Mohon tunggu...
Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Mohon Tunggu... Guru - Menerobos Masa Depan

Kepala SMP Negeri 52 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kritik

6 Juli 2021   07:58 Diperbarui: 6 Juli 2021   08:01 157
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Setiap tindakan, apa pun dan kapan pun, akan selalu memiliki celah atau kekurangan. Dengan adanya kritik, celah atau kekurangan itu dapat diketahui lebih awal sehingga penghindaran terhadap kemungkinan buruk akan dapat dilakukan lebih awal. Dampak negatif dapat diminimalisir. 

Setiap budaya di dunia ini juga memiliki cara kritik yang berbeda-beda. Ada rakyat yang berjemur di alun-alun untuk mengkritik sikap rajanya. Ada juga simbolisasi lain untuk mengkritik orang yang dianggap terpandang dalam sebuah budaya. Yang jelas, setiap budaya memiliki cara sendiri sendiri untuk mengungkapkan kritik. 

Di era sekarang, kritik dilakukan oleh pers . Bahkan pers sering disebut sebagai kekuatan atau lembaga keempat dalam sebuah negara demokratis. Kritik yang dilakukan pers sangat dibutuhkan dan perlu. 

Orang orang di sekitar kekuasaan, dari zaman baheula akan selalu menghentikan kritik agar jangan sampai ke telinga pimpinan. Hanya kabar baik yang boleh lolos hingga sampai pimpinan. 

Kondisi seperti ini lebih sering terjadi di negara negara otoriter. Sehingga bawahan akan selalu mengcoba menyenangkan pimpinan. Abs alias asal bapak senang. 

Hampir semua pimpinan selalu mengatakan butuh kritik ketika bicara di forum forum resmi. Hanya saja, di belakang layar kadang muncul penghilangan dan pembungkaman. 

Kondisi pers mulai lumpuh. Kini hadir media sosial. Semua orang bisa menjadi penyaji berita secara instan. Dan berita pun begitu berhamburan. 

Melalui media sosial, kritik sering bersifat sangat pribadi. Latar belakang politik sering menjadi daya dorong kuat seseorang melakukan kritik. Akibatnya, seseorang bisa terus menerus melakukan kritik karena berharap pada keuntungan politis belaka. 

Kembali pada laki-laki di awal tulisan ini. Laki-laki yang terluka akibat kritik yang dilontarkan oleh sahabat nya itu. Sementara, sahabat nya juga bingung sendiri. Karena maksud kritik yang dilakukan nya justru untuk menyelamatkan laki-laki itu. 

Di zaman rezim Soeharto, berseliweran jargon "Boleh kritik asal kritik yang membangun". Apakah ada jenis-jenis kritik dan salah satunya adalah kritik membangun? 

Tentu itu semua cuma akal-akalan rezim Soeharto untuk membungkam semua kritik yang mengarah kepada mereka. Kan mudah sekali untuk mengatakan sebuah kritik tidak membangun. Ukuran toh mereka yang pegang? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun