Rizki Luthfiah Aziz
Rizki Luthfiah Aziz

Seorang kelana pemula yang berusaha menjadi pelaut ulung dalam mengarungi samudra kehidupan dan menyelami misteri alam.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Setiap Manusia Perlu Peranan

10 April 2017   21:28 Diperbarui: 1 Oktober 2017   10:38 179 4 1
Setiap Manusia Perlu Peranan
Rob Gonsalves

Gambar di atas adalah sebuah lukisan karya Rob Gonsalves, seorang pelukis Kanada yang beraliran magical realism. Gaya lukisan yang sedang penulis gemari akhir-akhir ini. Ilusi-ilusi yang dihadirkan oleh gaya lukisan magical realism kerap memaksa setiap orang yang melihatnya untuk berpikir lebih dalam akan pesan apa yang ingin disampaikan oleh si pelukis. "Mind blowing" kalau istilah populer di kalangan anak muda. 

Tulisan ini adalah tulisan pertama penulis di Kompasiana. Begitu banyak pemikiran-pemikiran random dalam pikiran penulis menegenai berbagai hal terkait manusia dan alam sekitarnya. Banyak orang bijak mengatakan bahwa dengan menulis maka keabadian dapat digenggam. Satu yang penulis ingat adalah pesan mendiang Pramoedya Ananta Toer yang mengatakan, “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. 

Dusta bila penulis tidak mengaku bahwa ada keinginan kuat untuk mendapat secuil tempat dalam ruang sempit sejarah. Untuk mendapat tempat itu maka setiap orang perlu mendapat peranan. Semakin besar peranan, semakin kuat sejarah mengenang. Tanpa ambisi tercatat sejarah pun, memiliki peranan berarti adalah suatu keharusan demi menjalani hari-hari dengan penuh martabat sebagai manusia seutuhnya. Sebab setiap kita bukanlah hewan yang hanya hidup untuk makan -  tidur - bekembang biak - mati.

Pendidikan: Wadah Pencetak Peranan

Upaya meraih dan mendalami pengetahuan memang tidak hanya didapat di bangku sekolah. Namun kita hidup di mana segala lini kehidupan sudah menjadi bagian dalam sistem yang tersusun rapih, tidak terkecuali sistem pendidikan. Kita tidak lagi hidup di zaman di mana bila hendak menguasai jurus bela diri maka perlu belajar dari seorang pendekar dalam waktu lama tanpa ijasah dan kepastian akan kemana setelah menamatkan belajar nantinya. Kepuasan batin tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ketika kita masuk Sekolah Dasar sesungguhnya itu merupakan titik penentu masa depan kita yang paling dasar. Setiap anak SD mendapat label anak sekolahan. Setamat dari SD, enam tahun selanjutnya adalah proses pengembangan yang semakin mengerucutkan kemungkinan-kemungkinan peranan yang kita dapat dalam kehidupan bermasyarakat kelak. Label yang sama masih tertanam hingga lulus SMA.

Setamat dari SMA, pengerucutan semakin menjadi-jadi. Untuk di Indonesia, tidak mayoritas anak SMA melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tidak semua yang melanjutkan ke perguruan tinggi masuk ke perguruan tinggi negeri, terus berlanjut ke pengerucutan-pengerucutan selanjutnya. Ilustrasinya adalah bahwa by design mahasiswa kedokteran bisa dikata tidak mungkin menjadi pilot pesawat terbang, begitupun setiap siswa sekolah penerbangan tidak mungkin menjadi dokter bila merujuk pada latar belakang pendidikannya. Bersyukurlah kita yang mendapat kesempatan mengenyam pendidikan tinggi di program studi yang memang sesuai dengan yang diharapkan sehingga dapat mengantarkan kita pada apa yang dicita-citakan. 

Pada masa kini, meski segala sesuatunya semakin tidak pasti, namun sistem telah mendorong kita untuk menerima bahwa bekal ilmu dan pengetahuan yang didapat selama mengenyam pendidikan tinggi sejatinya menyiapkan setiap penstudi untuk memiliki peranan nyata dalam kehidupan sosial di masyarakat. 

Suatu program studi menyiapkan penstudinya menjadi seorang ahli kesehatan, program lain menyiapkan penstudinya menjadi seorang ekonom, yang lainnya menyiapkan penstudinya menjadi seorang astronom, dan lain sebagainya. Tidak ada peranan yang tidak berarti, yang ada hanyalah peranan yang memberikan manfaat bagi manusia lain dan peranan yang merugikan manusia lain. Pendidikan menuntut setiap kita untuk berpikir sebelum bertindak, pelajar yang baik akan umum bertemu dengan apa yang benar dan apa yang salah sehingga mereka yang berpendidikan sejatinya mampu memilah mana benar dan mana salah dalam segala konteks. Bahkan pada tingkat yang lebih tinggi pendefinisan benar-salah itu sendiri akan dapat diurai.

Mahasiswa: Status Agung Tapi Nanggung  

Mereka yang melanjutkan pendidikan sesusai SMA akan beralih label dari anak sekolahan menjadi anak kuliahan. Berbagai perubahan akan mereka rasakan. Bila kita memerhatikan dinamika perguruan tinggi, terutama yang berbentuk universitas, dapat dilihat ilustrasi negara mini yang di dalamnya terdapat simulasi dinamika kehidupan bernegara. Sebut saja model pemilihan umum melalui pemilihan Ketua Himpunan Mahasiswa, Ketua organisasi dan lain-lain. Ada pula model kaderisasi politik melalui jenjang jabatan dalam berbagai organisasi kampus. Juga ada model pemerintahan seperti dinamika organisasi mahasiswa dengan pejabat-pejabat kampus dalam tingkat Rektorat, Dekanat dan suboordinasi lainnya dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing untuk mencapai tujuan bersama. Dengan semangat muda yang menggebu diiringi pengoptimalan kemampuan berpikir, setiap mahasiswa mampu menjadi apapun yang ia inginkan. Kampus yang mapan akan mampu memfasilitasi mahasiswanya dalam pengembangan minat dan bakat dengan baik. 

Meski sebatas dalam lingkungan kampus dan tidak mendapat legitimasi nyata dari masyarakat umum namun sebagian mahasiswa dapat berbangga hati karena di lingkarannya berhasil menjadi pejabat, sebagian menjadi ilmuwan, filsuf, bahkan ada yang menjadi rohaniwan. Padahal tidak ada kepastian apakah setelah menamatkan pendidikan akan benar-benar menjadi pejabat sesungguhnya, menjadi ilmuwan seutuhnya dan lain sebagainya. 

Terlepas dari itu semua, sejatinya mahasiswa adalah mereka yang mendapat label kaum cendikiawan. Apapun program studinya, mahasiswa akan selalu berkutat dengan nilai-nilai (values), maka bergelut dengan benar dan salah bukan lagi makanan sehari-hari, melainkan jalan hidup. Oleh karenanya sepatutnya setiap mahasiswa selalu bersikap arif dan bijaksana dalam bertutur kata dan bersikap.

Tentu mahasiswa yang ideal adalah yang mampu memanfaatkan kemampuan analisisnya dalam memahami fenomena nyata sekalipun tidak berkaitan dengan program studi. Tapi tidak patut dikesampingkan bahwa setiap program studi yang dipilih bertujuan untuk menempa penstudinya agar memahami dan menguasai bidang tersebut, sehingga harapannya ketika kembali ke masyarakat sebagai manusia baru kelak, mahasiswa mendapat peranan baru pula yang mampu meberikan kontribusi nyata dalam menyelesaikan persoalannya.

Kita hidup di dunia yang semakin pragmatis dengan segala sesuatu dilihat dari nilai guna dan kemanfaatannya, setiap manusia akan semakin dihargai apabila kehadirannya memberikan banyak pengaruh konkrit bagi manusia lain di sekitarnya. Pendidikan tinggi diperlukan untuk memberikan keahlian yang akan menjadi kekhasan bagi diri sendiri dibandingkan manusia-manusia lain. Masalah yang hadir adalah bahwa peranan – kelak yang diharapkan ketika masih mengenyam pendidikan tidak selalu benar-benar dapat diraih ketika sudah terjun membaur dalam masyarakat.  

Terlepas dari hal itu, apapun peranan kita, bila benar-benar memanfaatkan proses pengembangan berpikir sejak kita masuk SD hingga mengenyam pendidikan tinggi, maka kita akan mampu melihat segala sesuatunya dengan secara mendalam dan lebih jelas. Dengan berpikir kritis maka segala hal dalam kehidupan dapat  diresapi dengan penuh kesadaran dan pemahaman yang matang sehingga ada  kemandirian dalam mencermati setiap fenomena yang kemudian juga  menentukan bagaimana kita bersikap. Kenikmatan berpikir kritis adalah suatu hal yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Satu dari sedikit bentuk visualisasi dari kenikmatan berpikir bebas dapat terlihat ketika mengagumi lukisan-lukisan Magical Realism sebagaimana penulis sebutkan di awal tulisan.