Mohon tunggu...
Dwi Septiyana
Dwi Septiyana Mohon Tunggu... Guru - Pegiat literasi dan penikmat langit malam

Pegiat literasi dan penikmat langit malam

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Lelaki Penunggu Sungai

6 November 2021   17:20 Diperbarui: 6 November 2021   19:45 233
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Cerpen Kang Dwi

Sontak bocah-bocah itu berteriak, saling melempar ejekan, lalu terbahak, berlarian menuju tempat berkumpul setelah matahari tergelincir. Ada saja kelakuan mereka, mengambil rumput teki, dibentuk menyerupai raket (batangnya dipegang dengan bentuk melingkar di bagian atasnya), kedua batang antar lawan dimasukkan ke lingkaran satu sama lain. Lalu saling adu siapa yang terkuat tidak putus. Sedangkan bocah lainnya bersenandung, ayang ayang gung, gung goongna rame, menak ki mas tanu nu jadi walanda..., lalu kembali terbahak.

Hanya bocah yang punya nyali, memiliki tubuh besar--dengan menakjubkan--berdiri di jembatan kecil mengambil ancang-ancang, melompat, berjungkir balik sebelum menceburkan tubuhnya ke dalam arus. Sesaat bocah itu tenggelam, lalu menyembulkan kepalanya sembari tersenyum penuh kebanggaan. Menyiprat-nyiprat air dengan kedua kaki yang seperti melambai, menghamburkan air ke segala arah, membasahi orang-orang yang selonjoran dengan kaki menggantung di atas jembatan tadi. Keseruannya bukan hanya ketika mereka salto dan menceburkan diri, mereka beradu seberapa cantik gaya berenang dengan meliuk-liukkan badan melawan arus sungai.

Selalu seperti itu. Sore yang ramai di bantaran sungai kampungku. Benar-benar menyenangkan melihat hiruk pikuk seperti itu. Anak-anak yang lebih besar lagi, usia remaja, berkelompok tiga-empat laki-laki. Lalu saling lirik dengan sekumpulan gadis dengan jumlah yang nyaris sama berlawanan jenis. Gombalan-gombalan receh dilemparkan malu-malu yang membuat pipi para gadis merona. Diselingi tawa yang dipaksakan, hanya agar tampak menyenangkan.

Aku sendiri selalu saja duduk di atas seonggok batu sebesar anak munding, tempat paling nyaman yang biasa aku duduki, mengamati semua yang terjadi setiap sorenya. Bentuk batu itu memang menyerupai munding. Itulah kenapa orang-orang menamakannya jojodog anak munding. Bahkan setiap pagi, setiap siang, terkadang pada tengah malam pun, aku akan duduk di jojodog anak munding, hanya untuk meyakinkan air sungai tetap mengalir.

Aku tidak seperti bocah lain seumuran yang selalu riang gembira berhamburan dengan bocah lainnya, saling bercanda tawa, yang terkadang diselingi pertengkaran kecil, "manéh wanina ka budak leutik", "sok kadieu lamun wani", "digulung ku urang", atau bocah yang nyalinya ciut, lalu jurus pamungkas "béjakeun ka bapa urang siah!"

Tidak ada. Hampir semua tabiat bocah umumnya tidak ada pada diriku. Diriku selalu bertanya bagaimana bisa air terus mengalir seperti itu. Dari mana sumber airnya, kenapa tidak habis atau mengering, padahal tempatnya lebih tinggi dibanding bagian hilir. Kalau kata bapakku air sungai itu berasal dari hujan. Lalu aku bertanya balik, kalau berasal dari air hujan, harusnya hujan terus turun tidak pernah reda, biar sungai tidak mengering, tetapi kenyataannya tidak seperti itu.

Perlahan, bocah-bocah itu mulai mengamati diriku yang selalu duduk di jojodog anak munding. Awalnya mereka bertanya-tanya kenapa diriku selalu terduduk di batu itu. Aku hanya tersenyum. Lama kelamaan mereka mulai berani mengata-ngataiku, lalu mengejek diam-diam, sampai pada akhirnya mencibir terang-terangan.

"Budak lhoan! Anak ingusan" kata mereka dengan wajah menghina dan tangan menunjuk ke arahku. Teriakkan yang membuat hatiku sakit. Aku hanya terdiam sambil sekali-kali memaksakan senyum. Tapi membuat bocah-bocah itu menjadi-jadi.

"Lihat anak itu, kepalanya peang. Wajahnya saja kayak alas kaki, datar! Hahaha..."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun