Mohon tunggu...
Moch Aldy MA
Moch Aldy MA Mohon Tunggu... (genrifinaldy)

"๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ง๐ฎ๐ญ ๐ง๐ฎ๐ซ๐š๐ง๐ข, ๐ฉ๐ž๐ง๐ ๐ข๐ค๐ฎ๐ญ ๐ง๐š๐ฅ๐ฎ๐ซ๐ข, ๐ฉ๐ž๐ง๐๐จ๐š ๐ฌ๐ž๐ค๐š๐ฅ๐ข๐ ๐ฎ๐ฌ ๐ฉ๐ž๐ง๐๐จ๐ฌ๐š."

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Intisari Kehidupan yang Mati

10 Oktober 2020   20:12 Diperbarui: 10 Oktober 2020   21:50 59 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Intisari Kehidupan yang Mati
Sumber Gambar: Pinterest

Aku masih bersamamu sayang,
di bumi ini, bumi dengan segala beton penyangga infrastruktur katastrofi yang kian tandus, tiada henti diperkosa ereksi hegemoni dengan paksa tanpa klimaks, lalu melahirkan tanya kapan dan dimana

Aku masih bersamamu sayang,
di negara ini, negara yang akan selalu siap menjegal sekaligus menjagal Idealisme dengan senyap, lalu secara sembunyi mengudeta bumi dan melarang kita untuk mengeja nostalgia

Aku masih bersamamu sayang,
di tanah air ini, tanah air yang menjadi komoditi panas, bahkan terdikotomi jadi sawit dan karet, beberapa terkomodifikasi menjadi sabun mandi, lalu sisanya termaktub dalam kanon negara

Aku masih bersamamu sayang,
berbagi muram tragedi anomi, dengan analisa Fenomenalisme yang kebingungan untuk membaca gejala, hingga berdesakan, lalu menggeliat mencari jelaga muara jawaban dari setiap tanya

Aku masih bersamamu sayang,
berusaha untuk tetap menjaga kesehatan Rasionalisme dan ingatan akan obituari dari orang-orang yang sudah mati, orang-orang yang dilupakan, orang-orang yang hidup namun merasa mati, ataupun orang-orang yang tak pernah dianggap ada

Bukan untuk terjaring dalam distopia Empirisme, namun kita ada untuk membuktikan, bahwa menerjang arus tidak selesai hanya dengan menerima sirkus paranoia yang dicipta penguasa

Kita tak lagi terjebak Fatalisme, seperti mempercayai narasi seorang eskapis bigot tentang karnaval revolusi yang jatuh dari langit ketujuh menjelma kerangkeng dogma maupun absolut doktrin agama

Kita tak percaya lagi intrik Despotisme, ludahi muka mereka sayang, mereka yang berkata bahwa teater kotak suara secara berkala dapat menyelesaikan peliknya problematika tanpa rasa dialektika

Kita bersama, aku dan kamu, tanpa sederatan birokrasi ideologi konstitusi bernuasa hormon posesi maupun obsesi, yang niscaya menghunjam jantung hakikat Absurdisme secara nyata

Kita bersama, akan tumbuh menua, atau menyerah pada titik nadir, atau mungkin akan tersaruk mati diujung Nihilisme, sebagai konsekuensi akhir dari omong kosong harapan realitas yang fana

Kita bersama, aku dan kamu, tanpa siapapun, tanpa entitas lain, tanpa sesembahan lain yang berskala lebih tagut dari berhala maupun ampas neraka

Kita masih bersama, aku dan kamu, tanpa dia juga mereka, akan meleburkan dualitas suka maupun duka, sembari menunggalkan aku dan kamu menjadi kita

Meski dalam prosesnya, kita acap kali terhimpit piramida kebutuhan ataupun keinginan, sehingga paradigma kita terjun bebas kedalam palung Sinisme yang gelap buta

Namun, kita bersama, untuk membuktikan sayap-sayap Eksistensialisme, bahwa nafas kehidupan harus kembali direbut, bukan hanya dengan menikmati batang nikotin, ataupun ilusi oksigen dari paru-paru dimensi ketiga

Rasa takut akan Anarkisme mungkin masih berdiam dikepala, namun kita bersama, setidaknya kita masih mampu menembus sayup-sayup malam dengan ekstase, walau dibantu oleh beberapa ciuman dan pelukan hangat dari ranjang-ranjang yang tua

Tapi sayangku,
Materialisme sudah menjadi sampar,
tak ayal kita pun mencari kembara, dan sayangnya kemanapun kita pergi, dunia punya luka yang sama, itu dibuktikan oleh seorang anak berdurja tangis pilu, dikejamnya angkara aspal hitam jalan raya

Tapi sayangku,
Kapitalisme selalu menampar muka, sesekali dengan halus agar kita dirantai tak berdaya, bertopengkan pasar bebas sampai sengkarut argumen basi tentang bagaimana menyamankan posisi ruang kerja, bahkan mengamankan onggokan laba

Tapi sayangku,
bergelut di tengah Konsumerisme tak pernah semudah mengutuk rutinitas urban, yang dipencundangi lampu-lampu distotik maupun jajanan jalang berujung sanggama

Wahai sayangku,
yang terpampang dari dunia ini hanyalah kulitnya, dan tugas kita tak lain ialah mengolah bangkai-bangkai berjalan itu, menjadi daging hikmah yang bisa kita cerna

Duhai sayangku,
tak jenuh pula aku menacapkan memori, bahwa yang terpenting ialah kita masih membara dan masih sempat mengais makna dalam persinggahan yang sama

Namun sayangku,
mereka ada di sana, bersiap menguburkan benih-penih pembangkangan dan mematahkan utopia dengan kecewa, sementara disisi lain, kita adalah manifestasi dari Sisifus yang dihukum hingga ditelan masa

Namun sayangku,
mereka ada di sana, berjaga-jaga menjaga renjana nafsu dan merawat hasrat kuasa, sementara dilain sisi, mereka adalah representasi dari Icarus yang berambisi sebelum dihempas surya

Mereka di sana, membentuk kontingen barikade rapat menjaga Otoritarianisme, dengan tembakan gas air mata, dan sialnya mereka masih saja dapat menemukan senyum lebar melalui layar kaca

Mereka ingin kita eutanasia, namun kita masih bersama sayangku, membuka topeng hipokrit dan membongkar tabir mereka yang membenci Kritisisme, mereka yang seraya menstigma skeptis itu ilegal, sia-sia bahkan dosa

Sayangku, biarkan ragaku mendekap peluhmu, biarkan pikiranku menjaga komitmen kita, dan biarkan jiwaku memayungi jiwamu dari teriknya dunia

Meski, aku diancam, diteror,
diracun arsenik di udara, ataupun diseduh kafein sianida

Semua hipotesa realita ini memang hiperbolis, tanpa ada jejalin dengan fisiologis nyata, tapi sayangku, persetan dengan dematerialisasi diksi maupun demarkasi aksara pun juga metafora, selama dehumanisasi ataupun demoralisasi tak merangsek masuk kedalam nyawa

Sayangku, satu yang harus dirimu lakukan adalah membiarkan diriku untuk melukiskan gairah kebebasan pada kanvas Tabula Rasa, dan membiarkan diriku untuk tetap mencatat konstelasi semiotika dari semantik nisbi peradaban manusia

Sayangku, Vita ini Brevis namun Ars itu Longa, daksa kita ini rapuh namun sukma kita itu kekal, sehingga pada akhirnya akan mengukir jalan alternatif dari apriori eksistensi itu hanyalah temporer belaka, sebab itu adalah impuls postulat tanpa dalil yang berpangkal pada esensi fakta

Sayangku, sekali lagi, ini terakhir aku janji, adimanusiaย adalah Ubermensch, bukan mereka yang memiliki seperangkat masa depan, bukan juga mereka yang mewujud sebagai pialang-pialang kaveling surga

Oleh karena itu,
biarkan diriku untuk terus menjalani hidup prolifik, mentransfigurasi malapetaka setangguh Amorfati Fatum Brutum dan menghidupi frasa Carpe Diem untuk menerjang gelapnya epilog, yang entah kapan, dimana, dan bagaimana

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x