tidak terlalu banyak pilihannya.
Menjadi PNS juga adalah titik aman profesi, selama tidak melanggar kode etik dan tidak berbuat pidana, tidak akan dipecat. Sungguh berbeda dengan bekerja di swasta yang rawan dipecat atau saling sikut sesama teman kantor.
Walau terus dikatakan bahwa gaji PNS itu kecil, namun buktinya hingga saat ini PNS masih menjadi profesi idaman. Lagi pula, kini negara perlahan sedang berbenah untuk memperbaiki birokrasi.
Jika akhir-akhir ini mencuat berbagai kasus yang melibatkan PNS, tentu hal tersebut memiliki sanksinya tersendiri. PNS atau pegawai negeri sipil, diberi gaji oleh negara melalui uang pajak rakyat, maka sudah semestinya menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan baik. PNS dan negara harus terus berbenah untuk memperbaiki kualitas baik akademi maupun moral dan loyalitas.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan