Mohon tunggu...
Moh Rudi
Moh Rudi Mohon Tunggu... Pedagang buku yang senang menulis dan jalan-jalan

Pedagang buku yang senang menulis dan jalan-jalan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kisah Dua Ekor Tikus Intelek

10 Januari 2021   13:30 Diperbarui: 10 Januari 2021   14:16 168 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kisah Dua Ekor Tikus Intelek
Photo. Dok. Pribadi.

      

             Kisah dua ekor tikus intelek

                   Cerpen M. Rudi


Suatu hari saya mendapat dua ekor tikus dari jebakan kawat yang saya pasang. Saya kesal karena banyak koleksi buku saya habis dimakan curut ini. Jika tertangkap saya berjanji akan menghakiminya. Bayangkan, sembilan buku Pram koleksi saya habis dimakan curut-curut tak bertanggung jawab itu. Betapa riang hati saya begitu curut-curut ini tertangkap. Saya menyeringai menatapnya. Herannya mereka seperti tak takut pada saya. Dua curut ini malah balik menatap saya dengan tatapan yang aneh. Misainya bergerak-gerak seperti tengah mengatakan sesuatu. Saya tak jadi segera membunuh dua curut itu. Saya malah memberinya makan dan minum lalu iseng menginterogasi mereka.

"Bagaimana perasaanmu, terkurung di dalam situ?" Tanya saya sambil duduk bersilang kaki, ngopi dan menyulut sebatang udud. Saya seperti sipir penjara yang coba mengintimidasi tahanan. Saya tak tahu bagaimana menggolongkan kedua tikus ini, tergolong tahanan politik atau kriminal biasa. Saya curiga, jangan-jangan tikus ini anggota CIA yang menyamar.

"Hei, kawan! rupanya dia sejenis manusia dungu!" Salah satu tikus itu tiba-tiba berbicara mencolek temannya. Saya terkejut, tikus ini bisa bicara! Saya pikir Mickey Mouse hanya sebuah khayal Walt Disney saja. Apa mungkin saya yang sudah gila? Sontak saya menyentuh kening. Adem saja. Apa Jangan-jangan saya sudah bisa bahasa hewan seperti Angling Darma? Edan betul.

 "Kau tanya bagaimana perasaan kami? Kau sungguh lucu! Kau seperti wartawan ditengah korban bencana menanyakan bagaimana perasaan korban. Harusnya mereka bertanya apa yang dibutuhkan, bukan menanyakan segala macam perasaan, memangnya korban bencana itu pacarmu?!" Salah satu curut menjawab menentang mata saya. Saya garuk-garuk kepala. Melongo. Takjub bagaimana tiba-tiba bisa mengerti bahasa mereka. Ah, banyak Psikiater di kota ini, biar kutanyakan pada mereka nanti.

"Oke, lupakan pertanyaanku tadi. Ternyata kau sejenis curut pintar, mungkin itu akibat kau memakan sembilan buku Pram koleksiku, kau tahu berapa harganya itu?" Saya bertanya pada curut yang bertanya tadi. Kedua curut itu malah cengar-cengir, tidak, tak cuma cengar-cengir, mereka  justru kemudian malah tertawa terbahak memegangi perutnya. Curut kurang ajar! kau baru makan sembilan buku Pram saja beraninya mentertawakanku? Bagaimana jika kau habiskan ribuan buku dirumahku? Tentu kau sudah macam Profesor!

"Eh, mengapa kau tertawa, curut gila?! Itu buku Pram cetakan pertama! Harga sembilan buku Pram itu bisa buat bayar kontrakan dan hidup nyaman selama sebulan! Dan kau menggerogotinya tanpa rasa bersalah, cengengesan, minta maaf pun tidak! Kau tahu apa yang terjadi setelah ini?" Saya membentak mengancam kedua curut itu dengan gusar. Ingin rasanya saya membedil dua curut dalam perangkap kawat ini. Tapi itu tak saya lakukan, saya tengah mempertimbangkan hukuman lain baginya. Hukuman yang membuatnya menyesal sebagai curut sepanjang hidupnya. Mungkin saya akan melemparkannya pada kucing tetangga, biar tubuhnya dikunyah lalu habis ditelan seperti ia memperlakukan buku-buku saya.

"Kami pikir kau pecinta buku betulan, rupanya cuma kolekdol! Kau bangga pada ribuan buku dirumahmu, ribuan buku! Aduhai, melihat gayamu sepertinya kau baru membaca tak sampai seperempat jumlah bukumu, itu pun pasti roman picisan saja, kau pasti penggemar Freddy S, ya kan? Ngaku saja!" Kali ini curut satu lagi yang menjawab. Sebenarnya agak sulit membedakan wajah dua curut itu, curut dimana pun diseluruh dunia bentuknya sama saja, dan kedua curut di depanku pun begitu, yang membedakan satu sama lain, yang baru bicara tadi ada tahi lalat dibawah moncongnya, Eh, mengapa dia jadi mirip Rano Karno?

"Memangnya kenapa kalau aku penggemar Freddy S? Setidaknya novelnya berjudul Marissa, asoy juga. Kau tahu, Freddy mestinya menempati urutan 32 dalam Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikubur. Freddy S adalah penanda zaman, begitu setidaknya menurut Muhiddin M Dahlan!" balasku membela diri pada curut songong bertahi lalat dibawah moncong, mirip Elvi, eh, Rano Karno tadi. Kedua curut malah terkekeh lagi, tak cuma memegangi perutnya, tetapi kali ini malah guling-guling segala. Aku teringat racun tikus yang dijual dipasar-pasar, aku berkhayal dengan bengis, bagaimana jika aku mengolesi sepotong roti dengan racun itu, alangkah nikmat melihat kedua curut menyebalkan ini kejang-kejang.

"Aku tahu apa yang kau pikir kan, kau memang benar-benar dungu! Kau pikir kami takut dengan segala jenis kematian? Kalian pikir kami tak melihat bagaimana saudara-saudara kami mati terlindas di jalan-jalan? Kalian membantai kami dimana-mana, disebuah pasar bahkan ada yang menyajikan saudara kami sebagai santapan. Sebagai tikus, ah, curut menurut bahasamu, ya? Kami kau anggap tak pernah belajar, begitu? Nenek moyang kami, para curut, mengajarkan kami banyak hal. Mereka menceritakan betapa bengisnya kalian, bangsa manusia, menindas kami, membunuhi kami, padahal yang kami lakukan hanya sekedar bertahan hidup. Kami tak pernah menimbun makanan sampai tujuh turunan seperti kalian lakukan! Kalian, bangsa manusia, merasa diri kalian hebat, tapi sesungguhnya tak tahu apa-apa. Kalian mampu menghitung populasi manusia, tapi apa kalian pernah menghitung populasi curut sedunia? kalian pasti juga tak tahu, bahwa kami tiap tahun melakukan konferensi, kau pasti tak tahu apa itu WRA!" Masih tikus bertahi lalat dibawah moncong yang berbicara.

"WRA? What is that, bro?"

"Worldwide Rat Association!"

"Seriously?!"

"Serius, Mas! kandani, rak percoyo!" Tikus bertahi lalat kemudian duduk bersila. Kawannya yang satu lagi santai bersandar pada dinding kawat berbantal sebelah lengannya. Tikus-tikus edan! Dan aku menjelma manusia yang benar-benar terlihat bodoh. Setan alas, mana bisa begitu! Aku kan manusia, makhluk paling keren sejagat raya?!

"Begini, masalahnya, kalian berdua sudah memakan koleksi buku milikku, aku tak tahu kalian tikus warga negara mana, tetapi menurut undang-undang negara dan agamaku, kalian bersalah! Mencuri itu dosa, tahu? Kalian tikus atheis, ya? Tak pernah kelen di ajarkan apa itu dosa sama mamak kau?" Saya sudah mulai kesal, hingga tak sadar menggunakan logat Batak padahal saya orang Sunda. Dari sudut mana pun kedua tikus ini jelas bersalah.

"Kau tetap saja dungu.." Tikus bertahi lalat yang masih menjawab. Temannya yang satu lagi sekarang asyik menikmati biskuit yang tadi kusuguhkan dan duduk bersandar bersilang kaki.

"Baik, jika kau memang pandai, coba jelaskan letak kedunguanku, tikus jelek!" sahutku mulai serius. Mereka bukan tikus sembarangan. Mungkin pernah kuliah di Oxford.

"Undang-undang negara dan agamamu hanya berlaku pada manusia, mereka tak pernah menyebut-nyebut tikus di dalamnya. Dalam KUHP, bukankah kalian menyebut 'Barang siapa' yang berarti itu adalah manusia, bukan 'Barang seekor' karena kalian tak punya ekor!" Busyet, bahkan tikus sialan ini tahu KUHP? Edan, apa mesti kupanggil pengacara menghadapi tikus-tikus intelek ini?

"Oke, baik lah kalau begitu logikamu, eh, siapa nama kalian? Kita belum berkenalan" Kataku setelah menghela nafas sebentar.

"Namaku, Bong.." Si tikus bertahi lalat menjawab.

"Dan aku, Pret.." Tikus satu lagi menjawab. Dia masih berleha-leha menikmati biskuit.

"Eh, sudah akur kalian, rupanya?" Hampir aku tertawa mendengar nama mereka.

"Maksudmu?" Tikus bernama Bong bertanya heran.

"Ah, sudah, lupakan, tak penting itu" Aku tersenyum.

"Aku mengerti apa yang kalian lakukan.." sambungku. "Kalian menggerogoti buku-buku milikku sekedar cari makan, tapi apa kalian juga harus tahu, bahwa aku pun cari makan dari buku-buku itu. Aku bukan kolektor, aku pedagang buku. Buku-buku yang kalian makan itu adalah mata pencaharianku. Aku punya anak isteri, jika aku bangkrut, bagaimana aku kasih makan mereka? Tak mungkin aku memberi mereka remah buku bekas kalian, kan?"

"Lalu?" Bong bertanya menunggu. Pret, temannya mendekat sepertinya mulai tertarik.

"Jika aku menggunakan hukum kalian, undang-undang hewan belantara sana, kalian pasti kalah karena kami lebih besar dan berakal. Sepintar apa pun kalian, tak pernah kudengar ada tikus sampai ke bulan dan bikin satelit, tak pernah kudengar tikus main facebookan!" Kataku coba menerangkan.

"Jadi bagaimana, kau masih tetap akan membunuh kami? Sudah kubilang, bahwa kami tak takut segala jenis kematian.." Bong berkata berapi-api. Aku tersenyum.

"Tidak, aku tak akan melakukan itu"

"Lalu?"

"Kalian akan kubebaskan, tetapi kalian tak boleh memakan lagi buku-buku milikku" aku menjawab tegas.

"Lalu bagaimana kami bisa hidup?" Kali ini Pret yang berbicara. Aku melirik padanya. Dibanding Bong, si Pret ini bertubuh sedikit agak gemuk.

"Kalian bangsa tikus, memakan apa saja. Jika dibiarkan kalian sama saja mengancam keberadaan kami sebagai manusia, kalian tak cuma memakan habis buku milikku, tetapi juga padi-padi milik petani, bertahan hidup adalah hak bangsa kami juga, tetapi bertahan hidup pun tak boleh memicu deklarasi perang antar bangsa. Itu hal memalukan. Tak boleh lagi ada perang dunia ketiga, apalagi perang itu melawan bangsa kalian. Aku akan beri kalian wilayah teritorial dimana kalian bebas memakan apa saja yang berada disana. Kalian bebas membangun rumah dan hidup sejahtera. Kalau perlu, anak-anak kalian bisa sekolah diluar negeri.." Aku menjelaskan. Bong dan Pret saling berpandangan satu sama lain. Mereka saling berbisik entah apa. Mereka seperti tengah merundingkan sesuatu.

"Tak kusangka, kalian bangsa manusia bisa bijak juga. Kami setuju, tapi apa jaminannya bahwa kelak kau tak mencederai perjanjian? Kami perlu hitam diatas putih!" Setelah membiarkan mereka berunding, Bong akhirnya berbicara.

"Aku bersumpah atas nama Tu.."

"Tidak..! Kalian bangsa manusia, kerap melanggar sumpah bahkan atas nama Tuhanmu!" Pret memotong kata-kataku.

"Ya, kami tak percaya kalian. Kau harus menanda tangani perjanjian diatas materai. Kami yang menyusun draftnya sendiri lalu ditanda tangani kedua belah pihak. Bagaimana?" lanjut Pret lagi. Edan, mereka benar-benar dua tikus yang tak cuma paham KUHP, tapi juga politik dan negoisasi!

"Baik, aku setuju!" Sahutku. Aku bangkit dari duduk lalu pergi ke ruang kerja mencari kertas dan pulpen. Kusediakan pula materai 6000 yang kebetulan tersedia di meja.

"Silahkan tulis draftnya" Kusodorkan kertas dan pulpen berikut materai.

"Jangan bodoh, mana bisa kami menulis dengan itu?" Bong dan Pret menyeringai lalu menggaruk kepala.

"Lalu bagaimana?"

"Kau tulis, aku yang mendiktenya"

"Oke, harus kutulis bagaimana?" Bong kemudian bertanya daerah mana saja yang akan menjadi wilayahnya, aku menyebut apa saja yang boleh dimakan dan dimana tempatnya. Kami agak ribut sebentar terkait itu, Pret meminta juga wilayah kamar mandi, kamar tidur dan dapur bisa menjadi milik mereka, aku berkeras tak mau karena isteriku takut pada tikus. Aku juga takut jika mereka menguasai kamar tidur, mereka pasti akan mengintip apa yang kami lakukan disana. Tetapi dapur menjadi milik mereka dengan syarat mereka hanya bisa masuk jika malam hari. Mereka juga berhak atas atap rumah dan tempat sampah diluar. Bong kemudian mendiktekan draft yang diinginkannya.

DEKLARASI DAMAI TIKUS DAN MANUSIA
Dengan ini, kami menyatakan perdamaian antara tikus dan manusia. Kami berjanji tidak akan saling mengusik satu sama lainnya. Jika satu atau lain hal kami melanggarnya, kami bersedia masuk neraka! Kebohongan, dalam bentuk apa pun tak layak masuk syurga. Tuhan mencintai perdamaian antar makhluknya.
Perwakilan pihak tikus
Sekjen WRA - Bong & Pret
Perwakilan manusia
Rudicisara Bin fulansaja


Kami akhirnya berjabat tangan. Saya membebaskan mereka dan kemudian bisa bernafas lega. Saya tak perlu khawatir buku-buku atau benda lain dimakan tikus lagi. Herannya, seminggu sejak perjanjian damai antara kami, saya tak lagi melihat tikus-tikus ini. Saya tak tahu kemana mereka pergi. Mereka tikus-tikus yang pintar. Kadang saya mengizinkan mereka membaca buku-buku milik saya, asal jangan setelah membaca mereka kemudian memakannya. Mereka rupanya benar-benar mematuhi deklarasi damai itu. Kertas perjanjian yang kami tanda tangani saya bingkai dan pajang ditembok rumah. Isteri dan tamu-tamu saya semua menertawainya. Saya tak peduli. Ini adalah perjanjian antar bangsa, dan aku menghormatinya.


Tikus-tikus itu benar-benar tak pernah muncul lagi. Kepergiannya tanpa kabar berita. Saya merindukan mereka. Apakah ada kucing yang memangsa Bong dan Pret? Saya tidak tahu. Jika pun benar, toh bukan saya yang membunuh mereka. Tapi kepergian mereka memang bersamaan dengan munculnya Bajang, seekor kucing milik tetangga yang belakangan sering mampir ke rumah. Apa kucing kampung ini yang memangsanya? Saya tak punya bukti, dirumah saya tak ada CCTV.


Jkt-10/1/2020


VIDEO PILIHAN