Mohon tunggu...
mohamad bajuri
mohamad bajuri Mohon Tunggu... Guru - Seorang guru bloger

Tenaga pendidik di MTsN 3 Kebumen Jateng

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Yuk Selamatkan Bumi Kita

6 Juni 2022   08:50 Diperbarui: 6 Juni 2022   08:57 179 10 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Sudah dikodratkan oleh Tuhan bahwa manusia mendiami Bumi. Pada awal penciptaan manusia, memang Tuhan berkehendak untuk menempatkan manusia sebagai pemimpin di bumi.

Sebagai pelengkap untuk mendiami bumi, Tuhan membekalinya dengan ilmu pengetahuan. Tuhan mengajarkan kepada Adam tentang semua yang ada di bumi. Bahkan ilmu itupun tidak diajarkan kepada malaikat. Ketika suatu saat Tuhan bertanya kepada malaikat tentang sesuatu yang ada di bumi, mereka tidak mengetahuinya. Mereka mengetahui sesuatu jika hanya Tuhan mengajarinya. Sejak saat  itulah malaikat kagum pada Adam dan keturunannya.

Sayangnya bumi yang diwariskan kepada kita saat ini telah mengalami berbagai macam kerusakan. Berbagai kerusakan muncul dari daratan hingga lautan akibat ulah tangan manusia itu sendiri. Dengan berbagai macam dalih mereka mengekploitasi alam tanpa berpikir lebih panjang.

Hutan dibabat untuk didirikan sebuah pemukiman. Gunung-gunung dipangkas untuk dilintasi jalan tol, dan bahan dasar semen. Punggung bumi dikeruk besar-besaran demi sebuah keuntungan. Sampah dan asap pabrik mengotori setiap sudut kampung bumi. Bumi pun merana.

Dokpri
Dokpri

Tak jarang wabah banjir melanda beberapa daerah. Memang ada beberapa faktor penyebab suatu daerah dilanda banjir. Curah hujan yang tinggi adalah menjadi penyebab umum banjir di suatu wilayah. Tapi mungkin juga karena akibat lain. Bisa jadi karena area penyerapan air yang berkurang di area pemukiman padat. Atau mungkin karena hutan yang gundul, sehingga air hujan tidak terserap maksimal, maka terjadilah banjir.

Melalui puisi, aku mengajak pembaca untuk peduli dengan bumi. Yuk simak puisiku.

Renjana Luruh Menjelma Nestapa
Mohamad Bajuri

Bumiku semakin  renta
Berjalan terseok-seok penuh iba
Beban di punggung sarat lagi berat
Napas tersengal seakan terjerat

Wajah senja bernada lara
Swastamita pun tak lagi bercahaya
Sekawanan jelaga asap mesin menebar gulita
Renjana luruh, menjelma nestapa

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan