Mohon tunggu...
Moch. Marsa Taufiqurrohman
Moch. Marsa Taufiqurrohman Mohon Tunggu... Mahasiswa Hukum (yang nggak nulis tentang hukum)

Seorang anak yang lahir sebagai kado terindah untuk ulangtahun ke-23 Ibundanya.

Selanjutnya

Tutup

Finansial

Handphoneku Lebih dari Sekadar Dompet

30 Juli 2019   16:26 Diperbarui: 30 Juli 2019   16:34 41 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Handphoneku Lebih dari Sekadar Dompet
Sumber: cintaberita.com

Sebagai seorang Jomlo, kehidupan saya tidak bisa lepas dari handphone. Dengan handphone, kehidupan jomlo saya sedikit terobati, saya menjadi tidak sendiri lagi. Handphone bagi sudah menjadi teman, kerabat, saudara, rekan kerja, soulmate, dan sejenisnya. Walau tak jarang ketika sudah nyaman dengan Handphone, ibu saya selalu meneriaki saya dari dapur "HAPEE TEROSS!!! :')

Adalah sebuah kewajaran bagi seorang Jomlo menjadi sangat bahagia ketika diucapkan 'selamat pagi' oleh kasir minimarket, karena bagi seorang Jomlo, diucapkan 'selamat pagi' adalah termasuk dalam "Tujuh Kejadian Aneh dan Langka Bagi Seorang Jomlo." Yang menjadi masalah adalah ketika kasir tersebut selalu memberikan 'kembalian permen', atau selalu bilang "500 rupiahnya disumbangkan ya kak?"

Entah ini adalah sebuah kutukan atau tidak, namun percaya atau tidak percaya nasib sial kehidupan percintaan seorang Jomlo, selalu menular kepada kehidupannya. Saya adalah salah satunya;

Kejadian 1     : Pernah suatu ketika Ibu saya menyuruh saya untuk membayar tagihan listrik di Loket PLN, nasib sial pun menghampiri diri saya, tidak tanggung-tanggung, dua nasib sial menimpa diri saya dalam satu kejadian "Membayar Tagihan Listrik";

Nasib sial pertama: Dengan senang hati saya bergembira ria menuju kantor PLN. Namun sesampainya di loket, seketika saya langsung murung, pemandangan yang terpampang adalah antrean panjang seperti audisi Indonesian Idol. Terpaksa saya harus menunggu lama.

Nasib sial kedua: Setelah lama mengantre dengan penuh perjuangan, dan kesabaran, tibalah giliran saya, saya pun maju ke loket. Sesampainya di depan loket, mbak-mbak loket langsung menutup jendela loket, seakan menolak saya. Saya terkejut dan sontak bertanya "Mbak, kok ditutup mbak?" mbak-nya menjawab; "Istirahat sampai jam 13.00 mas". Selama itu saya menunggu, sesabar itu saya menanti, harus berakhir dengan sebuah penolakan :')

Kejadian 2     : Karena masih dalam suasana awal bulan, musim membayar tagihan, keesokan harinya saya kembali disuruh untuk membayar tagihan, kali ini giliran tagihan air ke kantor PDAM. Sebelum berangkat di mata saya sudah terbayang bayang-bayang antrean panjang seperti audisi di loket PDAM. Sambil membaca ayat kursi dan berdoa agar situasi seperti itu tidak terjadi lagi saya pun berangkat menuju kantor PDAM. Sesampainya disana alhamdulillah masih sepi, antrean masih sedikit. Saya pun cukup lega. Nasib sialnya mana? Nasib sial tersebut terjadi ketika saya tak ada uang untuk membayar kang parkir :')

***

Tapi teman-teman, sebenarnya bukan kisah melas kejomloan saya yang ingin saya ceritakan disini, melainkan ada sebuah renungan bagi saya yang ingin saya bagikan kepada kalian semua;

Sebagai generasi milineal dan Z yang hidup di abad ke-21, apakah masih keren membayar secara tunai dengan kembalian permen atau keikhlasan menyumbangkan 500 rupiah karena tidak ada kembalian? Apakah masih layak mengantre panjang untuk membayar tagihan listrik? Apakah masih elegan ketika membayar tagihan saja harus terhantui membayar parkir?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x