Mohon tunggu...
Sakti
Sakti Mohon Tunggu... -

Urbanis, Humanis, Moderat

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Yang Muda, Yang Bertani

22 Mei 2019   20:41 Diperbarui: 22 Mei 2019   21:10 0 0 0 Mohon Tunggu...
Yang Muda, Yang Bertani
salah satu video tentang bertani hidroponik - tangkapan layar youtube

Dari sebuah kanal Youtube, nampak seorang pemuda sedang menjelaskan cara menyemai kangkung menggunakan dakron. Terlihat instalasi hidroponik dari dari susunan pipa PVC terpasang sebagai latar belakangnnya. Ia terlihat fasih menjelaskan tahap demi tahap caranya. Saya mengenalnya, Daman namanya. Sudah setahun terakhir ini ia menjadikan halaman belakang rumahnya yang berukuran 3x6 meter menjadi 'lahan pertaniannya'. Saya tahu dia bukan sarjana pertanian dan tidak berasal dari keluarga petani. 

Berdasarkan pengakuannya, ia belajar secara otodidak menjadi petani pemula dari video Youtube dan kemudian mengembangkan ilmunya lewat tanya jawab pada jejaring pertemanan sesama pelaku pertanian hidroponik di facebook. Ia tidak sendiri, terlihat dari kolom komentar videonya yang berisi tanya jawab antara dia dan anak-anak muda lainnya yang sedang menggeluti kegiatan sejenis. Bisa dikatakan inilah wajah petani perkotaan saat ini, muda cenderung narsis.

Bisakah Menjadi Petani di Kota?

Kata 'bertani' dan 'kota' mungkin bagi sebagian dari kita bukan sebuah paduan yang serasi. Seperti permainan mencocokkan kata, dua kata itu terlihat mustahil ditautkan dalam satu garis yang sama. Sehingga nampak lumrah bila kita bertanya, bisakah kita menjadi petani di kota? Jawabnya bisa. Seperti yang saya ceritakan di awal, sekelompok anak muda lintas kota di Indonesia pelan-pelan sudah memulainya. Walau kegiatan ini sifatnya masih sebatas individu, namun apabila diberikan perhatian dan pendampingan dari pemerintah maka kegiatan bertani kecil-kecilan ini bisa diperbesar skalanya. 

Tidak perlu jauh-jauh, dimulai pada tahun 2011 Komunitas Indonesia Berkebun sudah berhasil melakukannya. Jejaringnya bahkan mencapai 30 kota di seluruh Indonesia. Gerakan ini sebenarnya bisa menjadi titik awal kebangkitan kesadaran bertani di kota. Sayang gerakan ini sekarang agak berkurang gaungnya. Mungkin tidak mampu berkolaborasi dengan pemerintah daerah setempat atau mungkin karena tidak sanggup meregenerasi anggotanya. Sebuah gerakan komunitas memang terkadang diuji ketahanannya oleh waktu sehingga tidak hanya menjadi tren sesaat.

Regenerasi petani memang bukan hal yang mudah. Hal itu sudah menjadi semacam kecemasan dari tahun ke tahun. Berdasar hasil survey LIPI hampir tidak ada anak petani yang ingin menjadi petani. Sekitar 4% pemuda usia 15-35 tahun berminat menjadi petani. Sisanya, sebagian besar tergiring industrialisasi. Lebih rumit lagi, Dari jumlah petani yang ada, sekitar 65% sudah berusia diatas 45 tahun. Artinya, jumlah petani yang berganti ke okupasi ke luar sektor pertanian lebih besar dibanding anak muda yang bersedia menekuni usaha pertanian (sumber).

Bagaimana Seharusnya?

Mengajak generasi muda saat ini untuk bertani memang terlihat pesimistik. Namun bila kita melihat kembali apa yang telah dilakukan oleh Daman dan anak-anak muda lainnya mungkin kita masih bisa berharap adanya generasi yang peduli dengan pertanian. Bagi saya, inisiasi individu menjadi penting dalam hal ini. Individu-individu tersebut dapat menjadi agen perubahan (agent of change) untuk mengenalkan sebuah konsep pertanian perkotaan berbasis komunitas di lingkungan masyarakatnya.

Pendekatan pertanian berbasis komunitas memang lebih cocok untuk diterapkan di wilayah perkotaan. Ini bertolak belakang dengan paradigma pertanian di desa yang bersifat individual dan rumah tangga. Keterbatasan lahan di perkotaan menyebabkan aktivitas bertani harus memanfaatkan lahan-lahan yang ada di sela-sela permukiman penduduk. Dan ini lebih sustainable bila digalakkan oleh komunitas masyarakat. Banyak contoh pertanian komunitas yang bermula dari inisiasi individu yang tumbuh di lingkungan masyarakat, seperti misalnya di Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat. Dimana aktivitas di satu rumah kemudian merembet ke rumah warga lain dan lalu diduplikasi di lokasi permukiman lainnya dengan bantuan pemerintah daerah.

Model pertanian seperti ini saya rasa bisa jadi berhasil untuk diterapkan di banyak wilayah di Indonesia. Virus positif ini bisa disebarluaskan dengan bantuan teknologi media sosial, seperti Facebook, Instagram dan Youtube. Saat ini, konsep influencer menjadi sebuah paradigma generasi sejalan dengan penetrasi internet yang masif di lapisan masyarakat. Tugas dari pemerintah adalah bagaimana agar bisa lahir influencer-influencer petani muda yang dibekali dengan ilmu bertani yang mumpuni serta ilmu komunikasi publik yang baik yang bisa menggerakan kesadaran generasi muda untuk ikut dalam aktivitas bertani. Sehingga anak muda bertani mungkin bisa menjadi sebuah gerakan baru anak muda di tahun-tahun mendatang di Indonesia. Semoga.