Mohon tunggu...
Qomarul Huda
Qomarul Huda Mohon Tunggu... Bapak satu anak

Masih belajar dunia tulis menulis

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pentingnya Pendidikan Moral bagi Siswa

6 November 2020   14:03 Diperbarui: 6 November 2020   14:06 244 0 0 Mohon Tunggu...

Tidak dapat dipungkiri bahwa era globalisasi telah mempengaruhi segala sendi kehidupan. Mulai dari gaya hidup, cara berpakaian dan juga nilai-nilai budaya. Seiring berjalannya waktu, banyak sekali tata nilai yang menjadi ciri khas budaya ketimuran kita yang mulai terkikis. Tak terkecuali adab dan sopan santun dalam dunia pendidikan kita.

Tata krama siswa terhadap guru yang zaman dahulu begitu dijunjung tinggi, lama-kelamaan mulai luntur. Tidak jarang kita melihat siswa yang kurang mempunyai rasa hormat terhadap gurunya sendiri. Tentu saja ini menjadi sebuah keprihatinan kita bersama. Guru merupakan orang yang sangat berjasa dalam memberikan pengetahuan, pembentukan mental serta akhlak siswa.

Menurut Prof. Dr. suwito, bahwa sudah menjadi sunnatullah bahwa nasihat guru lebih dipatuhi dari orangtua. Lebih lanjut, menurut beliau dalam bukunya Filsafat Pendidikan Akhlaq, beliau memberikan anjuran agar anak/siswa lebih mencintai pendidik/guru. Kecintaan siswa disamakan kedudukannya dengan kecintaan hamba terhadap Tuhannya.

Tapi karena kecintaan terhadap Tuhan jarang yang mampu, maka ia mendudukkan cinta siswa dengan guru berada di antara cinta terhadap Tuhan dan orangtua (hal. 125). Sikap hormat siswa kepada guru akan membuat guru ridha dan ikhlas dalam memberikan ilmunya. Keridhaan guru itulah yang menjadi salah satu faktor kuat siswa cepat menerima pelajaran dan ilmunya penuh berkah.

Seorang siswa hendaknya tunduk dan patuh pada nasihat guru serta yakin bahwa menaati guru dapat membawa keberkahan. Seperti sebuah ilustrasi bagai seorang pasien yang datang kepada dokter. Kalau penyakitnya mau sembuh, maka ia harus menaati perintah dan saran-saran dokter (M. Alaika Salamulloh, 2008: 123).

Mungkin masih terngiang jelas dalam memori kita, betapa siswa sekolah zaman dahulu masih memegang teguh budaya sopan santun, tata karma terhadap pendidik/guru. Berbicara sopan (kromo inggil jika pakai bahasa jawa), membungkuk bila berjalan melewati guru dan takzim. Bahkan saya pernah melihat foto seorang siswa yang berjalan agak merangkak ketika melewati gurunya, seperti abdi yang menghadap raja di keraton.

Dahulu masih diajarkan Pendidikan Moral Pancasila, bagaimana teori dan praktik berjalan seimbang. Akan tetapi kebiasaan baik untuk menghormati guru yang telah tertanam sejak lama kini lama kelamaan mulai tersisihkan. 

Siswa zaman sekarang seolah-olah telah banyak yang kehilangan etika kesopanan. Dari tindakan, ucapan dan cara bergaul dengan gurunya layaknya seperti dengan teman sebayanya.

Saya ingat tahun 2013 lalu di Solo ada siswa yang menyerang guru pengawas ulangan dengan pisau cutter hingga sang guru terluka. Hanya karena sang guru dianggap lamban membagikan soal ulangan, siswa tersebut merasa kesal kemudian mendorong badan guru sembari mengeluarkan kata-kata kasar dan menantang sang guru untuk berkelahi. 

Di Sulawesi Tenggara, siswa  mengancam akan menginjak leher sang guru lantaran sang guru memarahinya karena sering berbuat onar di kelas. Dua contoh di atas tentu membuat kita sebagai guru menjadi miris melihat fenomena tersebut.

Setidaknya ada beberapa hal yang membuat kemunduran tata karma siswa sekarang ini. Pertama, pengaruh modernisasi yang luar biasa derasnya. Perkembangan teknologi dan budaya kurang diimbangi dengan penyaringan yang sesuai. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN