Mohon tunggu...
Muhammad Natsir Tahar
Muhammad Natsir Tahar Mohon Tunggu... Writerpreneur Indonesia

Muhammad Natsir Tahar ~ Writerpreneur - penikmat filsafat - hidup di Batam, Indonesia! International Certificates Achievements: English for Academic Study, Coventry University (UK)| Digital Skills: Artificial Intelegence, Accenture (UK)| Arts and Technology Teach-Out, University of Michigan (USA)| Leading Culturally Diverse Teams in The Workplace, Deakin University and Deakin Business Course (Australia)| Introduction to Business Management, King's College London (UK)| Motivation and Engagement in an Uncertain World, Coventry University (UK)| Stakeholder and Engagement Strategy, Philantrhopy University and Sustainably Knowledge Group (USA)| Pathway to Property: Starting Your Career in Real Estate, University of Reading and Henley Business School (UK)| Communication and Interpersonal Skills at Work, University of Leeds and Institute of Coding (UK)| Leading Strategic Innovation, Deakin University (Australia) and Coventry University (UK)| Entrepreneurship: From Business Idea to Action, King's College London (UK)| Study UK: Prepare to Study and Live in the UK, British Council (UK)| Leading Change Through Policymaking, British Council (UK)| Big Data Analytics, Griffith University (Australia)| What Make an Effective Presentation?, Coventry University (UK).

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Para Pendaki Tuhan

31 Desember 2018   09:53 Diperbarui: 1 Januari 2019   09:25 1815 10 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Para Pendaki Tuhan
Ilustrasi: thoughtco.com

Dari sebuah lembah Zamzam yang disinggahi kafilah nomadik, Mekah berubah menjadi pusat kapitalisme klasik dan berada dalam periode yang paling menggelisahkan. Di situlah Islam lahir, ketika bangsa Arabia sedang mengalami dislokasi kultural yang cukup parah, seiring erosi tradisi-tradisi mereka sendiri.

Karen Amstrong dalam History of God menyebut, Nabi Muhammad adalah seorang genius luar biasa. Tatkala wafat pada 632 M, beliau telah berhasil menyatukan hampir semua Arab dan membuka kunci bagi kekuatan spiritual yang besar, dan dalam waktu 100 tahun telah lahir sebuah imperium Islam yang membentang luas dari Himalaya hingga Pirenia. Islam di bawah Muhammad, tidak berperang kecuali atas wahyu untuk pembelaan diri.

Sebelum itu, selain paganisme, Gua Hira tempat wahyu Allah pertama tiba, dikelilingi kolektivitas Yahudi dari Yatsrib hingga utara Mekah, Zorostarian Persia dan Kristen Nestorian di Byzantium, selain entitas yang menepis monoteisme Yahudi dan Kristen, untuk langsung mencari akar ketuhanan Ibrahim.

Pasca Islam, umat manusia memasuki fase pendakian Tuhan, setidaknya yang paling dibicarakan dalam sejarah monoteisme. Pembahasan tentang status Yesus sebagai Sang Firman, telah sangat menyibukkan orang Kristen. Di masa-masa awal Islam, kaum Muslim pun mulai memperdebatkan sifat Al Quran: apakah sebagai makhluk atau bukan.

Sekte Syiah lahir dan mengembangkan gagasan yang lebih dekat dengan Inkarnasi Kristen dengan mengkultuskan Ali ibn Abi Thalib. Di samping dengan keras melakukan kritikan terhadap Dinasti Umayah yang dipandang elitis dan bermewah-mewah. Sikap oposisi ini juga sejalan dengan kelompok lainnya yang disebut Mu'tazilah, yakni mereka yang berusaha melakukan pendakian Tuhan dengan kekuatan akal.

Islam adalah agama yang paling memiliki dinamika progresif, dimulai abad kesembilan, ketika mulai bersentuhan dengan sains dan filsafat Yunani. Islam menjadi satu-satunya agama yang paling maju di dunia dalam sejarah pikiran, kultural dan sains. Pada masa Barat masih diselimuti kemuraman periode Gothik, para ahli sains dan filyasuf (filosof Muslim) telah menyita perhatian dunia.

Para filosof tersebut telah sekaligus mengembangkan studi kognitif empiris bagi pengetahuan dan metafisika Aristoteles untuk menerapkan prinsip-prinsipnya ke dalam Islam. Yahudi dan Kristen sudah memulainya pada periode Helenisme, namun sensor ketat terhadap bid'ah akal dan rasionalisme untuk masuk ke dalam dogma biblikal, telah memadamkan sains dan filsafat di Romawi dan Eropa pada umumnya.

Filsafat telah ikut memberi cara pandang baru terhadap teologi Islam. Ibnu Sina (Avicenna) -seorang filosof Syiah- misalnya lebih tertarik pada Neoplatonisme falsafah, dibanding Ibnu Rusyd (Averros) yang lebih Aristotelian. Menurut Ibnu Sina, Nabi Muhammad lebih tinggi derajatnya dari Filosof manapun karena dia tidak tergantung kepada akal manusia (yang ditajamkan dalam filsafat Aristoteles), namun memperoleh pengetahuan langsung dan intituitif dari Allah (cara pandang Plato).

Lain halnya dengan Al Ghazali (Al Ghazel), seorang filosof yang kemudian beralih menjadi mistikus Sufi. Dia mungkin berpendapat, cara pandang filosofis membuat Tuhan sebagai penggerak awal kosmos tampak jauh, dan berdiam diri di atas keagungan-Nya sambil membiarkan manusia berada dalam kehendak bebas. Tanpa mengabaikan akal, Ghazali beralih ke wilayah Sufisme dan dengan cara ini dia mengalami Tuhan dengan sangat dekat.

Seperti Ibnu Sina, Al Ghazali mempertimbangkan kembali kepercayaan kuno Platonik mengenai alam ideal yang berada di atas dunia material. Dunia baginya hanyalah replika inferior dari alam al Malakut -sebagai alam spiritual yang juga dibicarakan dalam Yahudi dan Kristen.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x