Mohon tunggu...
Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Mohon Tunggu... Menjaga Hati Nurani

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Cukup Menjadi Guru Penulis

10 Juni 2021   08:18 Diperbarui: 10 Juni 2021   08:52 68 18 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cukup Menjadi Guru Penulis
Kompascom

Sebagai calon guru bahasa Indonesia, saya tentu berpikir keras untuk bisa menulis. Guru bahasa tak pandai menulis itu seperti nelayan yang tak pandai mengayuh biduk atau seperti petani yang btak pandai mengayunkan cangkul. 

Ketika memilih dan masuk jurusan itu, waktu itu masih dinamai jurusan, hanya karena suka baca cerita doang. Tak kurang dan tak lebih. Karya sastra yang dibaca dan menarik hati juga cuma karya Iwan Simatupang. Kebetulan ada dua buku Iwan di perpustakaan sekolah. 

Dan kerja keras tak pernah menghianati hasil. Akhirnya, singkat cerita sesingkat singkatnya, bisalah menulis. Dan sedikit pemasukan untuk jajan di kampus dari tulis menulis. 

Eh, lagi semangat semangatnya menulis, koran-koran pada mati. Tinggal koran koran bagus yang sulit ditembus. Walhasil, hasrat menulis pun menurun. Agak drastis. 

Eh, ketika muncul ada Kompasiana, mulai ikutan lagi. Tapi gak ada duitnya babar blas. Tak apalah. Buat nyalurin rasa gatel nulis aja. 

Sekarang jadi guru dan menulis juga. Nulis apa untuk personal branding? 

Ah, gak kepikiran. Bagiku nulis itu seenak hati aja. Nulis untuk kesehatan. Agak lebai sih. Tapi emang begitu. Kadang nulis cerpen, puisi, politik, edukasi, hobi, dan ternyata hampir semua kolom sudah pernah kujelajahi. Ya, semua. 

Jadi, personal branding-nya penulis serba bisa. Walaupun apa adanya. Toh, kadang untuk hidup di satu dunia terlalu sepi. Dan, bukankah sepi itu sesuatu yang mengerikan banget? 

Begitu kira kira. 

VIDEO PILIHAN