Mohon tunggu...
Sakti
Sakti Mohon Tunggu... -

Urbanis, Humanis, Moderat

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Kerusuhan Little India: Sebuah Konsekuensi dari Warisan Kolonial

11 Desember 2013   14:28 Diperbarui: 24 Juni 2015   04:03 0 8 12 Mohon Tunggu...

Singapura tersentak. Negara kecil di jazirah Asia Tenggara yang selama ini identik dengan aman dan damai ini, tiba-tiba harus merasakan gejolak. Kawasan Little India-lah episentrumnya. Kerusuhan diduga terjadi setelah sebuah bus milik swasta menabrak dan menewaskan seorang pekerja keturunan India berusia 33 tahun, yang sedang menyeberang jalan. Dari video menunjukkan bahwa setelah kecelakan terjadi, massa yang marah membakar bus. Setidaknya ada 18 orang terluka, termasuk 10 polisi. 5 Kendaraan polisi serta 1 ambulans dirusak perusuh yang diperkirakan berjumlah sekitar 200 orang. Kerusuhan di Little India ini merupakan yang kali pertama dalam 44 tahun terakhir, setelah terakhir terjadi pada 1969. [caption id="" align="aligncenter" width="577" caption="Foto Panorama Serangoon Road, Little India, Singapura (sumber: wikipedia.org)"][/caption]

***

Singapura merupakan negara multi etnis bekas jajahan Inggris. Sejak dulu, negara ini menjadi tempat perlintasan dan pertemuan berbagai budaya, mulai dari etnis Tionghoa, Melayu, India, sampai Eurasia. Semua bertempat tinggal dan mencari penghidupan di negara tersebut. Seperti taktik politik pemerintah kolonial pada umumnya, permukiman di Singapura dibuat pendekatan mono-neighborhood atau segregasi berdasarkan etnis. Sehingga pada akhirnya terbentuklah kantong-kantong permukiman yang kita kenal sampai sekarang seperti Chinatown, Bugis Street, Arab Street, dan Little India.

[caption id="attachment_297940" align="aligncenter" width="370" caption="Peta Rencana Kota di Singapura dengan segregasi permukiman tahun 1828 (sumber: http://www.mascontext.com)"]

13867464211583113154
13867464211583113154
[/caption]

Warisan kolonial inilah yang perlu dicermati. Bagaimana akhirnya perancangan kota (urban design) digunakan sebagai alat politik oleh pemerintah kolonial untuk mengontrol masyarakat pada saat itu masih tetap dipertahankan sampai sekarang.

Segregasi permukiman seperti ini bagai koin bersisi dua. Di satu sisi, segregasi seperti ini dapat menjadi ciri khas sebuah kota (image kota) terkait dengan citra kawasan. Sisi positif seperti ini bisa dimanfaatkan sebagai potensi wisata sebuah negara. Singapura-lah salah satu contoh terbaiknya. Dapat kita lihat betapa kawasan-kawasan seperti yang telah disebutkan sebelumnya disulap menjadi aset wisata yang sanggup memancing jutaan wisatawan setiap tahunnya. Namun di sisi lain, segregasi rasial dalam sebuah wilayah juga ibarat api dalam sekam. Dalam tiap-tiap kelompok masyarakat lambat laun akan muncul stigma-stigma yang menuju pada pemberian stereotip antar etnis, dimana pada akhirnya akan melahirkan sentimen dan kecemburuan sosial. Ini jelas-jelas tidak sesuai dengan pandangan masyarakat yang semakin peduli pada isu diskrimasi SARA di era globalisasi dengan paham kosmopolitanisme seperti saat ini. Inilah yang menjadi tugas pemerintah dan perencana kota (urban planner) ke depan. Kota yang telah 'jadi' tentu lebih susah untuk ditata. Diperlukan strategi yang tepat untuk meminimalisasi kecemburuan sosial antar etnis akibat dari segregasi rasial seperti yang terjadi di Singapura.