Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Guru

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

(RTC) Membunuh Kakek Novanto

15 November 2017   08:55 Diperbarui: 15 November 2017   09:04 134 4 2
(RTC) Membunuh Kakek Novanto
dok. pribadi

Saya mengendap-endap sambil terus waspada.  Tak ada siapa-siapa.  Saya raba pisau yang sudah terasah tajam yang saya selipkan di pinggang.  Masih ada.  

Rasa ragu masih mencoba mendesak-desak masuk ke dalam hati.  Saya coba buang jauh-jauh.  Sambil meyakin-yakinkan diri bahwa tindakan ini adalah sebuah perjuangan.  Perjuangan!

Kalian mungkin akan mengutuk saya, karena kalian tidak tahu siapa Kakek Novanto.  Dia kakek saya sendiri.  Dari ibu.  Tapi prilakunya tidak mencerminkan seorang kakek.  Apalagi kalau bicara harta.  Dia kumpulkan harta dengan gigih.  Gigih banget.  Tapi, dia juga mempertahankan setiap perak hartanya dengan gigih pula.

Ibu saya merupakan anak perempuan satu-satunya.  Tak p[ernah mengenyam pendidikan hingga SMA.  Setelah tamat SMP, langsung dikawinkan.  Hanya karena kakek tak mau kehilangan duitnya untuk menyekolahkan ibu.

Suka kawin?  Iya banget.  Tak perlu kamu hitung dengan jari.  Tak cukup jarimu untuk menghitung bini dan mantan dan mantan bini kakek.  Mungkin dia malah sudah lupa, sekarang punya bini berapa.  Karena terlalu banyak.  Ada yang nenek, ada juga yang baru tamat SMA.

Gila kan?

Bukan hanya itu.  Sekarang Kakek saya itu malah hendak menyingkirkan saya sebagai cucunya dari dunia ini.  Hanya karena saya sering menentang kebejatan moralnya.  Kemarin malam ada lima orang menghadang jalanku.  Menghajarku hingga bapak belur.  Lalu ditinggalkan di pinggir jalan.

Oleh karena itulah, malam ini saya ingin menghabisi kakek.

Malam semakin larut.  Di rumah kakek masih ramai.  Sepertinya ada rapat.  Saya tak tahu kalau malam ini ada rapat di rumah kakek.  Tak pernah saya dengar, kalau kakek suka mengadakan rapat.

Dari celah-celah jendela, saya coba melihat orang-orang yang ada di dalam rumah kakek.  Hatiku nyaris copot.  Semua laki-laki yang ada di rumah kakek ternyata memiliki wajah sama.  Semua wajah kakek.  Mereka tertawa juga sama persis dengan tertawa kakek.  Kok bisa?

Saya coba pejamkan mata.

Saat saya coba melihat dengan cermat, ternyata memang sepertri itu.  Semua wajah kakek.  Bajunya juga baju kakek.  Tawanya, tawa kakek.  Kenapa semua orang menjadi Kakek Novanto?  Terus yang mana yang merupakan Kakek Novanto yang asli?

Lebih baik saya batalkan niat saya membunuh Kakek Novanto.  Terlalu sakti dia.  Bisa menjelma menjadi banyak orang.  Jangan-jangan, wajah saya juga sudah berubah menjadi wajah Kakek Novanto.

Dan di depan cermin, saya terpana!