Mohon tunggu...
Muhammad Natsir Tahar
Muhammad Natsir Tahar Mohon Tunggu... Penulis - Writerpreneur Indonesia

Muhammad Natsir Tahar| Writerpreneur| pembaca filsafat dan futurisme| Batam, Indonesia| Postgraduate Diploma in Business Management at Kingston International College, Singapore| International Certificates Achievements: English for Academic Study, Coventry University (UK)| Digital Skills: Artificial Intelligence, Accenture (UK)| Arts and Technology Teach-Out, University of Michigan (USA)| Leading Culturally Diverse Teams in The Workplace, Deakin University and Deakin Business Course (Australia)| Introduction to Business Management, King's College London (UK)| Motivation and Engagement in an Uncertain World, Coventry University (UK)| Stakeholder and Engagement Strategy, Philantrhopy University and Sustainably Knowledge Group (USA)| Pathway to Property: Starting Your Career in Real Estate, University of Reading and Henley Business School (UK)| Communication and Interpersonal Skills at Work, University of Leeds and Institute of Coding (UK)| Leading Strategic Innovation, Deakin University (Australia) and Coventry University (UK)| Entrepreneurship: From Business Idea to Action, King's College London (UK)| Study UK: Prepare to Study and Live in the UK, British Council (UK)| Leading Change Through Policymaking, British Council (UK)| Big Data Analytics, Griffith University (Australia)| What Make an Effective Presentation?, Coventry University (UK)| The Psychology of Personality, Monash University (Australia)| Create a Professional Online Presence, University of Leeds and Institute of Coding (UK)| Collaborative Working in a Remote Team, University of Leeds and Institute of Coding (UK)| Create a Social Media Marketing Campaign University of Leeds (UK)| Presenting Your Work with Impact, University of Leeds (UK)| Digital Skills: Embracing Digital, Technology King's College London (UK), etc.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sirkus Elektabilitas Bernama Pilpres 2019

3 November 2018   12:12 Diperbarui: 5 November 2018   16:45 421
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: www.couling.com

Pemilu dapat kita analogikan sebagai kontes ratu sejagat. Akan ada dua kategori yakni ratu terbaik dan ratu favorit pilihan pemirsa. Karena negara ini tak punya juri, maka logika kita dipaksa untuk menerima pemimpin berdasarkan tingkat kesukaan mayoritas.

Selalu ada rentang yang jauh di antara keduanya. Di belakang ratu terbaik, masih ada terbaik dua, tiga dan seterusnya. Pemirsa nyaris tak pernah tahu apa yang terbaik untuk mereka dan itu adalah keniscayaan demokrasi. Sementara kebenaran tidak ditentukan oleh suara mayoritas.

Demokrasi memiliki jebakan-jebakannya sendiri, salah satunya adalah elektabilitas atau tingkat kesukaan publik yang kemudian berakhir di kotak suara. Ada sesuatu yang disembunyikan atau bahkan refleksi kenaifan jika ada yang mengatakan bahwa si X telah terpilih secara demokratis.

Jika memakai diksi yang kejam, demokratis yang dimaksud tak ubah seperti seorang badut yang dijulang dari panggung sirkus hanya karena mendapat tepuk tangan terbanyak.

Sudah berapa ribu lusin badut yang tertangkap korupsi, namun pemilihnya seperti tak merasa bersalah telah menitipkan perampok ke dalam negara. Atau sudah seberapa banyak pemimpin dan anggota legislatif yang unfaedah atau tidak memberi nilai tambah kecuali membebani negara. Paling tidak kita mulai insyaf, bahwa elektabilitas tidak sama dengan hukum fisika.

Dua kandidat yang berdiri di panggung sirkus demokrasi sekarang ini bukanlah mereka yang terhebat, tapi adalah mereka yang berhasil melewati lubang jarum politik elitis. Seperti kata penulis dan penyair Skotlandia, George E. MacDonald, bukanlah hakikat politik bahwa orang terbaik harus terpilih. Orang yang terbaik malah tak berpolitik karena tidak mau mengatur para pengikutnya.

Demokrasi adalah penegasan kalau dunia ini tak lebih dari senda gurau. Sejak awal kita menyerahkan hal-hal yang serius kepada politisi. Politisi adalah salah satu profesi tertua sekaligus yang paling diminati. Sedangkan di dunia ini menurut Groucho Marx, semua orang dilahirkan sama, kecuali para politisi.

Sejarah adalah sejenis drama di mana setiap babak diikuti oleh paduan suara ketawa. Agar politisi dapat menampilkan dirinya, maka kondisi negara dibuat seolah-olah ruang hampa. Padahal tidak begitu, negara bisa membuat cetak birunya sendiri dan dapat dijalankan secara kemudi otomatis.

Percayalah bahwa politisi telah lama membangun mitos, untuk mambantah teori tersebut agar selalu tersedia kursi panas yang bisa mereka pertengkarkan. Wartawan dan kritikus budaya AS, Saul Bellow sampai berujar, merebut posisi presiden sekarang adalah satu persilangan antara kontes popularitas dan debat anak SMA, dengan ensiklopedi yang terutama berisi kata-kata klise.

Kontestasi politik yang didesakkan oleh kalangan politisi agar terjadi sirkulasi elit dengan berlindung di balik demokrasi, menyebabkan negara ini tak pernah memiliki cetak biru. Padahal Negara -seharusnya- sudah punya sistemnya sendiri, sampai kepada tingkat, pemimpin diberi ruang bicara untuk mengatur sedikit hal, di luar semata membaca teks pidato dan menggunting pita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun