Mohon tunggu...
HADI
HADI Mohon Tunggu... +62

+62

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

"Siapa" di Balik Aksi Tolak "Bos Gojek"

22 Oktober 2019   14:01 Diperbarui: 22 Oktober 2019   14:28 0 0 0 Mohon Tunggu...

Setelah melewati kontestasi yang sangat panjang, akhirnya pasangan Capres dan Cawapres Joko Widodo - Ma'ruf Amin diputuskan memenangkan Pilpres 2019. Bukan berarti kemenanganya berjalan mulus begitu saja, pasca diumumkan oleh KPU, Jokowi-Amin sempat "dijegal" kemenanganya melalui laporan ke MK oleh lawanya. Namun, lagi-lagi Jokowi-Amin mampu melenggang dengan kemenanganya. Tidak dapat dipungkiri, kemenangan Jokowi-Amin tidak lepas dari usaha berbagai pihak yang "ikhlas" dalam memuluskan jalan menuju RI 1 dan RI 2 2019-2024 mendatang.

Berbicara tentang ikhlas, bahkan manusia yang beribadah secara ikhlas ia akan berharap surga dari Tuhanya. Bagaimanapun juga, berbagai pihak yang telah membantu Jokowi-Amin akan berusaha menuntut atas "keikhlasan" mereka. Memang, banyak yang tidak terang-terangan, tapi ada beberapa partai dengan warna-warna yang indah secara jelas dan bangga di depan publik meminta "upeti" kepada sang RI 1 terpilih. MENTERI, jabatan yang strategis, memiliki banyak kewenangan (termasuk pengaturan anggaran) dan pemilihanya menjadi hak prerogatif Presiden menjadi salah satu bentuk "upeti" favorit yang diminta.

21 Oktober yang lalu, beberapa nama dipanggil ke Istana. Kedatangan mereka disebut-sebut sebagai calon pembantu PILIHAN Presiden yang saat ini masih menyusun kabinet barunya. Tokoh-tokoh terkenal pun muncul, mulai dari Mahfud MD hingga yang menjadi perbincangan saat ini yaitu Sang Bos GOJEK, Nadiem Makarim. 

Belum sempat diumumkan secara resmi, beberapa menit setelah Nadiem keluar istana dan menyatakan mundur dari perusahaan yang ia bangun, banyak berita bermunculan di media online khususnya yang memuat rencana driver gojek yang akan melakukan aksi besar-besaran apabila Nadiem diangkat menjadi Menteri.

Apakah aksi penolakan oleh Driver Gojek yang menolak Nadiem diangkat sebagai menteri murni dari mereka? Para Pengemudi beralasan, bagaimana Nadiem bisa mengurus bangsa ini jika kesejahteraan driver saja belum bisa direalisasikan. Besarnya jumlah driver online sendiri seakan menjadi sebuah kekuatan besar yang dapat dimanfaatkan oleh "orang pandai". Driver online memiliki ikatan yang kuat atas kesamaan rasa dan nasib sehingga memunculkan solidaritas yang kadang justru menjadi alat untuk mengintimidasi siapa saja yang mencoba mengganggu mereka.

Berbeda dengan Wishnutama yang juga dipanggil oleh Presiden pada Senin lalu, Nadiem dianggap bukan golongan yang "ikhlas" membantu kemulusan jalan bagi Jokowi-Amin, atau bahkan bisa dibilang tidak berkontribusi sama sekali. Wishnutama dengan media yang ia miliki, sudah tentu ia layak mendapatkan imbalan atas "keikhlasanya". Nadiem akan mendapat intervensi dari pihak-pihak yang telah "ikhlas" baik secara langsung maupun tidak langsung. Para Driver Gojek seharusnya juga peka terhadap pihak-pihak yang dengan sengaja memanfaatkan mereka yang pada kenyataanya mereka tidak akan mendapatkan keuntungan atas apa yang mereka lakukan.

Sekarang mari kita lihat apakah sang Calon Menteri, Nadiem kuat dalam menghadapi cobaan pertamanya untuk masuk dalam lingkungan pemerintahan, atau ia akan menyerah dan mengundurkan diri karena muak dengan keadaan pemerintahaan yang jauh berbeda dengan iklim kerja di perusahaan.