KANG NASIR
KANG NASIR profesional

Orang kampung, tinggal di kampung, ingin seperti orang kota, Yakin bisa...!

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Natsir: Komunisme Musuh Islam

5 November 2017   12:27 Diperbarui: 8 November 2017   08:51 743 9 3
Natsir: Komunisme Musuh Islam
Buku Natsir, Dok. Pribadi

Muhammad Natsir atau yang biasa di panggil  Natsir, adalah salah satu tokoh (politik) Islam Indonesia yang mendapat gelar Pahlawan saat Habibie menjabat Presiden Republik Indonesia.  Natsir  sebagai tokoh Islam  sekaligus sebagai tokoh Partai Masyumi yang berada dalam lingkungan birokrasi pemerintahan era Soekarno, selalu berpegang teguh pada prinsip prinsip keislaman dan menentang komunisme, Natsir menjadi Idola sebagian kaum muslimin Indonesia (saat itu), makanya tidaklah mengherankan,  jika ada orang yang lahir di masa itu (kurun waktu 1950-1960) oleh orang tuanya kemudian di beri nama Mohammad Nasir.

Tanpa mengabaikan catatan saat Natsir masih kecil  di Sumatra, saya memulainya dari saat Natsir ada di Bandung. Bandung adalah kota yang ia pilih untuk meneruskan sekolahnya selepas dari MULO di Padang dan masuk sekolah Pendidikan Menengah umum yang bernama AMS. Sejak masih di AMS ini, kegemaran Natsir yang sangat menonjol adalah “membaca”. Perpustakaan yang ada di Gedung Sate, menjadi langganannya tiap hari ba’da pulang sekolah, targetnya dalam tiga hari harus selesai membaca satu buku, luar biasa.

Disekolah yang gurunya kebanyakan meneer Belanda ini, Natsir kerap mendengar gurunya selalu meng-agung agungkan keberadaaan bangsa Belanda. Suatu saat, guru meneer Belanda memberi tugas kepada murid murid untuk membuat makalah kedigdayaan Belanda kaitannya dengan adanya pabrik gula yang di bangun Belanda, dimata meneer guru, keberadaan pabrik gula, rakyat atau pribumi tertolong kesejahteraannya.

Namun apa yang ada dalam pikiran meneer guru itu, merupakan cambuk bagi Natsir, berbagai leteratur dan buku ia lalap habis dibacanya sebagai referensi dalam pembuatan makalah. Natsir kemudian membuat makalah dan kesimpulannya justru menjungkirbalikkan pendapat sang meneer guru karena menurut Natsir, dengan adanya pabrik gula, yang diuntungkan justru para kapitalis, bukan rakyat, mener  guru terperangah.

Di Bandung pulalah Natsir menemukan jati dirinya, meskipun sekolah dengan kurikulum Belanda, Natsir  menaruh perhatian terhadap Islam, ia banyak belajar  dari tokoh Islam Ahmad Hassan dan banyak berhubungan dengan H.Agus Salim, ia juga menjadi ketua organisasi pemuda Islam yang bernama Jong Islamit Bond Cabang Bandung pada tahun 1928.

Natsir muda, sudah mulai menanamkan nilai nilai perjuangan Kemerdekaan, dari Bandung ia berteriak tentang nilai nilai perjuangan dan Islam, teriakan Natsir bisa dibaca oleh berbagai kalangan karena Natsir berteriak melalui tulisan. Tulisan Natsir banyak bertebaran di beberapa majalah saat itu yakni Pandji Islam, Pedoman Masyarakat, dan Almanar.  Apalagi setelah ia mendirikan  majalah “Pembela Islam”, Natsir yang tidak mengenyam perguruan tinggi secara formal, mulai berpolemik dengan Soekarno. Tahun 1930-han, adalah masa masa perdebatan dengan Soekarno tentang nilai nilai perjuangan Kemerdekaan, Soekarno mengusung faham Nasionalisme, sementara Natsir mengusung tentang pentingnya nilai nilai Islam dalam perjuangan Kemerdekaan. Saking geramnya, tokoh tokoh nasionalis atau yang disebut Soekarno Cs, mempelesetkan nama majalah “Pembela Islam” dengan sebutan “Pembelah Islam”.

Saat Kemerdekaan, bersama  Sutan Syahrir, Soepeno, Mr. Assaat Datuk Mudo, dr. Abdul Halim, Tan Leng Djie, Soegondo Djojopoespito, Soebadio Sastrosatomo, Soesilowati, Rangkayo Rasuna Said, Adam Malik, Soekarni dan lainnya,Natsir menjadi Badan Pekerja KNIP, KNIP adalah badan yang dibentuk berdasarkan UUD 1945, berfungsi sementara menjadi Lembaga Legislatif yang berhak  membuat Garis Besar Haluan Negara. Setelah itu Natsir diangkat menjadi Menteri Penerangan menggantikan Mr. Amir pada  Kabinet Syahrir Syarifuddin serta Mentri Penerangan pada Kabinet Hatta menggantikan Syahbudin Latief.

Karir politik Natsir kian meroket tatkala pada tahun 1950 kondisi ketatanegaraan kacau balau, Natsir bermanuver di parlemen, ia mengemukakan gagasannya yang terkenal yakni mosi integral. Dengan mosi ini, keutuhan Negara yang bercerai berai dengan adanya Negara Serikat, berhasil disatukan  kembali dengan menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pasca mosi Integral itu, Natsir kemudian diangkat menjadi Perdana Mentri, saat itulah Natsir menolak campur tangan Soekarno dalam pembentukan Kabinet. Natsir kemudian membentuk Kabinet berdasarkan keahlian, maka terkenal dengan sebutan Kabinet Ahli dengan memasukkan orang orang non partai didalamnya seperti Sri Sultan Hamangkubuwono IX sebagai Wakil Perdana Mentri.

Meskipun menjabat Perdana Mentri, Natsir tak segan mengeritik Soekarno karena dianggap tidak mencermati soal kesejahteraan di luar Pulau Jawa. Kritikan Natsir ini tentu saja membuat gerah Soekarno. Golongan nasionalis yang dimotori Hadikusumo dari PNI memboikot Kabinet dan membuat mosi tidak percaya hingga ujungnya Natsir mengundurkan diri dan menyerahkan jabatannya kembali kepada Presiden pada 21 Maret 1951 .

Setelah Natsir menyerahkan jabatan termasuk mobil dinasnya di Istana Negara, Natsir pulang ke rumah dinas hanya membonceng sepeda yang dibawa oleh sopir pribadinya, setalah dari rumah dinas ia kembali ke rumah sederhana milik pribadinya.

Tahun 1955, untuk pertama kalinya Indonesia mengadakan pemilihan umum, Partai Masyumi yang diketuai Natsir, memperoleh suara yang signifikan yakni menjadi pemenang kedua setelah PNI disusul kemudian NU dan PKI.

Untuk yang kesekian kalinya, Natsir berbeda pandang dengan Soekarno ketika Soekarno mempunyai gagasan pembentukan Kabinet empat kaki yang didalamnya bisa mewakili partai partai pemenang pemilu. Natsir menolak gagasan itu, alasannya karena disitu ada PKI, Natsir kemudian mengungkapkan dalil dalil Islam yang menyebut Komunisme itu bertentangan dengan Islam, menurut Nasir tidak mungkin pertentangan antara Islam dan komunisme itu dipersatukan, laksana minyak dengan air, walaupun di rebus  dan diaduk aduk seperti apapun tidak mungkin akan bersatu.

Disinilah benih benih pertentangan antara Natsir dan Soekarno mulai terlihat kembali, masa demokrasi liberal adalah masa pertarungan politik di Parlemen antara kaum nasionalis, komunis dengan golongan Islam hingga kemudian Presiden mengeluarkan sebuah Dekrit Presiden tahun 1959 karena dianggap Parlemen tidak bisa menjalankan dan menyelesaikan tugasnya. Sistem Demokrasi Liberal berganti dengan Sistem Demokrasi Terpimpin yang menempatkan Soekarno sebagai poros semua kebijakan melalui gagasan Nasakom.

Natsir sangat kecewa, dengan kepemimpinan Demokrasi Terpimpin yang cenderung dictator, iapun kemudian kembali ke Padang dan ikut bergabung dengan PRRI. Perburuan terhadap aktivis PRRI dilakukan hingga ahirnya Natsir di jebloskan kedalam tahanan oleh Pemerintah Soekarno pada 1962.

Tahun 1966, Natsir dibebaskan Soeharto setelah kekuasaan Soekarno runtuh  pasca terjadinya Pemberontakan G.30/S-PKI yang telah menewaskan beberapa Jendral yang diculik oleh pasukan Cakrabirawa serta didalangi PKI hingga ahirnya menimbulkan gelombang protes dari berbagai elemen utamanya Mahasiswa hingga ahirnya Soeharto berkuasa sebagai pemimpin Orde Baru.

Pada saat Soeharto berkuasa, Natsir tetap mengabdi kepada nusa bangsa, ia dianggap berjasa dalam mencairkan hubungan Indonesia Malaysia yang sempat renggang akibat ganyang Malaysianya Soekarno, ia juga berhasil meyakinkan Jepang tentang kesungguhan Soeharto membangun ekonomi Indonesia hingga jepang mau memberikan bantuan keuangan dan berhasil pula menghubungi Kuwait agar bisa menanamkan investasi di Indonesia.

Sungguhpun demikian, Soeharto tetap membatasi aktivitas politik Natsir, ini terbukti saat Natsir  berniat menghidupkan kembali Partai Masyumi, Soeharto melarang berdirinya Masyumi, dan ketika aktivis Masyumi mendirikan partai PARMUSI, Natsir tidak diperkenankan untuk menjadi ketua PARMUSI. Natsirpun berhenti dari kehidupan hingar bingar politik dalam negeri, ia kemudian  aktif di Lembaga Dak’wah yang ia dirikan yakni Dewan Dakwah Islamiyah hingga ahir hayatnya pada 9 Februari 1993 dalam usianya yang ke 83, ia adalah Pahlawan bangsa yang konsisten memperjuangkan nilai nilai keislaman dan anti Komunis.

Catatan;  Tulisan ini merupakan intisari dari Buku "Natsir, Poiltik Santun di antara Dua Rezim", KPG Tempo, 2011