Mohon tunggu...
Qomarul Huda
Qomarul Huda Mohon Tunggu... Bapak satu anak

Masih belajar dunia tulis menulis

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Menerka Masa Depan Pendidikan di Tengah Pandemi

22 Februari 2021   21:47 Diperbarui: 22 Februari 2021   22:18 190 1 0 Mohon Tunggu...

Pandemi Covid-19 yang masih merajalela membuat dunia pendidikan turut terkena imbasnya. Hampir satu tahun kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan secara jarak jauh atau daring. Kondisi ini tentu menyulitkan berbagai pihak. Siswa tidak bisa mendapat pelajaran langsung dengan guru, orangtua harus senantiasa memantau anaknya di rumah, guru juga harus merubah perencanaan pembelajaran. Kurikulum harus disesuaikan menjadi kurikulum darurat, materi pembelajaran juga ada yang dipangkas.

Pembelajaran daring setidaknya memberikan gambaran bagi kita bagaimana proses pembelajaran dengan bantuan teknologi bisa berjalan. Siswa, guru, maupun orangtua dapat merasakan manfaat teknologi di zaman modern ini. Guru juga dapat mengeluarkan kreativitasnya supaya pembelajaran bisa berlangsung dengan lancar dan menarik baik dari sisi penyampaian materi maupun media pembelajaran. Walapun demikian, secanggih apapun teknologi tersebut tidak bisa menggantikan peran guru sepenuhnya.

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud, Nizam sebagaimana dikutip dalam situs resmi Kemdikbud (28/10/2020) mengatakan bahwa masa pandemi ini dapat melatih serta menanamkan kebiasaan menjadi pembelajar mandiri melalui berbagai kelas daring. Dengan memanfaatkan teknologi, siswa dapat mencari berbagai sumber bahan ajar yang mungkin tidak didapatkan dari gurunya. Hal ini sesuai dengan perubahan cara belajar yang mana sekarang ini siswa dituntut lebih aktif.

Pemerintah juga tidak tinggal diam dengan kondisi pendidikan sekarang ini. Keputusan untuk siswa belajar dari rumah merupakan hal yang bijak demi keselamatan siswa maupun tenaga pendidik karena interaksi yang tinggi di sekolah terutama bagi sekolah yang mempunyai siswa yang banyak. Ini sejalan dengan harapan pemerintah bahwa keselamatan siswa dan guru menjadi prioritas. Untuk menunjang belajar jarak jauh pemerintah telah melakukan berbagai kebijakan.

Pemerintah mengadakan program Belajar dari Rumah di TVRI sebagai stasiun televisi milik negara. Materi tayangan program ini pun disesuaikan dengan jenjang pendidikan dari SD sampai SMA. Kurikulum yang berlaku selama pandemi ini juga sudah disesuaikan menjadi kurikulum darurat dengan menghilangkan beberapa materi untuk meringankan beban guru dan siswa. Bantuan kuota internet juga telah dilaksanakan untuk memperlancar kegiatan belajar bagi siswa, guru, mahasiswa maupun dosen.

Jika Covid-19 masih berlangsung lama dan pembelajaran daring masih diberlakukan dalam waktu yang tidak ditentukan akan sangat berpengaruh besar dalam dunia pendidikan kita. Kalau bicara kualitas tentu tidak bisa dibandingkan jika dengan pembelajaran tatap muka. Dampak besar akan cukup dirasakan sekolah-sekolah swasta. Dampak pandemi yang mengakibatkan siswa belajar dari rumah dalam jangka waktu yang lama tentu membuat sekolah membuat kebijakan terkait dengan besaran SPP yang harus dibayarkan. Bisa jadi banyak orangtua yang keberatan jika tidak ada penurunan SPP apalagi mungkin sebagian besar mereka juga terdampak dengan kondisi ini yang terpukul kondisi finansialnya.

Berat Bagi Semua Kalangan

Menurut saya akan sangat berat jika pembelajaran daring terus menerus dilakukan. Ini diperparah dengan kondisi pandemi yang justru semakin meningkat. Bagi siswa, mereka suatu saat pasti akan mencapai titik dengan keadaan ini. Mungkin di awal pembelajaran daring meraka merasa senang karena seolah-olah seperti liburan di rumah. Namun kerinduan dan keinginan kembali ke sekolah, bercengkerama dengan teman-teman dan guru, belajar bersama, mendengarkan penjelasan guru di kelas, jajan di kantin akan dinantikan.

Orangtua juga pasti akan sangat mengharapkan sekolah akan dibuka kembali. Kita tentu sudah sering mendengar keluhan-keluhan orangtua di berbagai media sosial mengenai pembelajaran daring ini. Terlebih lagi bagi orangtua siswa SD dan TK. Mereka harus mendampingi putra putrinya ketika sedang berinteraksi dengan gurunya karena semua dilakukan melalui gawai. Banyak orangtua yang pusing karena ikut mengerjakan tugas-tugas anaknya dan anggaran untuk membeli kuota.

Bagi sekolah swasta ini sangat berpengaruh karena mereka juga harus menggaji guru dan karyawan. Bagi sekolah swasta yang kuat finansialnya mungkin hal ini tidak berpengaruh secara signifikan. Terlebih bisanya orangtua siswa juga banyak yang dari kalangan menengah ke atas. Namun bagi sekolah swasta yang bisa dikatakan biasa saja ini bisa berdampak besar. Harus diakui bahwa penarikan SPP setiap bulan merupakan sumber keuangan utama. Jika SPP berkurang atau bahkan macet karena kondisi ini, tentu pihak sekolah akan memutar otak bagaimana caranya agar bisa memenuhi kebutuhan yang tetap harus dijalani seperti gaji guru karyawan, langganan wifi, kebutuhan kantor dan lainnya.

Kondisi pembangunan yang tidak merata turut berdampak bagi guru pada pembelajaran daring ini. Bagaimana perjuangan mereka yang berada di daerah yang minim akses membuat segalanya bertambah berat. Konektivitas jaringan internet yang menjadi senjata utama justru sulit didapat. Imam Aji Subagyo, sebagaimana diceritakan di Tirto.id (9/9/2020) yang menjadi kepala sekolah sebuah SD di Kepulauan Riau bisa menjadi contoh. Ia memimpin sekolah induk tersebut beserta tiga sekolah cabang di pulau-pulau yang berbeda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN