Mohon tunggu...
M. Jojo Rahardjo
M. Jojo Rahardjo Mohon Tunggu... Penulis - Maksimalkan fungsi otak hanya dalam hitungan hari.

Pakar neuroscience mendefinisikan positivity: "Sebuah kondisi di otak di mana otak bekerja maksimal, sehingga otak lebih cerdas, kreatif, inovatif, analitis, mampu memecahkan masalah, tahan terhadap tekanan dan mudah lepas dari depresi, fisik lebih segar, immune system membaik, dan lebih cenderung berbuat kebajikan". ______________________________________________________________________________ Tulisan M. Jojo Rahardjo tentang positivity atau positive psychology bisa dibaca juga di website "Membangun Positivity".

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Masa Depan Konflik Israel-Palestina

30 Mei 2021   21:43 Diperbarui: 30 Mei 2021   22:00 84 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Masa Depan Konflik Israel-Palestina
Gambar: https://www.dreamstime.com/

Sebuah surat yang telah disobek-sobek ditemukan di sebuah keranjang sampah markas militer Perancis oleh staf dari seorang Jenderal pada tahun 1894. Isinya informasi penting tentang militer Perancis yang seharusnya tak boleh bocor ke tangan musuh, yaitu Jerman. Seketika dilakukanlah investegasi besar2an untuk menemukan siapa yang telah menjual rahasia militer Perancis ke pihak Jerman melalui surat yang telah disobek-sobek itu. Seketika pula, kecurigaan mengarah pada Letkol Alfred Dreyfus. Mengapa begitu?

Sebenarnya Dreyfus tidak punya track record yang tercela, tidak pula punya motif untuk melakukan pengkhianatan. Namun ada dua hal yang mencolok bagi kebanyakan orang. Dua hal itu mendorong kecurigaan ditujukan terhadap Dreyfus. Pertama, tulisannya mirip dengan surat yang ditemukan. Kedua, Dreyfus satu2nya pejabat militer yang berdarah Yahudi. Kita tahu, Yahudi dianggap bangsa yang buruk karena beberapa kitab suci menuliskan kisah buruknya. Kisah itu menempel di kepala banyak orang sejak masih kecil sekali.

Lalu rumah Dreyfus digeledah, dan tak ditemukan bukti apa pun. Namun ini malah dianggap sebagai bukti awal betapa licinnya Dreyfus sebagai mata-mata. Ia ternyata memiliki skill yang bagus dalam menghilangkan jejak atau menghilangkan bukti kejahatan. Lalu mereka memeriksa biodata-nya, bahkan menginterview guru di sekolahnya dulu. Ternyata ia memang sangat cerdas, menguasai 4 bahasa, dan ingatannya sangat bagus. Itu semua adalah bukti tambahan bahwa Dreyfus punya motif dan skill yang tepat untuk menjadi agen intelijen asing.

Dreyfus akhirnya digelandang ke depan pengadilan militer, dan dinyatakan terbukti dengan meyakinkan bersalah telah menjadi mata-mata. Di depan publik, lencananya dilucuti, kancing baju dicabut, pedang militernya dipatahkan. Peristiwa ini dikenang sebagai "Degradation of Dreyfus". Saat diarak oleh massa yang menghujatnya, Dreyfus berteriak: "Saya bersumpah saya tidak bersalah, saya selalu mengabdi pada negara, Hidup Perancis. Hidup Angkatan Darat". Tapi semua orang tidak peduli pada teriakannya. Dreyfus divonis penjara seumur hidup di Devil's Island, pada tanggal 5 Januari 1895.

Mengapa orang pintar sekalipun dan berwenang di Perancis di masa itu begitu yakin bahwa Dreyfus bersalah? Padahal beberapa tahun kemudian Dreyfus dibebaskan dari penjara, karena penyelidikan lanjutan yang seksama berhasil mendapatkan bukti, bahwa bukan Dreyfus yang bersalah tapi orang lain.

Para sejarawan di kemudian hari meyakini bahwa Dreyfus dinyatakan bersalah karena ia menjadi korban dari sebuah fenomena yang disebut Motivated Reasoning, yaitu sebuah penalaran yang nampak sangat logis dan rasional, padahal semua itu hanyalah upaya 'mencari pembenaran' atas suatu ide atau pemikiran, atau kepercayaan, atau keyakinan yang telah diyakini sebelumnya terutama untuk waktu yang panjang sekali, bahkan turun-temurun.

Hasil dari motivated reasoning ini mengerikan. Mereka yang "kerasukan" motivated reasoning ini amat termotivasi untuk menyerang ide, pemikiran, kepercayaan, atau keyakinan yang bertentangan dengan apa yang sudah diyakininya dengan mendalam dan untuk waktu yang lama. Gara-gara itu, sikap seseorang bisa mengeras dalam soal pro/anti partai politik tertentu, negara tertentu, bangsa tertentu, atau tokoh tertentu. Apa pun pendapat orang lain akan nampak salah. Mereka bahkan mampu menemukan 1000 "bukti" untuk membenarkan sikap itu.

Konflik Israel-Palestina adalah konflik yang selalu berulang, bahkan tiap tahun atau tiap musim tertentu berulang. Setiap konflik itu memanas, Indonesia pun ikut memanas. Apakah dampaknya baik bagi Indonesia? Lihat tulisan saya sebelumnya mengenai ini di sini

Tulisan atau opini yang tersebar dari para ahli politik, sosial, militer, ekonomi, atau agama, dan lain-lain mengenai konflik ini sudah tak terhitung banyaknya. Namun bisa dipastikan sangat jarang opini dari sudut pandang psikologi, apalagi dari sudut pandang neuroscience. Apa kata neuroscience mengenai konflik ini? Tentu kita ingin tahu, apalagi kita tahu setiap konflik ini memanas, politikus, atau pengambil kebijakan publik pun ikut berperan membuat suasana tambah panas. Itu tak terkecuali para penceramah agama dan para pengumpul donasi yang hasilnya apakah diberikan dengan tepat ke korban yaitu warga Palestina atau tidak.

Bagaimana cara kita melihat konflik ini dari kacamata neuroscience? Saya berikan cara terpraktis, yaitu dengan menggunakan World Happiness Report (WHR), karena report yang diterbitkan oleh PBB tiap tahun ini disusun oleh para neuroscienctists dan para ahli lain seperti dari bidang positive psychology, kebijakan publik, ekonomi, dan lain-lain (lihat tulisan saya sebelumnya di sini).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN