Mohon tunggu...
Mohammad Nasih Al Hashas
Mohammad Nasih Al Hashas Mohon Tunggu... Mahasiswa - Yakin Usaha Sampai

Mahasiswa Jurusan Sastra Arab Universitas Negeri Malang

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Sebuah Solusi: Kaderisasi yang Disiplin dan Terstruktur

28 September 2021   15:19 Diperbarui: 28 September 2021   15:26 65 1 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sebuah Solusi: Kaderisasi yang Disiplin dan Terstruktur
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

SEBUAH SOLUSI: KADERISASI YANG DISIPLIN & TERSTRUKTUR

Isu pelajar dan pendidikan merupakan salah satu isu yang tak pernah tenggelam dan selalu eksis di permukaan. Pelajar sebagai bibit kemajuan bangsa dan pendidikan sebagai salah satu program paling penting (sebagaimana amanat konstitusi: "...mencerdaskan kehidupan bangsa...") merupakan isu yang paling sering disoroti sekaligus isu yang sering dilupakan. Oleh karena itu, muncul di benak penulis, bagaimana seharusnya cara untuk mengembangkan SDM para pelajar, khususnya pelajar yang menjadi anggota/kader IPNU IPPNU?

Menurut pengetahuan penulis yang mengutip dari kanal berita Merdeka.com, bahwasanya pendidikan memiliki berbagai manfaat, diantaranya mengurangi kemiskinan, penghasilan lebih tinggi, menawarkan kesetaraan, kesehatan, pertumbuhan ekonomi, mengurangi tindak kejahatan, manfaat lingkungan, mengurangi kekerasan berbasis gender dan mengurangi pernikahan anak. Jika kita lihat betapa pentingnya bidang pendidikan, maka bidang ini bisa berdampak pada segala aspek kemasyarakatan, mulai dari segi sosial, ekonomi, kesehatan, psikis dan lain sebagainya.

Jika ditarik pada ranah yang lebih kecil, maka kegiatan kaderisasi di dalam suatu organisasi memiliki dampak yang sangat signifikan, baik bagi tiap anggotanya, maupun bagi organisasi tersebut. Di IPNU IPPNU akan kita temui beberapa tingkatan kegiatan kaderisasi formal, sebut saja MAKESTA (masa kesetiaan anggota), LAKMUD (latihan kader muda), LAKUT (latihan kader utama) dan juga beberapa kegiatan kaderisasi lainnya seperti diklatama (pendidikan latihan pertama) & diklatmad (pendidikan latihan madya) bagi anggota CBP KPP dan masih ada lagi LATIN (Latihan Instruktur) & LATPEL (Latihan Pelatih) bagi kader IPNU IPPNU yang ingin menekuni bidang kaderisasi. Lantas lagi-lagi muncul pertanyaan, seberapa efektifkah program-program kaderisasi yang telah dilaksanakan tersebut? Sudah sejauh mana kualitas yang telah dibangun oleh program-program tersebut bagi para alumninya? Di sini penulis akan menyampaikan sedikit opini penulis mengenai hal tersebut.

Perlu kita ketahui bahwa di setiap kegiatan kaderisasi yang dijalankan oleh organisasi IPNU IPPNU ada 1 agenda yang sangat perlu untuk diapresiasi, yakni diadakannya TL (Tindak Lanjut) tiap setelah kegiatan dan berlaku bagi seluruh alumni kegiatan tersebut. Ini yang menjadi poin plus bagi kaderisasi IPNU IPPNU sampai saat ini, karena setiap peserta tidak hanya diwajibkan mendengarkan materi saat forum saja, namun juga ada kewajiban lebih lanjut setelah kegiatan selesai, dengan berbagai bentuk tindak lanjut yang disepakati oleh panitia sekaligus peserta. Namun apakah bentuk forumnya sudah efektif? Apakah panitia maupun peserta telah terfasilitasi dengan baik? Dan apakah hanya cukup dengan mengikuti kaderisasi formal seperti ini, kemudian kader/anggota IPNU IPPNU bisa dianggap cukup kompeten?

