Mohon tunggu...
Mohammad Risqy
Mohammad Risqy Mohon Tunggu...

Seorang pemula.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Imperialisme Modern dalam Bingkai 73 Tahun Indonesia Merdeka

17 Agustus 2018   14:26 Diperbarui: 17 Agustus 2018   14:36 705 1 1 Mohon Tunggu...

Harapan besar bebas dari belenggu penjajahan bukan lagi sekadar mimpi bunga tidur bagi bangsa Indonesia. Namun, mimpi itu menjelma menjadi sebuah alur yang suci bagi bangsa Indonesia. Bertempat di Jln. Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta, beribu warga Indonesia bertumpah ruah - gegap gempita menyaksikan peristiwa sakral yang sudah lama dirindukan. Proklamasi kemerdekaan.

Hari ini - 73 tahun lalu, tepat 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Naskah proklamasi menjadi sebuah formula yang dirancang khusus untuk mendobrak pintu kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkraman penjajah. Bangsa Indonesia ingin segera mengakhiri imperialisme dan kolonialisme yang menjangkiti tiap jengkal tanahnya.

Bendera merah putih dikibarkan dan lagu kebangsaan Indonesia Raya didengungkan di seluruh penjuru Tanah Air. Indonesia telah lahir sebagai bangsa yang besar. Ia lahir dengan tetesan-tetesan keringat dan darah-darah para pahlawan yang tumpah di atas tanah Indonesia yang kaya ini. Indonesia berhasil meraih kedaulatannya sebagai sebuah bangsa.

Namun, jika kembali berkaca ke masa lalu kemudian menarik ulur ke masa depan, sudahkah imperialisme yang menancap di tanah Indonesia benar-benar musnah? Jawabannya tidak. Nyatanya imperialisme masih tumbuh subur hingga usia bangsa Indonesia yang hampir mencapai satu abad ini.

Salah satu imperialisme modern yang menjadi sambaran petir bagi bangsa Indonesia adalah imperialisme moral dan karakter bangsa. Karakter anak-anak Indonesia terjajah oleh arus global yang semakin mengganas seperti sekarang ini hingga mereka melupakan jati diri mereka sebagai bangsa Indonesia. Nasionalisme yang dulu menjadi perhiasan berharga bagi bangsa Indonesia, kini berubah menjadi kain berwarna yang mudah luntur akibat arus air yang deras. Arus air yang menyapu warna kain tersebut kita ibaratkan sebagai arus globalisasi yang mengancam bangsa Indonesia tanpa ada filter khusus yang menahannya. Bayangkan jika arus deras globalisasi tersebut mendera bangsa Indonesia dengan tidak ada batasnya, maka jangan salahkan jika eksistensi bangsa ini akan sangat terancam.

Banyak sekali fakta yang tersaji di lingkungan sekitar kita. Yang menjadi indikasi degradasi nasionalisme anak bangsa, di antaranya adalah penggunaan ponsel pintar yang semakin tidak terkontrol. Hal ini bisa menjadi indikasi lunturnya nasionalisme anak bangsa sebab akan menghilangkan sedikit demi sedikit interaksi secara langsung antar anak bangsa. Selain itu, mereka akan lebih memilih untuk berinteraksi via dunia maya daripada dunia nyata. Peristiwa semacam ini tentu akan mengurangi integrasi bangsa perlahan secara tidak langsung.

Selain itu, banyak dari mereka yang kurang bersikap pro aktif terhadap kebudayaan dan norma-norma bangsanya. Seperti halnya yang kita lihat secara terbuka, anak bangsa sekarang tentu akan merasa gengsi dengan hal-hal yang berbau budaya Indonesia. Misalkan penggunaan bahasa asing yang bercampur dengan bahasa ibu (bahasa daerah) atau dengan bahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya konsistensi anak bangsa untuk menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Kemudian, arus kebudayaan asing yang mengancam nasionalisme bangsa juga dapat dijumpai lewat film ataupun musik. Contohnya arus K-Pop, J-Pop, dan American-Pop malah lebih digandrungi daripada musik-musik khas bangsa Indonesia seperti musik-musik daerah. Di samping itu, film-film seperti anime, film laga bangsa Barat, dan drama Asia nyatanya lebih dipuja daripada film karya bangsa Indonesia sendiri. Bukankah ini suatu hal yang miris ketika melihat apresiasi anak Indonesia yang semakin merosot terhadap karya bangsa sendiri di era global dengan daya saing tinggi seperti ini?

Yang paling krusial dari sekian masalah nasionalisme adalah tingkat kejujuran anak Indonesia yang kian mengkhawatirkan. Sudah bukan menjadi rahasia publik lagi jika banyak praktik ketidakjujuran yang menyasar di tengah-tengah generasi penerus bangsa. Misalkan melakukan penyuapan kepada polisi yang melakukan penilangan terhadap mereka. Beberapa hari yang lalu, seorang teman saya menceritakan pengalaman serupa, yakni ia memberi sejumlah uang kepada aparat yang bertugas ketika ia terkena tilang. Sungguh, ini tidak mencerminkan jiwa anak Indonesia yang berkarakter. Contoh lain adalah sikap tidak disiplin terhadap waktu, seperti terlambat datang ke sekolah atau sering membolos. Dikatakan perbuatan yang tidak jujur, ini memang benar, sebab pada dasarnya jujur menyeruak di segala lini kehidupan bangsa Indonesia, tidak ada celah sekecil apapun yang 'mampu' meruntuhkan kejujuran. Namun, kenyataannya malah sebaliknya.

Problematika di atas hanyalah segelintir dari sekian imperialisme modern yang masih menjadi kemelut bangsa Indonesia dalam bingkai 73 tahun Indonesia merdeka ini. Selain itu semua, masih banyak bentuk-bentuk imperialsime modern di sekitar kita. Solusi yang dapat mengatasi masalah tersebut hanya satu, yakni Pancasila. Sebab jika anak bangsa memegang teguh nilai-nilai Pancasila, maka bangsa Indonesia akan kembali terlahir menjadi bangsa besar, bahkan sangat besar dan berjiwa nasionalisme. Di dalam Pancasila, tersusun berbagai macam rumusan dasar kehidupan bangsa dan negara Indonesia yang menjadi jalan keluar atas berbagai problem kehidupan bangsa Indonesia. Marilah, dalam momentum HUT RI ke-73 ini, kita eratkan persatuan dan kesatuan di dalam kemajemukan bangsa Indonesia. 

Bangsa Indonesia mendapat karunia dari Tuhan berupa kemajemukan yang indah untuk dijaga - bukan untuk dijajah, lebih-lebih untuk dipecah belah! Merdeka!

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x