Mohon tunggu...
MAS
MAS Mohon Tunggu... Lainnya - Mochammad Hamid Aszhar

Pembelajar kehidupan. Pemimpin bisnis. Mendedikasikan diri membangun kesejahteraan fisik, mental dan spiritual masyarakat melalui pendidikan dan kewirausahaan.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Be x Do = Have

1 Desember 2022   07:50 Diperbarui: 2 Desember 2022   05:03 81
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Lyfe. Sumber ilustrasi: FREEPIK/8photo

Ada 3 level perubahan. Pertama adalah perubahan identitas (be). Kedua adalah perubahan proses (do). Ketiga adalah perubahan hasil (have). Ketiga level perubahan ini bisa diformulasikan dengan be x do = have. Insanity is doing the same thing over and over and expecting different results, demikian disampaikan oleh Albert Einstein. Bila diilustrasikan, misalnya kita merencanakan memiliki properti senilai Rp 10 Milyar (have) maka probablitas kemungkinannya bisa dengan kita memiliki produk dan/atau jasa senilai Rp 1 Milyar (be) kita jual sebanyak 10 kali (do) atau produk dan/atau jasa senilai Rp 1 Juta (be) kita jual sebanyak 10.000 kali (do). 

Formula tersebut bisa kita terapkan kepada diri sendiri. Bila diri kita (be) memiliki nilai yang tinggi high valuemaka spend energy yang kita keluarkan (do) untuk sukses entah itu dengan memiliki sesuatu atau menjadi apa yang di impikan (have) menjadi rendah. Bila dikuantifikasikan dengan ilustrasi angka, misalnya be kita Rp 1 Milyar, kita hanya spend energy sebanyak 10 untuk kita sukses senilai Rp 10 Milyar. Sebaliknya, misalnya be kita hanya Rp 1 Juta, kita akan spend energy sebanyak 10.000 untuk kita sukses senilai Rp 10 Milyar.

Pertanyaannya adalah apabila merencanakan kesuksesan pribadi atau pendapatan bisnis kita sebesar x (sebutkan dalam hati), apakah kita sudah menjadi pribadi atau memiliki produk dan/atau jasa senilai y (sebutkan dalam hati) dan mengeluarkan spend energy sebesar z (sebutkan dalam hati) ?

Apabila kesuksesan pribadi atau pendapatan bisnis kita tinggi, maka sejatinya pribadi kita telah menjadi pribadi high value atau produk dan/atau jasa kita bernilai tinggi di persepsi konsumen. Pararel dengan itu bisa jadi spend energy yang kita keluarkan juga tinggi sehingga hasilnya maksimal. Sebaliknya bila kesuksesan pribadi atau pendapatan bisnis kita rendah, maka sejatinya pribadi kita telah menjadi pribadi low value atau produk dan/atau jasa kita bernilai rendah di persepsi konsumen. Pararel dengan itu bisa jadi spend energy yang kita keluarkan juga rendah sehingga hasilnya minimal. Ingat dalam hukum alam, kita tidak menarik apa yang kita inginkan, tetapi kita menarik siapa diri kita. We do not attract what we want, but what we are. Diri kita adalah yang pertama identitas kita (be) yang meliputi belief system, values, karakter, kompetensi dan kapabilitas serta yang kedua apa yang sudah kita lakukan (do) yang meliputi cara kita berpikir dan mengambil keputusan (mindset), cara kita bertindak (action), kebiasaan-kebiasaan kita (habits) dan kemanfaatan kita bagi sesama (contribution).

Referensi :

Ibn Katsir, Ismail  (774 H) "Tafsir Alquran al-Adziim", Dar Alamiah (QS 7 : 96)

Hansen, Mark Victor Hansen, Robert G. Allen, The One Minute Millionaire: The Enlightened Way to Wealth, Currency; Reprint edition (August 4, 2009)

Fromm, Erich, To Have or To Be?, Bloomsbury Academic; Reprint edition (June 27, 2013)

Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun