Mohon tunggu...
Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Mohon Tunggu... Guru - Menerobos Masa Depan

Kepala SMP Negeri 52 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Misteri Sentong Tengah

2 Juni 2020   13:57 Diperbarui: 2 Juni 2020   13:57 302
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ibu tetap saja mengunci kamar atau Sentong yang berada di posisi paling tengah di rumah kami. Padahal, bapak sudah sebulan lamanya meninggal. Tak boleh ada yang masuk, bahkan ibu sekali pun. Kunci Sentong disimpan ibu entah di mana. Aku coba cari, tak juga ketemu. 

"Tak ada yang boleh masuk sentong tengah," sabda ibu yang tak mungkin dibantah. 

"Kenapa, Bu. Bapak kan sudah tak ada? " tanya Astri adikku, yang langsung membuat muka ibu masam. 

Iya. Hanya ruang itu yang haram untuk dimasuki. Kamar lain, boleh, asal jangan sekali sekali masuk sentong tengah. 

Pernah Ardi, kakak sulung ku mencoba coba masuk dan ketahuan bapak. Tahu apa  akibatnya? Tak tanggung tanggung, punggung Kak Ardi disabet dengan gesper bapak yang tebal itu. Hingga satu minggu punggung Kak Ardi masih terlihat lebam. 

Bukan hanya itu. Jatah makan pun dikurangi. Dan sejak saat itu, Kak Ardi kapok. Melihat pintu sentong tengah pun Kak Ardi sudah ketakutan. 

Suatu malam, aku kebelet kencing. Gak bisa ketahanan lagi. Kak Ardi sudah dibangunin suruh anterin juga gak mau. Terpaksa aku ke sumur sendiri. 

Sehabis dari sumur, aku melewati sentong tengah. Dan di dalam sentong terlihat ada sinar. Terlihat dari celah kayu papan dinding yang bolong. 

Karena penasaran, aku ngintip. Dan aku kaget setengah mati. Karena di sentong tengah tersebut ada ular yang sangat besar. Ular besar itu sedang melilit tubuh bapak. Samar samar aku dengar ada suara suara aneh. Entah suara bapak atau suara ular itu. 

Sampai sekarang, aku tak pernah bercerita pengalaman ku ini. Termasuk kepada ibu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun