Mochamad Syafei
Mochamad Syafei pegawai negeri

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pernah juga mengajar di SMP N 228 Jakarta. Suka Menu Lis dan Me Mba Ca. Agar tidak jadi gila ....

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Sepotong Dialog di Makam Pahlawan

12 Agustus 2017   11:36 Diperbarui: 12 Agustus 2017   11:43 179 0 0
Sepotong Dialog di Makam Pahlawan
dok pribadi

Pagi masih begitu bening.  Seperti pagi-pagi yang lain, kami selalu duduk duduk di serambi kuburan kami masing-masing.  Kadang-kadang ngopi seadanya.  Sambil ngobrol ngalor ngidul sesuai perasaan hati.  Kadang soal politik, kadang soal sepele seperti kebiasaan lele yang suka makan apa saja.

Dan kami menikmatinya bersama.

"Bung, apa kita sudah meninggalkan sikap patriotisme kita pada anak cucu kita di atas sana?" tanya seorang teman yang tertembak waktu menyerbu benteng Jepang hendak merampas senjata-senjata Jepang.

"Itulah, Bung.  Kita terlalu asyik perang.  Kita lupa menumbuhkan sikap patriotisme pada anak cucu kita," keluh temannya yang meninggal lebih dulu saat sebelum Jepang menguasai negeri ini.

"Saya dulu tidak seperti kalian," kata seorang kakek yang ternyata kakek mereka yang meninggal zaman perang Diponegoro.  Kakek itu pengikut paling berani dari pasukan Diponegoro menghadapi Belanda.  Dan di dadanya memang masih ada tanda bekas tembakan.

"Aku sendiri suka malu di kubur di sini," kata laki laki gagah itu.

"Emang kenapa?"

"Saya ini bukan pahlawan.  Aku ketembak waktu nyerbur markas Jepang.  Tapi waktu itu tujuanku cuma mau nyari emas yang suka dipakai orang Jepang," keluh laki laki gagah itu.

"Sebetulnya, niat saya juga tidak murni berjuang," kata laki-laki yang tertembak Jepang.

"Jangan bicara itulah, aku malu juga," tambah laki-laki yang tertembak Belanda.

"Itulah yang disebut siksa kubur.  Kalian pasti merasa risih karena kalian telah dipaksa untuk menerima gelar pahlawan," kata Kakek pengikut Diponegoro.

"Tapi, kalau bukan kita yang dimakamkan di sini, siapa lagi yang akan dimakamkan di sini?" sanggah seseorang yang baru datang nimbrung.  "Setiap bangsa memang butuh pahlawan.  Kemudian mereka mencipta pahlawan pahlawannya."

Ada seorang perempuan datang.  Baunya wangi.  

"Siapa kamu?"

"Marsinah."

"Kamu dikubur di sini juga?"

"Jasadku entah dikemanakan.  Mereka tak mungkin menganggapku pahlawan.  Mereka menganggapku orang tak berguna.  Pembrontak tak punya otak."

"Kamu mau menyindir kami?"

"Kamu jangan menyiksa kami lagi."

Perempuan yang mengaku bernama Marsinah pergi.  Dan orang-orang yang dikuburkan di taman makam pahlawan itu tampak kesepian.  Ada yang hilang dari hatinya.

Entah.

(Terinspirasi puisi Karya Gus Mus "Di Taman Pahlawan")