Mohon tunggu...
Moh Tamimi
Moh Tamimi Mohon Tunggu... Jurnalis, Traveler, Guru.

Mahasiswa Pascasarjana Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Menghargai Air untuk Kehidupan

5 Mei 2021   15:57 Diperbarui: 6 Mei 2021   08:14 65 3 0 Mohon Tunggu...

Oleh: Moh. Tamimi*

"Setiap keluarga bahagia terlihat sama; setiap keluarga tidak bahagia melalui jalannya masing-masing." (Leo Tolstoy dalam novel Anna Karenina)

Semua orang "bahagia" yang hidup bergelimang air tampak sama, mereka menggunakan air tanpa kekhawatiran: menyisakan air dalam gelas ketika menghadiri undangan atau acara, meninggalkan kran air tanpa tertutup hingga air dalam bak mandi meluap, membuang-buang air, bahkan mencemari sumber air tanpa merasa bersalah.

Hal-hal seperti itu kerap terjadi di mana-mana, polanya selalu sama, dan mereka tidak begitu hirau tentang itu.

Mungkin mereka berpikir, air masih berlimpah, mudah dan murah dibeli, sumber air tidak akan habis hanya karena setengah gelas air dibuang percuma, air sungai akan terus mengalir dan sampah akan berlalu begitu saja.

Pertanyaannya, berapa orang yang berpikiran demikian?

Misal dalam sebuah undangan disuguhi air botol 600 ml, selesai acara, rata-rata sisa air dalam botol anggap saja 50 ml, ada seratus peserta undangan, maka air yang dibuang percuma sebanyak 5000 ml atau sama dengan 5 liter air. Lima liter air sama dengan setengah galon ukuran kecil berkapasitas 10-12 liter. Bayangkan jika ada puluhan atau ratusan acara di sebuah kota dalam setiap harinya.

Ini masih masalah konsumsi, belum lagi botol airnya yang dibuang sembarangan ke daerah aliran sungai sehingga membuat sungai mampet dan tercemar.

Perilaku satu orang mempunyai dampak bagi banyak orang dan keberlangsungan lingkungan hidup, baik disadari atau tidak.

Orang-orang seperti di atas mungkin adalah "keluarga bahagia" yang menganggap semua serba mudah. Padahal, sebotol air yang mereka minum telah melalui tahapan yang sangat panjang, mulai dari eksploitasi air di sebuah pegunungan, pengemasan oleh pabrik, pendistribusian ke toko-toko, hingga bisa mereka konsumsi. Tidak  cukup sampai di situ, botol bekas mereka masih melanjutkan "perjalanannya," entah berakhir di tempat sampah atau berakhir di tempat daur ulang botol plastik, syukur tidak tercecer di tempat umum.

Di sisi lain, ada "keluarga tidak bahagia" yang sedang menjalani nasibnya, hidup di daerah yang kekurangan air. Kekeringan yang terjadi di Afrika Selatan dan daerah-daerah gurun mungkin sudah jamak diketahui lewat media massa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN