Mohon tunggu...
Moh Rudi
Moh Rudi Mohon Tunggu... Pedagang buku yang senang menulis dan jalan-jalan

Pedagang buku yang senang menulis dan jalan-jalan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kepada Tiang Listrik

8 Januari 2021   16:19 Diperbarui: 9 Januari 2021   04:59 50 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kepada Tiang Listrik
Photo by pixabay

              Kepada tiang listrik

        (Cerita mini oleh M. Rudi)


Pukul dua pagi, tak jauh dari pos ronda, Hansip Sarkasi  tampak khusuk menghormat sebuah tiang listrik. Bang Satiri, sesama Hansip yang menemani siskamling mengira kawannya sudah sinting. Satiri tahu, bahwa sebagai sesama Hansip yang tiap hari kerja serabutan, hidup amat lah berat. Hidup tak semudah cocot motivator. Hidup adalah realita sementara yang lain-lain hanya mimpi. Bahkan sebuah mimpi sekali pun baginya terasa begitu mewah.

"Aku tak pernah mimpi basah.." Begitu gerutu Bang Satiri. Padahal satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah bermimpi, setidaknya dalam mimpi dia masih bisa membangun sebuah rumah sederhana, membeli sepetak tanah untuk berkebun, memelihara ayam atau bebek, anak-anaknya bersekolah dengan baik, isterinya memasak sayur asem, ikan asin dan sambal terasi yang enak dua kali sehari. Sesederhana itu, jangankan realita bahkan mimpi pun memusuhinya.

"Sar..! Kita memang susah, tapi kita tak boleh gila! Untuk apa kau menghormat tiang listrik itu? Tak ada bendera diatasnya! Tak ada pula layangan nyangkut disitu!" Satiri berteriak dari pos ronda pada Sarkasi yang sudah lima menit khidmat menghormat tiang jangkung hitam langsing itu.

"Hidup ini indah, Sar! Setidaknya kita masih bisa ngopi, makan ubi! Tuhan maha adil! Dia menciptakan langit dan bumi, siang dan malam, jika ada orang kaya tentu harus ada orang miskin macam kita! Kau tahu, Sar? Tanpa orang miskin, orang-orang kaya itu justru tak akan pernah ada! Ini cuma pembagian tugas dari boss besar diatas sana! Kau jangan kira, para orang kaya itu semua berbahagia! Mereka belum tentu bisa tidur nyenyak, semakin mereka memiliki banyak semakin gelisahlah hidup mereka! Orang-orang kaya itu, justru orang paling susah hidupnya, Sar! Mereka belum tentu pernah tahu rasanya makan bakso pake nasi! Dan itu berarti mereka belum kenal dunia meski pun sudah mengelilinginya" Satiri berteriak lagi pada kawannya. Mendengar teriakan bawel kawannya, Sarkasi yang sejak tadi tampak berdiri menghormat tiang listrik segera menurunkan tangannya.

"Eh, Pe'a! badak becula! Gua bukan lagi menghormat tiang listrik! Otak lu soak! Itu burung tetangga nyangkut, Kesetrum kabel diatas! yang punya burung bikin sayembara, siapa aja yang bisa nangkep itu burung, bakal dikasih hadiah 10 juta! Nah, ntu duit 10 juta sekarang udah gosong, segosong muke elu!" 

Mendengar itu kontan Satiri melompat dari pos ronda mendekati Sarkasi, dia mendongak keatas dan ikut mengangkat tangannya kearah tiang listrik. Lampu yang silau dekat tiang itu memang membuat mereka terlihat seperti menghormat.


8/1/2021

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x