Mohon tunggu...
Moch Aldy MA
Moch Aldy MA Mohon Tunggu... Mahasiswa - .

Pembaca yang suka menulis.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Bumi Manusia Tanpa Nama (I)

25 Agustus 2021   23:32 Diperbarui: 25 Agustus 2021   23:33 166 6 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bumi Manusia Tanpa Nama (I)
Unsplash.com

Malam itu, di kos-kosan, kau melihatku mengunyah kosakata merdeka yang belum matang secara paripurna. Lagi dan lagi, tentu dengan gigi curian yang kudapat dari bahasa Sanskerta. "Merdeka itu apa?" begitu katamu dengan nada manja. Terdengar arkais sekaligus manis. "Hmmm apa ya? 

Mungkin semacam hasrat terpendam dari makhluk berkaki dua tak berbulu yang sering disebut manusia, gairah terdalam setiap hamba, warga negara, budak korporat, sampai masyarakat adat di desa. 

Maknanya serupa rasa surga di dunia---mungkin juga hanya sekadar utopia: ketidakmungkinan yang diberi alamat kemungkinan oleh kita, manusia, dalam kalimat-kalimat mungkin saja."

Kau menerawang tanda tanya seraya dikoyak-koyak tata bahasaku. Tapi dengar, dengarlah sayang, dunia biadab ini sepertinya mengidap disabilitas diksi dengan tanda-tanda tuna-rima

Tak semua rasa memiliki bahasa. Tak semua resah memiliki istilah. Hipotesis yang ironis, cenderung fatalis, memang. Dan terkadang, omong kosong ini berlanjut dengan realitas---yang tiba-tiba menendang esensi merdeka keluar dari jendela pembatas. 

Lalu kita, harus memberi nafas buatan kepada eksistensi merdeka. Kemudian, berjalan di atas pecahan kaca yang terbuat dari mayat kegagalan dengan sentuhan pesimis yang sudah optimis. Aku ingat, rasanya begitu nendang seperti dihantam ciu bekonang, dan keras sekali seperti arak bali.

Setelah berkontemplasi tiada henti, kau mengajakku untuk menyelami makna agrikultura. Malam kian tenggelam, dan sisanya kau habiskan untuk menjambak rambutku. 

Sontak, Tuhan kabur malam itu. Semasih kau menyebut-nyebut nama-Nya. Bergantian dengan erangan 'oh ya, oh tidak'. Tidak, gendang telingaku tak kuat menahan lelucon ketika kau melabeli lidahku sebagai Daendels gaya baru. Sungguh, aku tak berminat menjajah tubuhmu dengan roman-roman Cultuurstelsel. Kau meraih ransel di tepi bantal dengan tanganmu. Lihat, tak ada Patriarki dalam sorot mataku. Lantas kau membuka obat tetes mata lalu meneteskannya. Tak ada Misogini pada kedua tanganku. Aku bukan orang yang sadis dan kau bahkan bukan masokis.

Namun dari arah bangsal, di samping kos-kosan. Tepatnya dari ketiak jendela, kita melihat para pejabat yang sibuk menyembunyikan bangkai seorang pahlawan. Ah sial, ingin rasanya kubakar dunia ini dengan hipokrisi pemerintah yang tiada habisnya. Persetan dengan itu. Nyatanya, dari pangkal paha sampai pangkal bahumu, tak kutemukan jalan dari Anyer sampai Panarukan. Hanya ketemukan bekas penjajahan di bibirmu. Tapi sejarah selalu ditulis oleh seorang pendusta, sayang. Tak ada bukti kerja paksa di nusantara, yang ada hanya budaya korupsi. Kompeni tak seburuk yang kita duga. Sejarah negara ini tak sebaik yang kita kira. Dan bercocok tanam bukan melulu perihal melepaskan seluruh lelah yang masih tersisa.

Papua tak sekadar Isla de Oro alias pulau emas. Seperti yang diungkapkan seorang pimpinan armada laut Spanyol: Alvaro de Saavedra. Tak semudah fitnah yang ditujukan kepada Tan Malaka. Tak sesederhana membaca buku Madilog tanpa dialektika. Komunis tak se-autis yang mereka pikir, percayalah, orang-orang pandir itu bahkan tak bisa membedakan antara Ateisme dan Animisme. Antara bacot patriot dan miskin logika. Otak mereka terlalu daif, naif, dan sakit untuk berpikir secara sehat. Semaun tertawa mendengar ini. Soeharto-lol hengkang dari prosa ini. Bersama ratusan ribu bahkan jutaan nyawa rakyat yang diduga anggota, dicurigai mengikuti partai terlarang, hingga yang tak berdosa pun mati dan hilang entah kemana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan