Mohon tunggu...
M. Jojo Rahardjo
M. Jojo Rahardjo Mohon Tunggu... Maksimalkan fungsi otak hanya dalam hitungan hari.

Pakar neuroscience mendefinisikan positivity: "Sebuah kondisi di otak di mana otak bekerja maksimal, sehingga otak lebih cerdas, kreatif, inovatif, analitis, mampu memecahkan masalah, tahan terhadap tekanan dan mudah lepas dari depresi, fisik lebih segar, immune system membaik, dan lebih cenderung berbuat kebajikan". ______________________________________________________________________________ Tulisan M. Jojo Rahardjo tentang positivity atau positive psychology bisa dibaca juga di website "Membangun Positivity".

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Jangan Panik karena Riset ITB soal Tsunami, Jangan Lupa Mitigasi!

27 September 2020   11:45 Diperbarui: 27 September 2020   15:10 51 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jangan Panik karena Riset ITB soal Tsunami, Jangan Lupa Mitigasi!
tangkapan layar metrotv

Beberapa hari terakhir ini, media cetak, elektronik, online, dan media sosial ramai mengulas apa yang disampaikan dari riset ITB tentang potensi tsunami yang akan menghantam wilayah selatan Pulau Jawa. Nampaknya dari berita yang beredar, Riset ITB ini lebih menonjolkan potensi tsunami besar (hingga 20 meter), padahal ada potensi gempa besar juga untuk seluruh wilayah Jawa dari sumber gempa dan tsunami yang sama di selatan pulau Jawa ( sumber ).

Berdasarkan riset para ahli geologi dan aktivis kebencanaan ditemukan siklus gempa dan tsunami besar di beberapa tempat di Indonesia. Selain Aceh (2004) dan Palu (2018) yang sudah terjadi, masih ada beberapa wilayah lain yang terancam gempa & tsunami besar. Riset yang baru-baru ini dikerjakan oleh ITB adalah salah satu peringatan yang sekali lagi diberikan oleh para ahli geologi.

Jadi para ahli geologi sebenarnya sudah mengingatkan soal ini, bahkan sudah bertahun-tahun. Namun sebelum sempat gerakan mitigasi bencana digiatkan, gempa sudah terjadi di beberapa tempat. Padahal mitigasi penting untuk mengurangi risiko korban dan risiko kerugian.

Untungnya pemerintah Jokowi cukup tanggap pada potensi bencana yang berasal dari tumbukan lempeng tektonik ini. Pemerintah tahun 2019 lalu sudah menetapkan anggaran mitigasi bencana sebesar 15 triliun. Anggaran ini naik 2 kali lipat dari tahun sebelumnya ( https://www.dw.com/id/anggaran-mitigasi-bencana-2019-naik-dua-kali-lipat/a-46995847 ).

Apakah besar anggaran ini mencukupi? Para ahli tinggal menghitung dengan berdasarkan konsep yang ditawarkan oleh UN-Ocha dan UNDP yang menetapkan bahwa setiap 1 dollar yang diinvestasikan untuk kegiatan mitigasi akan menyelamatkan 7 dollar saat penanggulangan bencana. "Every 1 dollar spent on preparedness saves 7 dollars in emergency response. Act Now, Save Later!" demikian bunyi tagline kampanye mereka ( baca: ini ).

Inilah beberapa lesson learned dari bencana gempa dan tsunami di Aceh dan Palu, juga beberapa wilayah lain di Indonesia:

  1. Bantuan kepada korban, baru bisa datang setelah berhari-hari bencana terjadi. 
  2. Sebagaimana di Jepang, negeri yang sering sekali dilanda gempa dan tsunami memberi pelajaran penting, mereka yang selamat adalah mereka yang mampu menolong dirinya sendiri atau ditolong oleh orang-orang yang berada di sekitar mereka. Tim SAR tentu bisa menolong, tapi peran untuk memberi keselamatan lebih besar diberikan oleh orang-orang di sekitar.
  3. Kebanyakan rumah biasa (hingga 3 lantai) dibangun tanpa memenuhi standar tahan gempa besar. Sehingga korban akan banyak di rumah-rumah biasa ini.
  4. Jalan-jalan terputus.
  5. Listrik terputus.
  6. Sistem komunikasi hancur.
  7. Telpon selular tak bisa berfungsi.
  8. BBM menghilang, karena stasiun pompa BBM tak bisa dioperasikan.
  9. Rumah sakit tidak bisa beroperasi maksimal, karena gedungnya runtuh, listrik terbatas, obat-obatan tak mencukupi, dan lain-lain.
  10. Pemerintahan (daerah) lumpuh.
  11. Banyak korban tewas disebabkan karena korban luka tak tertolong selama berhari-hari. Juga banyak yang tewas karena penyakit yang biasa muncul di wilayah bencana.
  12. Anak-anak dan kaum perempuan paling terdampak saat terjadi bencana, karena memiliki kebutuhan khusus.
  13. Kelurahan sebaiknya menjadi pusat penanggulanan bencana, sehingga memiliki gudang makanan, minuman, P3K, obat-obatan, kebutuhan perempuan dan anak-anak (ini setidaknya untuk masa 1 minggu darurat). Jadi kelurahan juga harus memiliki alat komunikasi radio, dan alat pembangkit listrik beserta BBMnya.
  14. Sistem peringatan dini harus sering dievaluasi atau dibuat simulasinya.
  15. Rambu evakuasi harus jelas.

Sedangkan ini yang harus disiapkan oleh setiap individu yang tinggal di wilayah yang berpotensi gempa besar dan tsunami.

  1. Punya tas atau ransel yang berisi: 'makanan &  minuman yang bisa disimpan lama'. Juga berisi P3K, ditambah obat-obatan lain yang dibutuhkan di masa bencana. Silahkan googling tentang apa saja isi tas atau ransel ini.
  2. Memperbaiki kekuatan rumah yang kita tinggali sekarang atau tempat kita beraktivitas (tempat usaha, kantor, sekolah, dll). Ini bukan berarti merombak total rumah yang ada, tetapi hanya menambah tiang atau menambah tulang. Cara memperkuat rumah agar tahan gempa ini bisa dicari di Youtube.
  3. Jika punya lemari besar atau perabot besar, pastikan lemari atau perabot itu tidak terlempar ke arah anda saat terjadi gempa besar. Demikian juga benda-benda berat atau mudah pecah seperti cermin, benda terbuat dari kaca dan lain-lain.
  4. Pastikan juga kusen (rangka) pintu kamar mandi, kusen pintu untuk keluar dari rumah tidak melengkung sehingga pintu menjadi macet saat terjadi gempa.
  5. Segera setelah terjadi bencana gempa, pusat kumpul yang pertama adalah sebaiknya di kelurahan, agar nama kita tercatat di sana. Ini mengingat saat terjadi gempa mungkin kita sedang berada di tempat terpisah dengan anggota keluarga yang lain.
  6. Menghapal rambu-rambu evakuasi yang sudah dibuat pemerintah.
  7. Saling mengingatkan dengan orang lain tentang apa yang harus disiapkan sebelum bencana gempa dan tsunami besar datang.

M. Jojo Rahardjo

Pemerhati kebencanaan

referensi

VIDEO PILIHAN