Pengalaman dari penulis dengan melihat fakta yang ada di lapangan, bahwasanya pedoman kaderisasi yang telah disusun dengan sangat baik dan terstruktur oleh pimpinan pusat masih banyak yang menyepelekannya. Mulai dari ketentuan-ketentuan yang sifatnya mendasar hingga ketentuan-ketentuan yang sifatnya sangat prinsipiel. Penulisan ambil contoh, di beberapa tempat yang penulis temui, ada kegiatan kaderisasi yang melanggar jumlah kuantitas peserta. Makesta dengan ratusan peserta layaknya seminar bahkan tabligh akbar, lakmud dengan 100 lebih peserta hingga terbagi menjadi beberapa ruangan yang kemudian materi tidak tersampaikan dengan baik dan masih banyak lagi. Ini hanyalah contoh dalam 1 sisi, masih banyak contoh lain yang dianggap oleh penulis sebagai bentuk pelanggaran pedoman kaderisasi yang telah disepakati bersama. Dari sisi kualitas pun masih banyak yang keluar dari silabus, misalnya penyampaian materi yang tidak sesuai, pemateri yang belum kompeten, pelaksanaan kegiatan kaderisasi di luar masa jabatan dan masih banyak lagi.

Inilah kiranya yang menjadi sorotan penulis, bahwasanya butuh penghargaan sebesar-besarnya untuk pedoman kaderisasi yang telah dicanangkan dan disepakati bersama. Dengan cara mengikuti aturan-aturan yang memang telah ditentukan sebelumnya, agar output dari kaderisasi yang di harap-harap oleh seluruh anggota/kader IPNU IPPNU bisa terejawantahkan dengan sebaik mungkin.

Berangkat dari permasalahan dan solusi tersebut, penulis berharap bahwasanya output dari kegiatan kaderisasi, utamanya LATIN & LATPEL bisa menghasilkan output yang siap menjadi garda terdepan dalam mengawal pedoman kaderisasi IPNU IPPNU mulai dari pimpinan tertinggi hingga pimpinan paling bawah yang berada di akar rumput. Jebolan LATIN & LATPEL diharapkan bisa menjadi fasilitator kaderisasi di berbagai tempat garapan, utamanya di wilayah kerjanya. Jika menjadi pengurus PC, berarti ia siap mengawal LAKMUD yang diadakan oleh tiap PAC yang ada di kota/kabupatennya. 

Jika menjadi pengurus PAC, maka ia siap mengawal penuh MAKESTA yang diadakan oleh tiap ranting ataupun PAC di kecamatannya. Sehingga jebolan-jebolan kaderisasi di IPNU IPPNU bukan sekedar menjadi simbol atau gelar belaka, rekan instruktur benar-benar bisa menjadi instruktur yang kompeten & rekanita pelatih bisa menjadi pelatih yang baik.

Begitu juga rekan-rekanita kader muda bisa menjadi muharrik dalam organisasi dan para kader utama bisa menjadi konsultan, kreator dan inovator dalam organisasi. Mungkin dengan dibentuknya tim kaderisasi di berbagai tingkatan, harapan semacam ini bisa ter implementasikan dengan baik, minimal akan ada kader-kader yang menjadi garda terdepan dalam mengawal pedoman kaderisasi.

Di akhir tulisan yang sangat sederhana ini, penulis ingin menyampaikan poin penting yang diharapkan oleh penulis bisa tersampaikan dengan baik kepada para pembaca yang budiman. Bahwasanya jargon "Kaderisasi Harga Mati" janganlah hanya menjadi jargon belaka, namun jargon ini bisa menjadi pemicu semangat bagi seluruh kader IPNU IPPNU dalam menjalankan amanat organisasi, khususnya amanat kaderisasi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan