#Bagian(2)
"Cinta adalah lambang keakraban antara dua manusia di mana masing-masing saling menjaga keutuhan bersama." (Eric From).
Setelah melalui hari-hari yang tak mau sia-sia. Bulan Ramadan pun tiba, kali ini ada yang berbeda. Bukan karena Angga atau pun Salsa, menikmati hari-hari mereka dengan; berbuka bersama; ngabuburit ala-ala; atau pun aktivitas-aktivitas semu lainya di bulan-bulan seperti ini.
Keduanya, tetap menjadi diri mereka. Layaknya kutipan Cinta dalam buku "The Art Of Loving" Eric From: "Cinta yang matang adalah kesatuan dengan sesuatu atau seseorang di bawah kondisi saling tetap mempertahankan integritas dan individualitas masing-masing".
Keduanya menjalani hari-hari dengan lebih baik.
Meski mereka disibukkan dengan aktivitas-nya masing-masing. Ramadhan kali ini ternyata nyatanya--keduanya ikut memetik semangat kapitalisme ala umat muslim Indonesia di bulan Ramadhan dengan berdagang. Namun, sesekali keduanya menyisihkan waktu--saat bangun sahur, mereka saling memberi kabar; menceritakan hal-hal yang selalu baru. Meski cerita lainya seringkali berulang. Namun ini menjadi waktu berharga bagi keduanya.
Angga sebenarnya berdagang, untuk kemandirian Ekonomi Organisasi. Tak heran aktivitas ini dilakukannya secara bersama--dengan sejumlah kader organisasi ekstra-parlementer. Berbeda dengan Salsa, berdagang sekedar bantu-bantu orang tua. Namun Salsa berdagang di kotanya (kota Bitung), begitu juga Angga yang notabenenya di pusat kota Provinsi (Manado).
Meski begitu, Angga tak pernah lelah. Ia masih dengan aktivitas-nya: Ngampus, Diskusi, dan ke-basis kehidupan Rakyat Petani. Sebab baginya, bahkan spirit tertinggi Ramadhan adalah menumbuhkan rasa kemanusiaan yang egaliter beserta spirit sosialnya.
***
Keduanya saling menunggu rindu, menunggu pertemuan, menunggu kehadiran. Tiba satu waktu, Salsa bertolak dari kotanya, ke-Kota Angga, di Manado. Seperti biasa, banyak hal yang tak dilakukan kebanyakan orang saat bersama--mereka lalui di hari-hari yang singkat: satu hari bertemu, satu juta kenangan, puftt.
Setelah pertemuan itu, Salsa tidak kembali sendiri. Cemburu dengan kedatangan Salsa. Angga pun dengan waktu yang singkat ini ia memohon untuk mengantar Salsa. "Kedatangan Salsa layaknya dendam, harus dibayar tuntas," Katanya. Angga pun terus meminta Salsa untuk mengantarkannya. Tidak menunggu lama, Salsa mengiyakan Permintaan Angga. "Sebab sudah minta izin Bunda," Kata Salsa.
Saat di perjalanan, layaknya seorang pejalan yang ulung; Angga dan Salsa sama-sama suka berbicara, suka mengambil jedah pada waktu. Dan, di persimpangan jalur penyangga pembangunan dan Industri: Bitung-Manado. Angga mengajak Salsa, rehat perjalanan. Meminta Salsa untuk sama-sama menikmati udara segar di bawah kaki klabat (Airmadidi). Di depan warung persinggahan, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.