Mohon tunggu...
Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Mohon Tunggu... Guru - Menerobos Masa Depan

Kepala SMP Negeri 52 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Menyoal Surat Terbuka Komisioner KPAI kepada Mas Menteri

2 Agustus 2020   05:53 Diperbarui: 2 Agustus 2020   05:45 720
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Seorang komisioner KPAI menulis surat terbuka yang ditujukan kepada Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim.  Surat terbuka tersebut berisi beberapa hal yang sedang hangat hari hati belakangan ini. 

Dalam tulisan ini, saya hanya menyoroti hal pertama dalam surat terbuka komisioner KPAI tersebut.  Karena hal pertama ini, belum banyak di kupas secara baik.  Sehingga bisa memunculkan banyak pertanyaan. 

Dalam sebuah diskusi, Mas Menteri mengatakan bahwa sekolah negeri diperuntukkan bagi warga negara miskin.  Saya, dan mungkin lebih banyak warga negara ini yang memilih posisi mendukung gagasan Mas Menteri ini. 

Sekolah negeri adalah sekolah yang pembiayaannya sebagian besar, bahkan ada yang semua pembiayaan nya ditanggung oleh pemerintah.  Sehingga, bukan sebuah khayalan jika sekolah negeri lebih banyak yang gratis daripada yang bayar. 

Ketika masuk sekolah negeri, terutama di setingkat SMP dan SMA, berdasarkan nilai ujian nasional, maka orang orang kaya banyak memperoleh bangku sekolah negeri yang gratis tersebut.  Apakah anak orang miskin bego? Tidak. Anak-anak orang miskin tak memiliki kesempatan sama untuk memperoleh nilai ujian nasional tinggi. 

Kita semua tahu dan faham banget, jika soal soal dalam ujian nasional lebih banyak muncul soal soal ingatan.  Soal soal yang bisa dikerjakan asal mau berlatih berulang ulang hingga hafal tuh soal. 

Anak anak orang kaya, bukan hanya mendapat materi ujian nasional dari sekolah yang memang tak bisa maksimal mrngurus nilai ujian nasional karena harus mengurus banyak hal yang lebih penting seperti akhlak.  Anak anak orang kaya mendapatkan dril soal soal ujian nasional dari lembaga lembaga bimbingan belajar yang harganya semakin melangit. 

Jadi anak orang miskin bukan kalah pinter sehingga harus tersingkir dari sekolah negeri, tapi karena kalah uang untuk membeli ingatan dari lembaga bimbel.  Akhirnya, anak anak  miskin itu, harus masuk sekolah swasta.  Anda dapat bayangkan, sekolah swasta seperti apa yang bisa dimasuki oleh mereka yang miskin tersebut.  Sekolah swasta abal-abal. Sekolah swasta yang gurunya juga entah kualitasnya. 

Kemudian pemerintah mengubah semua itu. Ujian nasional dihapus. Sehingga sekolah dapat konsentrasi terhadap tugas pokok mendidik tinimbang mengajarkan soal soal ujian nasional. 

Kemudian pemerintah menghadirkan sistem zonasi dalam penerimaan siswa baru.  Sistem zonasi ini bisa meminimalisir ketidakmasukkan anak anak orang miskin ke sekolah negeri. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun