Mohon tunggu...
Moh Rudi
Moh Rudi Mohon Tunggu... Pedagang buku yang senang menulis dan jalan-jalan

Pedagang buku yang senang menulis dan jalan-jalan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Satu Sore dalam Hidup Dulatip Siregar

4 Januari 2021   13:40 Diperbarui: 7 Januari 2021   19:32 375 32 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Satu Sore dalam Hidup Dulatip Siregar
Dok.pribadi

   

Satu sore dalam hidup Dulatip Siregar

                    Cerpen M. Ruddy


Buku memberi saya begitu banyak hal, kawan, sedikit uang untuk hidup, dan juga cinta. Buku pula yang beberapa waktu lalu mempertemukan saya dengan seorang anak muda, ia seorang mahasiswa pelanggan saya sejak beberapa bulan ini, Dulatip Siregar, begitulah namanya. 

Saya memanggilnya Dul saja. Si Dul ini benar-benar sosok yang haus pengetahuan, jika bertemu dengannya saya seperti orang tua yang kerap dibuat repot oleh banyak pertanyaan, sebagian pertanyaan itu seringkali kau harus berusaha keras mencari jawaban tepat yang mudah dicerna alam pikirnya.

"Bang, menurut abang, buku bagus itu yang macam mana?" Suatu sore sambil memilah-milah buku di jejeran rak kedai buku, Dulatip Siregar bertanya. 

Saya yang tengah mengelap buku-buku buluk belanjaan siang tadi spontan tercenung. Pertanyaan Dulatip sore ini agak sulit. Saya bukan akademisi, jika diibaratkan sinetron Si Doel anak sekolahan, saya cuma tokoh Mandra yang sekolah dasar pun tak tamat, satu-satunya ijazah milik saya adalah ijazah taman kanak-kanak yang tentu saja tak bisa dibanggakan, apalagi dipajang di ruang tamu. Tapi dalam sinetron itu, tokoh Mandra pun kemudian mau belajar membaca, meski motivasi belajar dalam benaknya sungguh begitu sederhana, Mandra ingin bisa membaca surat cinta dikirim kekasihnya.

"Buku bagus menurutku?" Saya mengulang pertanyaannya.

"Ya, macam mana?" Dulatip Siregar menunggu jawaban saya.

"Buku bagus menurutku, adalah buku yang laku dijual" kata saya lalu tertawa kepadanya. Dulatip ikut tertawa.

"Jawaban abang ini jawaban pedagang kali! Gak bisa gitu dong, kan banyak juga buku bagus yang kurang laku?" Sergah Dulatip Siregar tak puas dengan jawaban saya. Saya tertawa lagi. Ah, sungguh saya tak menyangka, Dulatip kini sudah lebih pintar dari beberapa waktu terakhir datang ke kedai buku saya yang mungil ini. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x