Mohon tunggu...
Moch Aldy MA
Moch Aldy MA Mohon Tunggu... Pejalan

Buku: Timbul Tenggelam Philo-Sophia Kehidupan (Self Publish, 2020) / Timbul Tenggelam Spirit-Us Kehidupan (Self Publish, 2020) / Trias Puitika (Guepedia, 2021)

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Gelap: Keabsurdan yang Abstrak

22 Januari 2021   14:35 Diperbarui: 22 Januari 2021   14:37 82 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Gelap: Keabsurdan yang Abstrak
Unsplash

Aku tidak pernah setuju
dengan seorang aktivis lama yang berkata,
sial bagi orang yang mati tua,
beruntung untuk orang yang mati muda,
dan lebih beruntung lagi bagi orang
yang tak pernah ada di dunia.

Aku lebih nyaman dengan kalimat,
beruntung orang yang hidupnya cukup
lalu mati di puncak kejayaannya,
sial untuk orang yang tak pernah
berdiri di atas kakinya sendiri,
dan memiliki penyesalan menjelang kematiannya.

Entahlah, aku, aku hanya pohon kayu
usang dan kian memudar
yang menyediakan rumah untuk fungi,
atau panggil saja aku kumbang tahi,
versi fauna dari Sisifus, namun sama,
dikutuk untuk menghidupi kematian.

Tapi aku takut, menjelma kecoak,
bernama Samsa yang tak diterima
oleh keluarganya sendiri, mengerikan,
lagipula, aku tak pernah bermetamorfosa,
menjadi Praha atau Kafka,
apalagi Milan dan Kundera.

Antara manusia dan fauna,
aku lebih suka flora, menjadi manusia,
itu melelahkan, sesekali harus,
mewujud serigala bagi serigala lain,
tepatnya serigala dengan anggur,
meski manusia adalah primata.

Aku ingin, aku ingin menjadi bunga,
bunga bangkai atau bunga teratai,
cerminan litotes dari estetika, sempurna!
sedikit hiperbolis memang
tanpa ada jejalin dengan fisiologis,
namun setan pun akan persetan.

Mengapa, mengapa melahirkan tanya,
karena aku ingin menari,
dan masa tua adalah mimpi buruk!
lupakan pohon tua, fungi, kumbang,
feses, sisifus, kecoak, kafka, kundera,
serigala, anggur atau bunga, aku ingin
muda dalam tua dan mati bahagia!

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
22 Januari 2021