Mohon tunggu...
Muhammad Natsir Tahar
Muhammad Natsir Tahar Mohon Tunggu... Penulis - Writerpreneur Indonesia

Muhammad Natsir Tahar| Writerpreneur| pembaca filsafat dan futurisme| Batam, Indonesia| Postgraduate Diploma in Business Management at Kingston International College, Singapore| International Certificates Achievements: English for Academic Study, Coventry University (UK)| Digital Skills: Artificial Intelligence, Accenture (UK)| Arts and Technology Teach-Out, University of Michigan (USA)| Leading Culturally Diverse Teams in The Workplace, Deakin University and Deakin Business Course (Australia)| Introduction to Business Management, King's College London (UK)| Motivation and Engagement in an Uncertain World, Coventry University (UK)| Stakeholder and Engagement Strategy, Philantrhopy University and Sustainably Knowledge Group (USA)| Pathway to Property: Starting Your Career in Real Estate, University of Reading and Henley Business School (UK)| Communication and Interpersonal Skills at Work, University of Leeds and Institute of Coding (UK)| Leading Strategic Innovation, Deakin University (Australia) and Coventry University (UK)| Entrepreneurship: From Business Idea to Action, King's College London (UK)| Study UK: Prepare to Study and Live in the UK, British Council (UK)| Leading Change Through Policymaking, British Council (UK)| Big Data Analytics, Griffith University (Australia)| What Make an Effective Presentation?, Coventry University (UK)| The Psychology of Personality, Monash University (Australia)| Create a Professional Online Presence, University of Leeds and Institute of Coding (UK)| Collaborative Working in a Remote Team, University of Leeds and Institute of Coding (UK)| Create a Social Media Marketing Campaign University of Leeds (UK)| Presenting Your Work with Impact, University of Leeds (UK)| Digital Skills: Embracing Digital, Technology King's College London (UK), etc.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Antara Mahatma, Mandela dan Mahathir

12 Mei 2018   11:52 Diperbarui: 6 Juli 2018   17:08 2598
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mahathir Mohamad| Foto: Moh Rasfad

Setelah berusia tua, Socrates belajar musik. Lalu ada orang berkata padanya, "Apakah engkau tidak malu belajar di usia tua?" Dia menjawab, "Aku justru merasa lebih malu menjadi orang yang pandir di usia sebegini."

Pergi melawan arus, mengambil jalan yang jarang dilalui bukan jalan yang dipukuli. Tertawa dalam menghadapi kesulitan, dan melompat sebelum Anda melihat. Menari seakan semua orang menonton. Berbaris dengan ketukan drum Anda sendiri. Dan keras kepala menolak untuk menyesuaikan diri. Ini kata Penulis Amerika Serikat Mande Hale, sebagai saran agar setiap kita selalu punya jiwa muda, jiwa petarung.

Rerata manusia yang menginjak kepala enam akan siap-siap menggulung perangkat kerja, mengatur kursi goyang di beranda, menunggu cucu berkunjung. Tak berminat akan apa-apa dan memulai hitung mundur menuju helaan nafas terakhir. Beberapa terserang post power syndrome.  

Ilustrasi: stackpathdns.com
Ilustrasi: stackpathdns.com
Tidak bagi  Colonel Sanders. Ia baru memulai bisnis ayam gorengnya pada usia 62 tahun, dan butuh sembilan tahun pula untuk meracik sebelas bumbu hingga lidah kita mencecap kesempurnaan rasa Kentucky Fried Chicken (KFC).

Nelson Mandela punya alasan kuat untuk membusuk di dalam kurungan, 27 tahun bukan waktu sebentar. Bila pendiri Rolling Stone, Lewis Brian Hopkin Jones dilahirkan pada hari Mandela dipenjara, bintang rock dunia ini pun mati ketika Mandela dibebaskan. 

Dalam 27 tahun berbilang bintang telah lahir dan mati, vokalis Nirvana, Kurt Cobain dan bintang bola Andres Escobar sampai Raja Iraq, Ghazi bin Faisal adalah di antara para pesohor yang diberi jatah hidup seumur Mandela meringkuk dalam kurungan. Kita segera teringat kepada Sang Penyair Revolusioner Chairil Anwar yang wafat juga di usia segitu.

Kembali pada Mandela, usia 72 ia bebas dan langsung melaksanakan serangan balik lewat kampanye multiras, dan merebut kursi Presiden Afrika Selatan dalam usia 76 tahun.

Belum lama, kita dicengangkan oleh Sang Lagenda Mahathir Mohamad. Di usia sangat sepuh, 92 tahun ia terpilih kembali menjadi Perdana Menteri Malaysia. Tidak ada kata mati bagi Mahathir setelah sayap politiknya dibentang selama 70 tahun. Mestinya ia sudah tamat di usia 78 tahun ketika meninggalkan singgasana perdana menteri sepanjang 22 tahun.

Meninjau Mahatma Gandhi, di usia 78 inilah ia mencapai keabadian. Butuh tiga peluru untuk menghentikan langkahnya. Lelaki tua itu segera sekarat, saat berjalan tertatih untuk memberi ceramah di Biria House.

Gandhi adalah salah seorang yang paling penting dalam gerakan kemerdekaan India. Ia adalah aktivis yang mengelak kekerasan, dan tak lelah mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi damai. Usia 45 ia bergelar Mahatma (jiwa agung dalam Sanskerta), dan menghabiskan separuh umurnya dalam kebajikan.

Sebelum Gandhi sempat menyampaikan ceramah, tiga peluru muntah dari pistol semi-otomatis milik pembunuh bernama Nathuram Vinayak Godse, tepat menembus dada. Tidak lama kemudian, Gandhi tewas. Ceramah di Biria House tinggal kesedihan yang mengimpit semesta India.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun