Mohon tunggu...
Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Mohon Tunggu... Menjaga Hati Nurani

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara

Demo 22 Mei Itu Nafsu, Bukan Jihad

21 Mei 2019   17:40 Diperbarui: 21 Mei 2019   18:13 0 5 1 Mohon Tunggu...

Kadang kadang kesel juga kalau lihat orang bodoh yang sok agamis.  Perbuatan busuk apa pun dibungkus dengan agama.  

Pemilu dibilang perang.   Terus dalam kondisi perang,  apa yang diharamkan berubah menjadi halal karena kondisi perang tersebut. 

Demo pun dibingkai dengan istilah jihad.   Terus kalau mati konyol karena demo rusuh dibingkai dengan syahid. 

Alangkah bodoh nya otak mereka.  Alangkah dungunya yang masih percaya dengan mereka. 

Tapi itulah fenomena di negeri ini.  Sampai sampai orang yang timeline twitter nya penuh dengan video porno pun bisa menasihati orang waras. 

Nafsu berkuasa telah menghilangkan logika.  Juga logika dalam beragama.   Harusnya, jika mereka beragama dengan benar, mereka akan mengikuti aturan yang sudah disusun bersama.   Mempercayakan persoalan kepada lembaga negara yang dibentuk berdasarkan keputusan bersama.  Bahkan,  pemilihan anggota lembaga itu pun dilakukan di Senayan,  tempat mereka menempatkan Wakil wakilnya. 

Mereka lebih memilih aksi jalanan.   Mereka teriak curang tapi tak punya bukti apa apa untuk pembuktian tuduhannya. 

Anehnya,  mereka selalu merasa memiliki tingkat keberagamaan yang lebih tinggi.  Sebuah kesombongan dari orang orang bodoh yang telah dibodohi dan hendak membodohi. 

Jika para pendemo itu merasa sedang berjihad,  maka sebetulnya mereka sedang terkurung dalam nafsu besarnya sendiri. 

Nafsu kok dibilang jihad.  Waras?